Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 8)

Aku kembali membelah jalanan Kota Denpasar di bawah terik matahari yang menyengat, setelah mendapatkan lokasi pertemuan sore nanti dari Ana. Ada satu tempat yang harus aku kunjungi sebelum ke sana, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kantor lebih awal. 

Ana memintaku membelikan oreo cheese cake di toko kue langganannya. Katanya, anak dari klien kami hari ini berulang tahun, dan dia ingin memberikan sesuatu sebagai kejutan kecil. 

Awalnya aku sempat bingung. Bukankah klien kami ini akan melangsungkan pernikahan? Kenapa sudah punya anak? Tapi aku tak langsung bertanya. Setelah diam sejenak, pikiranku mulai merangkai kemungkinan. 

Mungkin ini pernikahan kedua,” gumamku dalam hati. Dan jika benar, itu menjelaskan kenapa acara yang akan kami tangani nanti katanya hanya sebatas akad nikah dan makan-makan keluarga. Sederhana, tanpa pesta.

Mobil melaju perlahan di antara deretan ruko dan rumah-rumah warga. Sebuah lagu yang sudah sangat familiar mengalun dari speaker. Lagu yang sengaja kucari tahu siapa penyanyinya, setelah pertama kali kudengar di Stasiun Tawang sepuluh tahun yang lalu. Lagu itu berjudul "Aku, Kau dan Kereta," dinyanyikan oleh Jikustik.

"Ini saatnya kita harus mengerti.Kereta ini kan membawamu pergi.Dan bila kau sampai di sana,Tak pernah ada lagi kita…"

Lagu itu membawaku kembali pada satu titik dalam hidupku—peron stasiun, teriknya Kota Semarang, suara peluit kereta, dan Anjani yang berkata bahwa tak akan ada lagi kita. Sudah satu dekade berlalu, tapi memorinya tak pernah benar-benar hilang. Ditambah lagi dengan telepon misterius tadi pagi, semuanya kembali mengambang di kepalaku.

Apakah Anjani itu adalah Anjani yang aku cari? Atau hanya kebetulan namanya sama?

Sudah beberapa kali aku menerima klien bernama Anjani, tapi belum ada satu pun yang benar-benar dia.

Kali ini namanya memang benar-benar sama, tapi bisa saja itu masih tetap orang yang berbeda. 

Aku berharap cemas selama berjam-jam menunggu telepon berdering, namun hingga aku meninggalkan kantor, tak ada lagi panggilan dari Anjani. Aku sudah berpesan kepada Salim dan Komang, jika ada telepon lagi dari Anjani Putri Pratiwi, langsung saja berikan nomor ponselku. Semoga saja Anjani benar-benar menelepon kembali dan semoga dia adalah Anjani yang selama ini aku cari.

***

Setelah memarkir mobil, aku mengecek kembali alamat di layar ponsel dan mencocokkannya dengan nomor rumah yang ada di depanku. Nomor A32. Seharusnya ini rumah klien kami. Tapi belum terlihat mobil Ana di depan rumah. Mungkin dia masih di perjalanan, pikirku.

Rumah itu tampak tenang dan asri. Sebuah rumah minimalis tanpa pagar, dengan cat putih bersih yang dipadukan aksen batu alam di bagian dinding depan. Taman kecil di samping carport tertata rapi dengan rumput hijau pendek dan beberapa tanaman perdu. Di teras rumah terdapat sepasang kursi santai dari rotan sintetis, disandingkan dengan meja kaca bulat berukuran sedang. Aneka tanaman hias dalam pot menghiasi area sekitar kursi, menambah kesan sejuk dan nyaman. Dari tampilannya, pemilik rumah ini jelas menyukai kerapian dan detail estetika yang sederhana namun elegan.

Aku baru berjalan beberapa langkah memasuki carport saat tiba-tiba suara nyaring seorang anak kecil mengejutkanku.

"Mami, Om Danu datang!"

Aku menoleh dan melihat seorang bocah laki-laki berlari dari arah dalam rumah ke arahku. Sebelum sempat bertanya siapa dia, bocah itu sudah memelukku erat. Spontan tubuhku menegang sesaat karena tidak mengenalinya.

Siapa dia? Kenapa memanggilku Om Danu dan tiba-tiba memeluk seperti ini?

Dari pengamatan sekilas, usianya mungkin sekitar tujuh atau delapan tahun.

"Apa kabar, Om Danu? Azka kangen sekali sama Om," katanya sambil memandangku lekat-lekat, lalu melepaskan pelukannya. Dan saat itulah, aku baru sadar. Bocah ini... Azka?

"Azka anaknya Mami Stevi sama Papi Bayu?" tanyaku, mencoba memastikan.

"Iya betul sekali!" jawabnya sambil mengangguk ceria, senyumnya merekah lebar.

"Ya ampun, kamu sudah besar sekarang. Om sampai nggak mengenali lagi." Aku membalas pelukannya dan mengacak rambutnya dengan gemas.

Ada perasaan haru yang menyelinap tanpa permisi. Lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Mas Bayu memang pernah bercerita bahwa Azka tinggal di Bali bersama ibunya, Stevani, dan bahwa dia sudah bertemu beberapa kali. Tapi siapa sangka, klien yang akan kutemui hari ini ternyata adalah... Stevani sendiri.

Dan kalau benar dia klien kami, berarti... yang akan menikah lagi itu dia?

Perlahan aku melepas pelukan Azka dan berjongkok setinggi matanya.

“Bentar, ya. Om mau telepon dulu,” kataku sambil tersenyum, kemudian berjalan menjauh ke sisi taman dekat jalan, berusaha menenangkan gejolak pikiran yang mulai campur aduk.

Mas Bayu harus tahu ini,” batinku.

Kukeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka kontak Mas Bayu. Baru saja jari telunjukku hendak menekan ikon telepon, suara langkah pelan dari arah pintu depan mengalihkan perhatianku.

Stevani berdiri di ambang pintu.

Dia tampak sama seperti terakhir kali aku melihatnya—elegan, tenang, dengan sorot mata yang menyimpan cerita panjang. Kali ini, dia mengenakan dress semi-formal warna krem dengan rambut tergerai rapi, dan senyum tipis yang entah bermakna apa.

Telepon ke Mas Bayu? Terpaksa kutunda dulu.


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>>


***

Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 8 ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Komentar

  1. Waduh jangan-jangan Momy Stevani mau rujuk sama Bayu? atau malah Bayu akan patah hati untuk ke sekian kali karena wanita yang dicintai telah menemukan pemilik tulang rusuk yang baru? jujur penasaran banget dengan kelanjutannya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer