The Morning We Meet Again


"Halo, Evelyn!"

Mendengar namanya disebut, Evelyn mau tak mau mengalihkan pandangan dari novel yang sedang dibacanya.

Dia mendongak dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapannya, sedikit menghalangi cahaya dari dinding kaca lebar yang membatasi ruang tunggu dengan landasan pacu.

Evelyn membisu. Matanya melebar beberapa saat sebelum akhirnya beralih menyapu ruang tunggu yang pagi itu begitu ramai dengan para penumpang yang menanti untuk terbang. Kentara sekali dia menghindari beradu mata dengan pria itu.

"Boleh aku duduk di sini?" Pria itu kembali berbicara. 

Tanpa menunggu jawaban, dia duduk di kursi kosong di samping Evelyn.

"Apa kabar?" lanjutnya kemudian.

Evelyn yang awalnya berusaha tidak mengacuhkan terpaksa bersuara.

"Baik."

Hanya itu yang keluar dari bibir tipis Evelyn. Dia kembali menatap novel di pangkuannya, berusaha mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyergap.

"Agatha Christie? Seleramu masih belum berubah."

Tampaknya pria itu tak menyerah untuk menarik perhatian Evelyn. Akhirnya Evelyn menghela napas dan menutup novel bersampul putih miliknya.

"Seperti yang kamu lihat. Aku tidak banyak berubah, termasuk selera membacaku."

Kalimat yang keluar dari mulut Evelyn bernada dingin, namun hatinya menghangat seiring beradunya kedua mata mereka. Warna coklat itu, warna yang sudah lama dia rindukan.

Senyum tersungging di bibir pria itu. Menampilkan sederet gigi putih nan rapi. Mata Evelyn memanas. Sudah dua tahun dia tidak melihat senyum hangat itu.

Apa arti senyum itu? 

Apakah dia sudah dimaafkan?

Pertanyaan itu menyeret Evelyn kembali ke pertemuan terakhir mereka dua tahun lalu, pada sebuah dini hari yang dingin dan basah karena hujan. Tepat dua bulan setelah Evelyn menghancurkan hatinya.

Ting tong…

Satu, dua, tiga, empat, lima, Evelyn terus menghitung. Pada hitungan kesebelas seberkas cahaya terang menyeruak dari celah pintu yang terbuka.

"Ada apa?"

Suara parau menyambutnya.

Apakah dia sakit?” batin Evelyn.

Rasa khawatir merayap di dadanya. Namun bukan pertanyaan itu yang harus dia sampaikan.

"Selamat ulang tahun, Bi. Maafkan aku."

Semenit berlalu. Tak ada jawaban dari balik pintu yang bahkan tidak terbuka sempurna. Sebuah rantai pengunci masih menahannya. Evelyn gentar. Akankah maafnya diterima jika pintu itu saja tidak lagi terbuka untuknya. 

"Pulanglah. Di luar dingin."

Pintu kembali tertutup. Membawa pergi cahaya yang sempat menerangi koridor apartemen yang remang itu. Evelyn mengerti, maafnya sudah terlambat.

"Evelyn! Hei!"

Lambaian tangan di depan wajah Evelyn membawanya kembali ke alam nyata. Tampaknya sudah cukup lama dia tertegun melamunkan masa lalunya dengan pria itu.

"Maaf. Aku sedikit melamun."

Evelyn salah tingkah. Sekali lagi dia membuang pandangannya. Namun tatapan mata itu berhenti di tempat yang salah. Benda berkilau di jari manis kiri pria itu menyita perhatiannya.

Cincin? Apakah dia sudah tidak sendiri?” Evelyn bergumam dalam hati.

Sejujurnya, bukan hal yang mustahil jika pria di hadapannya sudah mempunyai tambatan hati yang baru. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Mungkin, itu alasannya bisa menyapa Evelyn dengan begitu riang—karena luka-lukanya telah sembuh sempurna.

Seperti tahu arah tatapan Evelyn, pria itu buru-buru memindahkan tangan kirinya dari pangkuan, lalu beranjak berdiri.

"Aku permisi ke toilet sebentar. Boleh aku titip barang-barangku?" tanya pria itu sambil menunjuk ransel hitam dan tas kecil yang tergolek di atas bangku kosong di samping kanannya.

"Tentu saja," jawab Evelyn.

Pria itu beranjak pergi. Evelyn kembali membuka novelnya. Namun setelah membaca beberapa paragraf, dia kembali menutupnya. Bayangan cincin di jari manis pria itu tak kunjung lepas dari benaknya.

“Makasih, ya.” Suara itu kembali mengejutkan Evelyn untuk kesekian kalinya.

“Ah, i… iya. Nggak masalah,” jawab Evelyn tergagap.

“Aku duluan, ya. Pesawatku sudah mau berangkat,” pamit pria itu sembari menyampirkan ransel ke bahunya.

Evelyn mengangguk. Mulutnya kehilangan kata-kata.

Pria itu melambaikan tangan, tersenyum ramah, lalu beranjak pergi. Evelyn memandangi punggung itu sampai menghilang dari pandangan. Detik berikutnya dia baru sadar sebuah tas kecil masih tergolek di sampingnya.

Evelyn meraihnya dan berlari mengejar. Saat itulah sebuah buku catatan terjatuh dari kantong tas.  Tergeletak di lantai dengan posisi terbuka dan menampilkan sebuah foto yang terselip di sela-sela halamannya. 

Dia mengenali wajah-wajah yang tersenyum bahagia itu dan jantungnya mendadak berdegup kencang. Jemarinya perlahan bergerak mendekat, tapi seseorang mendahuluinya. Saat mengangkat wajah, Evelyn kembali menemukan mata cokelat milik pria itu—memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa kamu masih menyimpan foto kita?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Evelyn.

Sayangnya, pria di hadapannya hanya membisu. Tangannya meraih tas kecil di genggaman Evelyn, lalu memasukkan buku catatan itu ke dalamnya.

“Terima kasih.” 

Dia tersenyum, lalu berbalik dan melangkah menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan Evelyn.


Komentar

  1. Itu tas beneran punya dia? Jangan sampai merasa percaya diri nyimpan foto mereka, ternyata itu bukan tas dia. Hehe...
    Ya siapa tahu... Namanya juga ending tidak terduga
    Bikin penasaran kan ya jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya ya belum tentu punya dia walaupun dia yang bawa. Ya silahkan saja pembaca berpekulasi wkwkwkwk...

      Hapus
  2. Meskipun cuma secuil cerpen namun cukup mengusik rasa penasaranku ini mbaaa...ada ceita apa di masa lalu dan bagaimana kabarnya dimasa sekarang..banyak pertanyaan yang rasanya bikin gemes hahaha...aku jadi makin jatuh cinta deh baca cerpen2 mba asri ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak... Flash fiction gini emang sering menimbulkan rasa penasaran ya hehehe...

      Hapus
  3. Wadidawww susah move on ternyataaa yha.
    Ya semoga akan ada twist yg mengejutkan dari cerita ini
    karena penggambaran karakternya udah mayan kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga aku dapat wangsit buat meneruskan cerita ini jadi sesuatu yang lebih panjang ya :p

      Hapus
  4. Kok aku merasa nganu yaaa, hihihi.
    Pernah ada di masa itu soalnya. ketika gagal untuk move on dari seseorang, terus menyimpan foto bersamanya, dan meskipun sadar diri tak bisa menyatu dalam kehidupannya. Pernah beberapa kali bersua, bertegur sapa. Tapi pada akhirnya, kami mengambil jalan hidup yang berbeda. Begitulah, kalau takdir sudah bertitah, apa mau dikata.

    Eeeeh kok malah curcol wkwkwk

    BalasHapus
  5. Waduh Evelyn...
    Kemaren di ingeti sama Panji, sekarang sama cerpen
    Evelyn yang saya kenal orangnya cantik hahaha....
    "Evelin sedang ku terbitkan rindu
    Dari ceruk hati abu-abu
    Memahat erat wajahmu"
    Semoga ada lanjutannya

    BalasHapus
  6. Harapan Evelyn pasti melambung tinggi sekali. Apalagi, saat bertemu, si cowok tersenyum ramah. Tapi, Ev. Ketahuilah. Cincin di jari nggak serta-merta ada. Pasti ada yang menyematkan.

    Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan dari sebuah foto.

    BalasHapus
  7. kupikir ini sambungan novel yang kemarin ternyata ini cerpen yaa? tapi endingnya gantung jadi penasaran nih sama sosok pria yang tanpa nama itu

    BalasHapus
  8. Loh ternyata masih ada cinta di antara mereka. Hati2 loh bibit2 cinta ini kalo trs dipupuk malah jd cinta beneran dan ga mau move on.

    Anehnya, kok yg ga mau move on malah cowoknya. Kan biasanya di cwek.

    Sabar ya mbak Evelyn. Mgkn pria itu msh menyimpan cinta padamu. Meski sdh pakai cincin pernikahan, bukan berarti cinta pertama/cinta yg begitu membekas akan sirna.

    Ga sabar nunggu kelanjutannya nih.

    BalasHapus
  9. Ketemu sama mantan di tempat tidak terduga dan melihat di jari manis sang mantan sudah melingkar cincin, duh, pembaca gundah. Apakah lelaki tersebut sudah bertunangan atau menikah? Tetapi kenapa ada foto mereka berdua juga. Hualah, ikutan galau rasanya macem jadi Evelyn.

    Semoga sih berakhir happy ending yaaa. Soalnya kalau sad ending, kasian juga sama Evelyn.

    BalasHapus
  10. Nah ini jujur saya penasaran itu cincin pernikahan atau sekadar aksesoris? Kalau memang cincin pernikahan kenapa masih menyimpan foto dengan orang dari masa lalu? Terus mereka ini bertengkar karena miskom atau ada hal lain? Jujur pikiran saya jadi berkelana menyambungkan ceritanya dengan versi dari imajinasi sendiri 😀

    BalasHapus
  11. Muanteeep nih buku.... pandai banget membangun ketegangan yang sunyi di ruang tunggu bandara. Pertemuan kembali setelah dua tahun itu terasa riil, canggung, sekaligus penuh emosi yang tertahan.
    Deskripsi tentang tatapan mata cokelat, novel Agatha Christie, sampai detail cincin di jari manis itu bener-bener berhasil bikin pembaca ikut menebak-nebak isi hati mereka.
    cocoknya ngebaca ditemenin apa kak??

    BalasHapus
  12. Cerita-cerita pendek ini begitu menarik dan jika bikin penasaran sehingga ditunggu terus cerita-cerita berikutnya. dirimu berbakat deh menulis cerita pendek seperti ini. cuma Saran saya mah nanti dibuat buku atau cerita lebih panjang lagi supaya kita bisa terus-menerus terpaku dalam ceritanya tanpa terjeda

    BalasHapus
  13. Memang susah dah kalau urusannya gagal move on, bikin gak nyaman dan makin galau. Apalagi si mantan yang ah...
    Gini nih kalau cerpen, langsung kelar, jadi urusan penasarannya gak lama, biar gak ikutan galau yang baca wkwkwk

    BalasHapus
  14. aih aih aku yang degdegan padahal bukan Evelyn haha
    kalau adegan seperti ini sudah dipastikan aku terbuai dengan ceritanya
    pasti si pria masih memendam rasa meski sudah tak sendiri lagi hehe

    BalasHapus
  15. aduh....gak kebayang kalau saya jadi evelyn,,,,pasti perasaannya campur aduk. jadi membayangkan visualisasi cerpen ini niiih,,,,saat buku catatan itu jatuh, saat ditanya mengapa masih nyimpen foto kita,,oh noo heheehe

    BalasHapus
  16. Heh, gasopan!
    cowonya masih nyimpen foto bersama Evelyn tapiii uda ada cincin tersemat.
    Tapi biasanya kan gitu yaa.. siapa tauu... cowonya terpaksa menikah atau tunangan karena paksaan keluarga.

    BalasHapus
  17. Wah samaan nih sama Mbak Evelyn sama2 suka genre novel detektif2an. Ya iyalah selera orang keknya susah berubah kalau soal buku, biasanyaaaa.
    Weleh kalau masih canggung2 gitu keknya belum sama2 move on yaa. Apalagi yang satunua masih menyimpan fotonya hehe.
    Keknya putusnya gak baik2 nih sampai sesalting itu jadinya. Tapi yaa siapa tahu ntar jodoh ketemu lagi 😁

    BalasHapus
  18. Wah, bertemu mantan lagi di tempat umum
    Bikin kikuk sekaligus deg deg an biasanya
    Aku pernah, haha
    Eh tapi g simpan foto ya

    BalasHapus
  19. Ah ceritanya selalu berhasil bikin penasaran, apalagi ini bahas permantanan lagi.. hehe. Yang susah move on, terus baca ini, hah.. tambah galau kayanya :)

    BalasHapus
  20. Jadi penasaran nih, apakah rasa tu masih ada, kok masih simpan fotonya, hmm tapi sikapnya sudah berubah, lanjutannya adakah mba?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer