Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 7)



"Selamat pagi!" sapa Ana ceria begitu memasuki lobi kantor.

Aku yang duduk di sofa menghadap pintu masuk hanya melempar senyum simpul padanya.

“Selamat pagi, Mbok!” sahut Komang tak kalah ramah dari balik meja resepsionis.

Komang adalah pegawai kami yang bertugas sebagai resepsionis, merangkap marketing dadakan. Di perusahaan kecil seperti ini, sudah lumrah jika satu orang memegang banyak peran. Bukan pembelaan diri, tapi realitanya memang begitu.

Dia adalah gadis Bali yang ramah dan manis. Pandai berbahasa Inggris dan senang berinteraksi dengan siapa saja. Karena itulah, ia begitu menikmati pekerjaannya sebagai wajah pertama yang menyambut setiap tamu kantor kami. Ia sangat cocok dengan Ana—mungkin karena karakter mereka yang mirip dan usia yang tak terpaut jauh. Jika ada Komang, apalagi ditambah Ana, suasana kantor tak pernah benar-benar sepi. Selalu saja ada celoteh dan tawa yang mengisi ruang.

"Mbok Ana," begitu Komang biasa memanggilnya. "Mbok" adalah sapaan untuk kakak perempuan dalam budaya Bali, setara dengan "mbak" dalam budaya Jawa. Jadi, bukan "mbok" seperti dalam istilah "mbok jamu" yang sering kita dengar.

Ana yang baru saja datang langsung "nongkrong" di meja resepsionis. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari tempatku duduk yang terdengar hanyalah tawa riang mereka yang berderai.

Menatapnya saja sudah cukup membuat pagiku lebih cerah—apalagi dengan aroma kopi dari cangkir di hadapanku yang masih mengepul pelan di udara.

"Tumben pagi-pagi sudah muncul di sini?" tanyaku pada Ana saat ia meninggalkan Komang dan duduk di sampingku.

"Ada tawaran pekerjaan yang ingin kusampaikan ke Abang," ujarnya sambil mengeluarkan buku catatan favorit dari dalam tas.

"Apa itu?" tanyaku penasaran. Ana sangat jarang menangani proyek perorangan—biasanya kami minimal mengurus sepuluh orang. Jadi, aku selalu antusias setiap kali ia menawarkan pekerjaan baru.

"Ada dua tawaran yang masuk. Tapi ini lebih condong ke event organizer daripada trip. Keduanya acara pernikahan," jelas Ana sambil membolak-balik catatannya.

Akhir-akhir ini, perusahaan kami memang mulai menerima pekerjaan yang berkaitan dengan event organizer, meskipun masih dalam skala kecil. Dua bulan lalu kami menyelenggarakan sebuah workshop dan seminar. Bulan kemarin, kami mengatur pesta ulang tahun. Ana bilang, pengalaman dua tahunku bekerja bersama Mas Bayu sayang jika tidak diasah lagi.

"Untuk detail proyek pertama, nanti sore kita akan langsung bertemu dengan klien. Acaranya cukup sederhana. Hanya akad nikah dan makan-makan keluarga serta sahabat," lanjut Ana.

"Bertemu di mana?" tanyaku, semakin penasaran.

"Dia minta kita datang ke rumahnya. Lokasinya nanti aku kirim. Soal proyek kedua, kita bahas nanti saja, ya. Sekarang aku harus ke tempat Bu Heni lagi. Ngurus pembayaran. Proyek terakhir sama beliau baru selesai hari Minggu kemarin."

Jika menyangkut pekerjaan, Ana memang selalu to the point. Tak suka berlama-lama atau bertele-tele. Dia selalu tampak sibuk dengan proyek-proyek yang seolah tak ada habisnya. Sering kali dia berkata, 24 jam dalam sehari itu terasa kurang. Kalau bisa, katanya, waktu ingin dia tambah sendiri. Ada-ada saja.

"Oke. Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut!" pesanku. Gadis mungil ini kadang tak peduli kecepatan mobilnya kalau sudah kejar-kejaran dengan klien.

"Tenang saja, aman!" sahutnya sambil menyunggingkan senyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi.

"Baiklah, aku pergi dulu," pamitnya kemudian.

Ana menjinjing tas tangan berwarna merah, senada dengan hijab merah bermotif bunga yang dikenakannya. Kontras dengan dress hitam polos yang membalut tubuhnya. Merah dan hitam memang kombinasi favoritnya. Aku sering sekali melihatnya memakai perpaduan dua warna itu.

Dia berjalan ke arah meja resepsionis, berpamitan singkat dengan Komang, lalu melangkah keluar menuju area parkir di depan ruko. Kulihat Mini Cooper merahnya terparkir persis di depan kantor. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, aku kembali masuk ke dalam kantor yang terletak di belakang lobi.

Waktu bersantai telah usai. Pekerjaan menunggu untuk diselesaikan.

Di dalam kantor, aku mendapati Salim duduk manis di mejanya. Seperti biasa, dia tampak tenggelam dalam laporan keuangan. Akhir bulan memang selalu jadi masa-masa super sibuknya—mengurus tagihan yang harus ditagih, pembayaran yang harus dilunasi, termasuk urusan gaji kami. Sebaiknya aku tidak mengganggunya saat-saat begini.

"Mas Danu, tadi ada yang menelepon dan ingin bicara denganmu," ucap Salim sambil berdiri begitu melihatku masuk.

"Dari siapa?" tanyaku penasaran.

"Tunggu sebentar, aku lihat catatannya dulu," jawab Salim, lalu membalik beberapa lembar kertas dengan cepat.

"Namanya Anjani Putri Pratiwi," lanjutnya sambil menunduk membaca. Ia tak menyadari wajahku yang mulai menegang saat mendengar nama itu."Dia bilang akan menelepon lagi nanti."

Aku terpaku. Nama itu bukan sekadar nama. Ia adalah pintu menuju masa lalu yang selama ini kucari dalam bayang-bayang samar. Kali ini, entah ke mana takdir akan membawaku.


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>>


***


Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 7 ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Komentar

Postingan Populer