Novel Online: Kakak Kelas dari Mimpiku (Bab 3)
Hari kedua MPLS berjalan tidak kalah melelahkan dari hari pertama. Begitu bel istirahat berbunyi, Sandy menarik napas lega.
“Ke kantin, yuk!” ajaknya kepada Bianca, Keira dan Farel.
Bianca dan Keira setuju, tapi Farel tidak bisa ikut.
“Sorry, ya, gaes. Aku sudah ada janji sama Rio.”
Baru saja Farel hendak beranjak dari kursinya, suasana di depan kelas mendadak ramai.
Seorang siswi senior berambut ikal sebahu dan berwajah cantik bak member girlband Korea berdiri di ambang pintu. Matanya menatap ke sana kemari seperti sedang mencari seseorang.
Kemudian dia melangkah memasuki kelas, membuat semua mata yang ada di sana menatap penasaran.
Begitu sampai di samping meja Sandy, senior itu tersenyum, lalu mengulurkan tangan.
“Kamu Sandy, kan? Kenalin, aku Alya, sekretaris OSIS sekaligus sahabat Natha.”
Sandy tersentak. Dia buru-buru berdiri dan membalas uluran tangan itu dengan wajah bingung.
“Iya, saya Sandy, Kak. Salam kenal”
Namun alih-alih langsung melepas jabat tangan mereka, Alya justru membalik telapak tangan Sandy lalu meletakkan sebuah origami bangau berwarna putih di atasnya.
"Ini. Dari Ketua OSIS."
Teman-teman sekelas Sandy yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung bersorak-sorai. Siulan dan godaan bersahutan di dalam kelas.
Wajah Sandy memerah. Dengan panik dia langsung menyembunyikan origami itu ke dalam saku seragamnya.
Alya tertawa melihat reaksinya.
"Hari gini masih kirim surat. Jadul banget ya si Natha. Kayak tahun sembilan puluhan aja."
Sandy ingin sekali ikut tertawa, tapi sekuat tenaga ditahannya demi menjaga kesopanan.
"Ya sudah. Jangan lupa dibaca, ya."
Setelah berpamitan, Alya pun pergi meninggalkan kelas. Begitu sosoknya menghilang, Bianca langsung memekik heboh.
"Bilang ini mimpi! Aku nggak percaya kamu dikirimi surat cinta sama Kak Natha.”
"Bentuk bangau lagi! Romantis banget!" timpal Keira dengan mata berbinar.
Farel hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka.
"Belum tentu surat cinta, kan?"
Komentar Farel langsung mendapat tatapan tajam dari Bianca.
“Kamu nggak jadi pergi sama Rio? Merusak suasana aja.”
Rio yang berdiri di dekat mereka langsung menyahut, “Besok aja, deh. Aku penasaran sama isi suratnya.”
Teman-teman lain yang juga penasaran ikut berkumpul di sekitar meja Sandy. Melihat keadaan yang semakin ramai, Sandy buru-buru bangkit dari kursinya.
“Mau ke mana, San?” tanya Keira penasaran.
“Ke Kantin.”
Bianca, Keira, Farel, dan Rio pun langsung mengikuti Sandy ke kantin.
Begitu duduk di sudut kantin yang sudah tidak terlalu ramai, Bianca menyuarakan rasa penasarannya
“Buruan buka suratnya, San. Udah penasaran, nih.”
Ketiga teman lainnya turut mendukung.
"Malu, ih," tolak Sandy ragu-ragu.
"Udah, buka aja. Emang kamu nggak penasaran isinya apaan?" Rio ikut memprovokasi dengan senyum jahil.
Karena terus-terusan didesak, Sandy akhirnya mengalah. Dengan tangan sedikit gemetar, dia merogoh saku seragam dan mengeluarkan origami bangau tersebut.
Dia membuka lipatan kertasnya dengan sangat hati-hati agar tidak robek.
Di dalam kertas putih itu, hanya ada dua kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas.
SEPULANG SEKOLAH DATANGLAH KE RUANG OSIS. AKU TUNGGU!
Sandy menahan napas membaca tulisan itu. Jantungnya kembali berdegup tak karuan.
"Wuih, dipanggil ke ruang OSIS!" seru Farel setelah ikut mengintip dari balik bahu Sandy.
"Mau ditembak langsung nih kayaknya!" goda Bianca.
“Ngawur!” jawab Sandy kesal.
Sama seperti teman-temannya yang sibuk berspekulasi, pikiran Sandy pun sibuk memikirkan alasan kenapa Natha memanggilnya. Dan yang lebih penting, haruskah dia datang?
***
Bunyi bel pulang sekolah biasanya menjadi suara paling dinanti oleh Sandy. Namun siang itu, suara itu justru terdengar menyeramkan.
Sembari merapikan tasnya, potongan kalimat di dalam kertas origami bangau itu kembali terbayang di benaknya.
Sandy meraba saku seragamnya. Ada dorongan kuat yang menyuruhnya untuk melangkah ke ruang OSIS, tetapi rasa takut di dalam dadanya jauh lebih besar.
Pendekatan Natha yang terlalu tiba-tiba membuat Sandy merasa terintimidasi.
Akhirnya Sandy memutuskan untuk pulang saja.
Melihat sahabatnya melangkah menuju gerbang alih-alih ke ruang OSIS, Keira dan Bianca langsung menegurnya.
“Kamu mau ke mana, San? Nggak ke ruang OSIS?” tanya Keira.
"Nggak, aku nggak mau ke sana," gumam Sandy memantapkan hati.
“Lho, kenapa?” Bianca mengejar Sandy yang berjalan semakin cepat.
Tanpa memedulikan panggilan Bianca, Sandy berlari keluar gerbang sekolah dan menyetop angkutan umum yang lewat di depan sana. Dia harus segera pergi dari area sekolah.
***
Sesampainya di rumah, Sandy langsung melempar sepatu ke rak dan melangkah tergesa-gesa mencari mamanya.
“Ma… Mama di mana?” teriak Sandy.
“Mama di ruang kerja,” jawab Kanigara.
Sandy pun segera berlari menghampiri. Di ruang kerja, Sandy menemukan Kanigara sedang mengetik.
"Mama lagi apa?" tanya Sandy begitu memasuki ruangan.
Kanigara menoleh, lalu tersenyum lembut.
"Lagi ngelanjutin draf cerita anak yang baru. Gimana hari kedua MPLS-nya? Kok mukanya tegang begitu?"
Sandy langsung menjatuhkan diri di sofa di samping komputer mamanya. Tanpa membuang waktu, dia menumpahkan semua kejadian aneh yang dialaminya sejak kemarin.
“Mama ingat kan soal mimpiku yang berganti sejak aku bangun dari koma?”
Kanigara mengangguk, lalu memutar kursi menghadap putrinya.
“Nah, kemarin aku ketemu cowok yang mirip banget sama yang di mimpiku itu. Dia Ketua OSIS di sekolahku.”
Ekspresi Kanigara mendadak berubah. Wajahnya menegang.
“Kamu yakin?”
“Yakin banget, Ma. Mana dia aneh. Masa tadi siang dia ngirim surat buat aku yang isinya nyuruh nemuin dia di ruang OSIS.”
“Terus kamu temui?” tanya Kinagara dengan nada menyelidik.
“Enggak, lha. Aku takut.”
Kanigara hanya tersenyum. Setelah itu, Sandy terus bercerita tentang banyak hal, sebelum akhirnya naik ke kamarnya.
***
Begitu Sandy sudah beranjak, Kanigara menarik napas panjang. Selama belasan tahun membesarkan Sandy, Kanigara tahu betul kebiasaan tidur putrinya. Sejak kecil, Sandy memang sering bermimpi dan selalu menceritakan semuanya pada dirinya.
Namun, Sandy belum pernah sekalipun memimpikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, apalagi orang-orang di sekitarnya.
Mimpi Sandy sejak dulu selalu sama. Tentang putri, ratu, dayang-dayang, dan kehidupan di sebuah kerajaan yang megah.
Perubahan pola mimpi itu saja sudah cukup membuat Kanigara khawatir. Ditambah cerita Sandy hari ini, hatinya menjadi lebih cemas.
Kanigara yakin, kemunculan pemuda dari mimpi Sandy di dunia nyata pasti bukan sekadar kebetulan biasa. Dia berharap kekhawatirannya salah, tapi Kanigara tidak bisa menepis keresahan di dadanya.
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 3 cerita ini.
Kakak Kelas dari Mimpiku adalah novel online saya yang tayang di Goodnovel. Novel ini statusnya masih on going. Masih sangat jauh menuju tamat karena direncanakan sampai 150 bab. Hahahha... Panjang sekali ya.
Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel di Goodnovel bisa dibaca gratis dengan menonton iklan. Satu hari dibatasi 10 bab kalau tidak salah. Namun saya tetap mengupload di blog ini sampai bab 7 saja, ya.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya


Wah, anak jaman now, masih kirim pesan dititip teman?
BalasHapusKirain titip pesan minta no wa
Haha....
Apa gak dibully tuh Sandy dan ketua OSIS, masih pakai kurir alias mak comblang buat kasih surat suratan... In this era gitu loh...
Lanjut ceritanya biar gak penasaran lagi
Ternyata ibunya Sandi pengarang ya?
Apa ini Ketua OSIS bukan tokoh buatan ibunya Sandy dalam salah satu ceritanya, mungkin?
Aiihhh, keren betul ceritanya Mbak. Kok aku merasa ini kayak genre fantasy magical ya. Huehehehe... Siapa sebenarnya sih Ketua Osis ini ya? Terus apa hubungannya antara ketua osis itu sama Sandy ini ya? Apa sesuatu di masa lalu mereka kah? Ahayyy, ku penisirin.. :D
BalasHapusPas baca bagian kasih surat-suratan tuh kok ya aku inget jaman-jaman cinta monyet. Mana pernah jadi perantara surat kawan yang lagi PDKT pula.. wkwkwkw.. :D
Yuhuu makin ciamik nih fiksi-fiksinyaaa!
