Cerpen: Sungai Ayung Punya Cerita
"Jangan melamun!” Suara itu datang tiba-tiba, diiringi tepukan ringan di bahuku. Aku menoleh dan melihat seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di belakangku dengan senyum jahil. Beliau adalah Pak Budi, salah satu traveller senior yang tergabung di komunitas kami. “Saya tidak melamun, Pak,” jawabku sambil tersipu malu. Entah kenapa aku merasa malu, seolah-olah Pak Budi memergokiku melakukan kesalahan. Sedari tadi aku memang sedang mengamati para panitia acara di meja resepsionis. Sebetulnya ada satu orang yang menarik perhatianku di antara mereka. Seseorang yang selama ini hanya kukagumi dari kejauhan. Seseorang yang selalu aku tinggal kabur setiap kali dia berada di sekitarku. Aku belum cukup berani berinteraksi dengannya. Aku takut perasaanku diketahuinya. Karena ini rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang rahasia ini. Jadi aku panik ketika tiba-tiba Pak Budi menyapaku yang sedang asyik memandanginya. “Baiklah kalau tidak melamun.” Pak Budi menimpali samb...