Novel Online: Kakak Kelas dari Mimpiku (Bab 4)
Sandy pikir keputusannya untuk kabur kemarin sore sudah benar. Namun, dia meremehkan kegigihan seorang Natha. Menyadari suratnya diabaikan, Ketua OSIS itu memilih mengambil tindakan yang lebih agresif.
Pada hari ketiga MPLS, saat jam istirahat baru saja dimulai, ketenangan Sandy kembali terusik. Seorang cowok berbadan gempal dengan ban TATIB di lengannya tiba-tiba berdiri tegak di depan meja Sandy. Nama di dadanya tertulis Bimo, salah satu panitia MPLS yang terkenal paling galak se-antero sekolah.
"Sandy Senara? Ikut saya ke ruang OSIS sekarang," ucap Bimo tanpa basa-basi.
"Maaf, Kak. Ada apa, ya? Rasanya saya nggak bikin salah apa-apa," jawab Sandy dengan suara yang sedikit gemetar.
Ruang OSIS masih menjadi tempat yang paling Sandy hindari. Kalau bisa, seumur hidup dia tidak mau menginjakkan kaki ke sana.
Bimo menghela napas, dia sudah menduga akan mendapat penolakan. Namun Bimo tidak kehabisan akal. Dengan cepat, dia menoleh ke arah pintu kelas dan melambaikan tangan memanggil bantuan. Alya melangkah masuk dengan langkah gemulai dan senyum manisnya.
"Aduh, Sandy sayang, jangan keras kepala deh. Yuk, ikut kita sebentar."
Alya memang tersenyum ramah, tapi tangannya dengan cekatan langsung merangkul erat lengan Sandy dan menariknya untuk berdiri.
"Eh? Tapi, Kak..."
"Nggak ada tapi-tapi. Ada dokumen administrasi MPLS yang belum kamu isi lengkap. Harus diselesaikan sekarang juga."
Bimo segera memberi alasan logis agar teman-teman sekelas Sandy tidak curiga.
Melihat Sandy yang dikepung dua panitia MPLS, Bianca, Keira, dan Farel hanya bisa menatap tak berdaya. Mau tidak mau, Sandy terpaksa melangkah mengikuti Bimo dan Alya, membelah koridor sekolah yang sedang ramai-ramainya.
Sepanjang jalan, Sandy bisa merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Bisikan-bisikan penasaran dari murid lain langsung berdengung di kanan-kirinya.
Langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kayu bercat cokelat tua dengan papan nama putih bertuliskan "RUANG OSIS". Bimo membukakan pintu, sementara Alya memberikan dorongan pelan di punggung Sandy agar melangkah masuk. Begitu Sandy berhasil menjejakkan kaki di dalam, pintu di belakangnya langsung ditutup rapat oleh Bimo dari luar.
Sandy berbalik dengan panik, memandangi daun pintu yang sudah tertutup rapat. Dia ketakutan karena mengira dirinya sengaja dikunci di dalam.
Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar dari balik punggungnya. "Kamu sengaja menantangku dengan tidak datang kemarin siang, Sandy?"
Sandy mengenali suara itu. Dia mematung di tempat, mendadak merasa takut untuk berbalik dan menghadapi sang pemilik suara. Namun tak lama, terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat. Mau tidak mau, Sandy membalikkan badannya.
Di hadapannya, Natha sedang berjalan tenang ke arahnya. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Sandy. Sandy yang tidak berani menatap langsung mata sang Ketua OSIS memilih untuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Saat itulah, tubuh Sandy seketika menegang.
Dia kenal tempat ini. Beberapa kali Sandy pernah mimpi berada di sana. Mata Sandy bergerak panik, mulai dari meja panjang di dekat jendela, ke papan tulis di depan pintu, lalu berhenti tepat pada sosok cowok yang kini berdiri beberapa langkah saja di depannya.
Natha tersenyum tipis. Kemudian, dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Sandy. "Halo. Aku Natha. Maaf kalau membuatmu takut. Akhirnya kita bisa berbicara berdua. Aku sudah cukup lama mencarimu.”
Deg!
Jantung Sandy berdebar semakin kencang. Dia kembali teringat mimpinya di malam sebelum hari pertama MPLS. Kalimat itu, tatapan itu, dan posisi tangan yang terulur itu... semuanya sama persis dengan kejadian di dalam mimpi!
Rasa tidak percaya dan penasaran yang membuncah di dada Sandy seketika mengalahkan rasa takutnya. Dia pun memutuskan untuk menguji situasi tidak masuk akal ini. Sandy mengajukan pertanyaan yang sama persis dengan dialog di mimpinya.
"Kita kenal?”
"Belum."
Jawaban itu pun sama. Tangan Sandy mendadak gemetar.
“Kalau begitu kenapa mencariku?” tanya Sandy dengan suara yang sedikit bergetar.
Mata Natha sempat melebar sekejap setelah mendengar pertanyaan itu. Ada kilatan keterkejutan di sana. Namun Sandy tidak menyadarinya. Kemarin lusa, Sandy terbangun dari mimpi tepat di momen ini. Kini, dia berdiri dengan rasa penasaran, menunggu kelanjutan jawaban Natha di dunia nyata.
Natha kembali tersenyum. “Karena kamu adalah orang yang bisa membantuku.”
“Membantu apa?” tanya Sandy semakin ingin tahu.
Namun Natha tidak langsung menjawab. Dia melepas jabat tangan mereka lalu berdeham pelan, sengaja menggantung kalimatnya.
"Mulai hari ini, sepulang sekolah, kamu mendapat tugas untuk membantu Alya mengurus administrasi OSIS."
Sandy terkejut. Setelah semua kejadian aneh selama beberapa hari terakhir, jawaban itu adalah hal terakhir yang dia duga akan keluar dari mulut Natha. Dia pun spontan mengajukan protes.
"Hah? Tapi saya kan bukan pengurus OSIS, Kak.”
"Ini hukuman karena tadi pagi kamu datang terlambat."
Sandy seketika bungkam. Dia tidak bisa mengelak karena tadi pagi dia memang bangun kesiangan dan datang sedikit terlambat sampai di gerbang sekolah.
Melihat Sandy yang tidak berkutik, Natha menambahkan, ”Okey, dari nanti siang sampai hari terakhir MPLS, setiap jam dua kamu harus sudah ada di ruangan ini.”
Sandy hanya mengangguk pasrah. “Baik, Kak. Terus soal dokumen administrasi MPLS yang belum saya isi lengkap gimana?”
“Dokumen apa?” Natha menatap bingung.
“Kata Kak Bimo tadi begitu.”
Akhirnya Natha mengerti. Ternyata itu akal-akalan Bimo untuk membawa Sandy ke ruang OSIS. “Oh… Kayanya Bimo salah kasih informasi.”
Belum sempat Sandy menanggapi, bel masuk berbunyi nyaring. Sandy menarik napas lega karena merasa terselamatkan.
"Kalau gitu, saya permisi kembali ke kelas dulu, Kak," pamit Sandy buru-buru tanpa menunggu respons Natha lagi.
Gadis itu berbalik dengan cepat, membuka pintu ruang OSIS yang ternyata tidak terkunci, lalu setengah berlari menyusuri koridor yang mulai sepi. Namun, belum jauh dia melangkah, tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tangan kanannya dari belakang.
Sandy kaget dan menoleh, ternyata Natha lagi. Tanpa ekspresi, cowok itu menyerahkan sebungkus roti dan sebotol air mineral ke tangan Sandy. “Ini buat kamu. Kamu tadi belum sempat jajan, kan.”
Setelah itu, Natha berbalik dan kembali masuk ke dalam ruang OSIS.
Sandy menatap bungkusan roti dan botol air di tangannya. Tepat saat itu, perutnya tiba-tiba berbunyi. Tanpa memperdulikan gengsi, Sandy pun membuka plastik penutup roti dan memakannya dengan lahap sambil berjalan cepat menuju kelas.
Meskipun kakinya terus melangkah, debaran di dada Sandy belum juga hilang. Dia tidak mengerti dengan Ketua OSIS-nya itu. Terkadang Natha tampak begitu baik dan perhatian, tapi tak jarang cowok itu terlihat dingin dan menyeramkan.
Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Sandy saat ini. Bagaimana mungkin tata letak ruang OSIS dan percakapan mereka tadi bisa sama persis seperti yang ada di mimpinya?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya? Apa sekarang Sandy bisa melihat masa depan lewat mimpi?
Baca bab selanjutnya >>>
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 4 cerita ini.
Kakak Kelas dari Mimpiku adalah novel online saya yang tayang di Goodnovel. Novel ini statusnya masih on going. Masih sangat jauh menuju tamat karena direncanakan sampai 150 bab. Hahahha... Panjang sekali ya.
Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel di Goodnovel bisa dibaca gratis dengan menonton iklan. Satu hari dibatasi 10 bab kalau tidak salah. Namun saya tetap mengupload di blog ini sampai bab 7 saja, ya.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya


Widih ah. Belum pernah berada di ruangan itu, tapi memimpikannya. Bersama kakak ketua OSIS yang biasanya keren itu. Wah... Shandy. Mau ngomong mimpi apa semalam? Nyatanya kamu memang memimpikan Kak Natha. Hahaha....
BalasHapusKalo kamu bisa mewujudkan mimpi, kira - kira apa yang akan kamu impikan?
BalasHapusKalo membaca cerita tentang kisah remaja atau kisah sekolah itu seru, jadi sedikit nostalgia masa - masa sekolah, kayaknya jika kisah masa sekolah kita ditulis kembali dalam sebuah novel, bakal jadi berapa halaman yaaa?
Hmm bisa sama persis gitu ya. Apa yang dilihat dan didengar Sandy dalam mimpi? Wah klo beneran bisa melihat masa depan, jadi seru dong hidup Sandy. Apa bisa dibilang Sandy ini anak Indigo?
BalasHapusNatha ini bikin penasaran, kadang dingin dan menyeramkan, tapi tiba-tiba ngasih roti karena tahu Sandy belum jajan. Dan reaksi matanya yang sempat melebar pas Sandy mengulang pertanyaan dari mimpi itu, aku curiga dia juga tahu sesuatu. Jangan-jangan Natha juga bermimpi hal yang sama? Lanjut, Kak!
BalasHapusKeterlaluan Natha. Sandy juga sebagai anak jaman now ma ih aja dikerjain
BalasHapusKalau jaman saya, lawan tuh kakak kelas yg begitu. Pas saya jadi pengurus OSIS juga justru saya ngerjain teman² OSIS dan MPK yang suka resek ke anak baru
Natha ini aslinya dingin tapi perhatian banget, tipe-tipe cowok tsundere yang bikin pembaca ikutan deg-degan. Pantesan aja Sandy sampai salah tingkah pas dikasih roti, perut lapar mana bisa diajak kompromi ya kan.
BalasHapusPlot soal mimpi yang jadi kenyataan itu bener-bener bikin mikir keras, apakah ini semacam takdir atau ada misteri lain di balik masa lalu mereka. Penasaran banget pengen tahu kelanjutan interaksi mereka berdua di ruang OSIS pada bab berikutnya.
Sambil ngopi, kita coba pahami satu hal: ternyata yang bikin deg-degan itu bukan cuma jatuh cinta, tetapi juga ketika seseorang yang baru kita kenal justru terasa seperti sudah lama hadir dalam hidup kita. Bahkan, sampai muncul di mimpi.
BalasHapusNatha ini menarik. Sikapnya kadang dingin seperti kopi yang kelupaan diminum, tetapi sesekali perhatiannya muncul diam-diam. Baru saja bikin Sandy ketar-ketir di ruang OSIS, eh, keluarnya malah dibekali roti dan air mineral. Ini Ketua OSIS atau layanan antar perhatian?
Tapi, bagian yang paling bikin penasaran adalah percakapan mereka yang sama persis dengan mimpi Sandy. Kalau cuma soal roti, mungkin Sandy bisa dibilang lapar. Namun, kalau sampai dialog dan suasana ruangannya sama, ini jelas bukan perkara perut semata.
Jangan-jangan, ada sesuatu yang belum Sandy pahami tentang mimpinya. Atau justru Natha menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan administrasi OSIS?
Yah, namanya juga hidup. Kadang kita butuh kopi untuk tetap terjaga, tetapi Sandy malah harus mencari tahu kenapa mimpinya terasa seperti cuplikan masa depan.
Lanjut dulu, deh. Kopinya belum habis, rasa penasarannya juga belum tuntas.
Kalau urusan laper mah, ga ada gengsi dah, terlebih itu roti depan mata. Memang dah Sandy, hehe.