BalasHapusBisa banget relatable dengan GenZ ataupun gen alpha ya.
Yang jelas, genre fiksi yang magical fantasy ini beneran efektif jadi hiburan bangettt
Namanya unik yaa, Kanigara dan ini malah female. Sandy juga bisa jadi anak cewkek maupun cowok. Bikin penasaran nih endingnya seperti apa, refresh pikiran dengan baca cerita anak sekolahan, berasa balik remaja.
BalasHapusKalau dideketin murid lain apalagi yang lumayan terkenal di sekolah jadi deg-degan.
Akhirnya bisa baca kelanjutannya, tapi malah tambah penasaran. Apakah Sandy dapat "warisan kepintaran" dari leluhurnya ya? jadi seperti bisa mengetahui hal akan terjadi di masa depan meskipun hanya lewat mimpi.
BalasHapusKeren juga nih Sandy ga datang begitu aja ke ruang OSIS, karena memang di satu sisi aneh aja gitu main datang ke sana hanya karena sebuah surat. Di sisi lain, mungkin ada rasa penasaran. Kalaupun mau datang ke sana, kudu sama temen deh, lebih aman.
BalasHapusWajar sih kalau takut, apalagi cowoknya misterius gitu ditambah sorotan seisi sekolah yang bikin salah tingkah.
BalasHapusTapi jujur, justru bagian akhir yang pas Mama Kanigara mulai cemas itu yang bikin penasaran setengah mati. Kok bisa cowok di mimpi pas koma tiba-tiba muncul di dunia nyata? Pasti ada rahasia besar di balik mimpi-mimpi itu. Bikin pengen buru-buru baca kelanjutannya.
Aduh, aku ikut deg-degan pas Alya nyerahin origami bangau itu terus anak sekelas langsung heboh 😆 Dan Sandy malah kabur pulang, wajar sih, siapa yang nggak keder dipanggil Ketua OSIS secara mendadak. Tapi reaksi Mamanya di akhir bikin penasaran, kayaknya beliau tahu sesuatu nih. Ditunggu bab berikutnya, Kak!
BalasHapusJujurly sempat bingung di awal baca, Sandy ini cowok atau cewek, ternyata cewek to, pantesan kok agak takut saat menerima surat. Eh tapi kalau di dunia nyata digituin juga penasaran dan ragu sih, aduh ada apa ya? menunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusWah apa ya sebenarnya maksud natha memanggil sandy ke ruang osis? Tapi aku juga setuju nih sandy nggak datang ruang osis karena bahaya kalau berduaan aja ntar ada setannya
BalasHapusKanigara yakin, kemunculan pemuda dari mimpi Sandy di dunia nyata pasti bukan sekadar kebetulan biasa! Acupuncture berpikir begitu. Ga mungkin kebetulan biasa nih. Pasti ada apa-apanya deh. Lanjutkan ceritanya
BalasHapusWah, ngapain kok dipanggil ke ruang OSIS? Mana cuma berdua pula. Mencurigakan, hahha. Jangan mau datang ah
BalasHapusWaaah mimpinya kok aneh gitu yak? Mana jadi nyata lagi. Kan biasanya mimpi tuh cuman kembang tidur. Masih untung kalo bs inget. Biasanya mah langsung hilang ditelan daki. Wkwk
BalasHapusPenasaran sih mimpinya kok bs senjata itu? Siapakah jadinya Natha? Masa dia reinkarnasi pangeran di sebuah kerajaan dalam mimpinya? Ga sabar nih nunggu kelanjutannya kak.
Nama mamanya unik sekali, Kanigara.
BalasHapusPenasaran kenapa kok emaknya nggak menganggap mimpi2 putrinya cuma bunga tidur, kok malah kek bagian itu dianggap dekat dengan realitas yaa. Hmmmm.
Apakah sebenarnya mamanya nih paham arti2 mimpi hehe random sekali yaa.
Tapi kalau jadi Sandy eike juga males lha nyemperin cowok, siapa yang butuh, kok nyuruh2 datangin hehe :D
Aduh kok males ya disuruh nyamperin cowo.. apa banget gitu heuheu.. btw salfok sama nama Kanigara. Kak Achi sesuka itu ya sama Jejepangan kayanya
BalasHapusAku bener-bener penasaran sama mimpinya Sandy deeh.. terkait Natha.
BalasHapusKenapa segitu traumanya yaa.. jangan-jangaan.. itu bikin Sandy sedih.
Jadi, karena uda tau melalui mimpi, Sandy memilh untuk gak melanjutkan hubungan ini. Mending ga kenal terlalu dalam, daripada merasakan sakit yang tak terlupakan.