BalasHapusSoalnya daku pun begitu juga, kalau urusan lapar ya, sikat aja dulu makanan di depan. Urusan yang lain belakangan 😁😁
Wkwkwk jawabannya sungguh di luar nurul, ya, Mbak. Kupikir membantu dalam hal apa gitu. Hihi. Makin menarik nih ceritanya
BalasHapusPenasaran Natha minta bantuan apaan ke Sandy sampe segitunya ktmu. Di ruang OSIS, berdua lagi. Curiga ada udang di balik bakwan deh. Wkwkkw
BalasHapusGa sabar nunggu kelanjutannya nih. Apalagi adegan nyatanya sama persis dgn mimpi Sandy. Akankah itu kebetulan? Atau pertanda kalo Sandy bs melihat masa depan? Anak IndiHome gitu maksudnya hehehe
Tambah penasaran jadinya, apakah ini precognitive dream ya? Kira-kira Nathan ada masalah apa ya, sampai perlu bantuan Sandy untuk menyelesaikannya. Ditunggu kelanjutannya kak.
BalasHapusNah, tanda tanya Sandy itu kurleb sama kayak aku selaku pembaca sih. Menarik makin greget dan Natha ini beneran selalu paham sikon Sandy yaaa, terkait lapar pun. Cowok green flag bener hehehe.
BalasHapusLanjutkan part berikutnya Mbak. Romance anak SMA ini selalu bikin pembaca bersemangat dan penasaran sama endingnya.
nah ini endingnya kenapa bisa sama dengan mimpi Sandy, apakah mungkin ini dejavu atau gimana nih
BalasHapuskalau aku jadi Sandy pasti juga berpikir, "kok bisa ya"
cerita anak remaja, membaca ini jadi keinget masa-masa sekolah dulu nih.
biasanya anak Osis ini terlihat cool gitu, apalagi kalau ketuanya cowok cool :D
Hmm, apa sandy jadi pembaca mimpi yang bisa melihat kejadian di masa mendatang melalui mimpi. Ngeri juga kalau begitu ya, kalau kejadian bagus hepi aja, tapi kalau kejadian buruk kok ngeri-ngeri sedap jadinya
BalasHapusudah deh kalau kata saya sih Natha dan Sandy jadian aja,,,,biar makin seru itu ceritanya. Dan sepertinya memang Natha suka seh sama Sandy hehehe....Sandy nanti mimpi lagi deh,,,saya penasaran apakah nanti sama lagi kejadian di mimpi Sandy dengan kenyataannya? lets see
BalasHapusMbaaak saat dikasih roti sama air itu lho kok mirip saat kakak kelasku ngasihkan ke aku pas mau naik ke lantai 2 (ruang lab), haha
BalasHapusAku baca ceritanya jadi sedikit bisa menggambarkan masa laluku dengan kakak kelas idamanku yang hanya bisa dingat saja, gak bisa dimiliki hahaha
Dejavu kah?
BalasHapusKalau mimpi, rasa yang tertinggal begitu dalam dan detil, kan ya??
Aku jadi inget dunia paralel. Ada mimpi di dalam mimpi, mirip inception.
Getting more excited~~~
Ga sabar nunggu Natha dan akal–akalannya menarik perhatian Sandy.
Eitsss, Natha ini mengharapan bantuan apa sih dari Sandy???? Sampe maksa gitu dahhh. Wkwkw..
BalasHapusKadang kalau baca gini, aku jadi geregetan aja gitu sama si Natha. Mbok ya bilang gitu dia butuh bantuan apa. Lha mendadak dijadikan anggota Osis. Mana si Sandy kan bukan Osis ya..
Cihuyy, deg-degan karena penasaran siapa Natha atau ada cem²an antara dia sama Natha ya.. 😍😍
Please bikin ceritanya jadi sci fi Kak Achi. Wkwkwk. Biarin Sandy ternyata punya kekuatan super yang bisa menerawang dan pindah waktu. (Kebanyakan nonton drama nih aku)
BalasHapusDipikir2 kembali malah si Natha ini jadi kelihatan nggak profesional wkwk. Ngapain dia manggil2 siswa baru kek gitu, nggak jelas dan bikin gemes. Aku jadi Sandy mungkin nglawan yaa. Dikiranya dia paling sok cakep apa =))
BalasHapusNaaahh, problemnya emang yang menjadi misteri soal mimpi itu. Apa itu masa depan, sekadar de ja vu?
Tapi masih bingung soal mamanya Sandy yang sepertinya mengetahui sesuatu.Hmmm, ditunggu lanjutannya :D