Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 1)

Lagu Blue Night yang dinyanyikan Michael Learns to Rock mengalun merdu dari speaker laptopku. Suaranya membawa lamunanku pada dia—yang entah kini ada di mana, dan bagaimana kabarnya.


"When the blue night is over my face. On the dark side of the world in space. When I'm all alone with the stars above. You are the one I love."


"YOU ARE THE ONE I LOVEEEE!”

Tiba-tiba suara sumbang dan keras memecah suasana. Aku refleks menoleh, mencari sumber suara itu, dan menemukan seorang perempuan mungil berhijab duduk santai di sofa di sudut ruangan kantorku yang hanya berukuran 3x4 meter. Matanya tertuju pada buku di tangannya, tapi jelas dia sadar sedang kuperhatikan.

“Eh, maaf. Terlalu keras ya, Bang?” katanya sambil nyengir ke arahku.

“Iya. Berisik banget!” balasku sambil ikut menyeringai. Aku bangkit dari kursi dan menghampirinya. “Kapan datang? Aku kaget tiba-tiba ada yang ikut nyanyi. Keras lagi.”

“Kira-kira tiga puluh menit yang lalu. Abang serius sekali kerjanya, jadi aku diam aja di sini.” Jawabnya santai sambil tetap membolak-balik halaman buku di tangannya. “Ngomong-ngomong, novel ini bagus. Boleh kupinjam?” tanyanya sambil melirik ke arahku.

Aku menoleh, melihat novel yang ia maksud. Rupanya The Cuckoo's Calling karya Robert Galbraith.

“Bawa aja. Aku udah selesai baca. Jangan lupa dibalikin kalau udah selesai,” ujarku sambil mengambil beberapa novel lagi dari rak di sebelah sofa. “Ini lanjutannya.” Kuletakkan buku-buku itu di atas meja kecil di depannya.

Kulihat matanya langsung berbinar melihat tumpukan novel itu. "Wah, terima kasih Abang Danu sayang. Kamu terbaik!" katanya sambil membuat lambang hati ala drama Korea dengan telunjuk dan ibu jarinya.

“Mulai deh lebaynya!” sahutku sambil geleng-geleng kepala, lalu kembali ke meja kerjaku, membiarkannya tenggelam dalam dunianya—bersama tumpukan novel itu.

Namanya Febriana Anastasya. Gadis berdarah Jawa yang kukenal dari komunitas travelling tiga tahun lalu. Awalnya kukira dia keturunan Tionghoa karena kulitnya yang putih dan mata sipitnya, tapi menurut pengakuannya, dia Jawa tulen.

Usianya lima tahun lebih muda dariku, karena itu dia senang sekali memanggilku "Abang Danu.”

Ana, begitu aku memanggilnya, adalah partner usahaku. Mungkin lebih tepatnya, pemegang saham terbesar di perusahaan kecil kami ini. Awal berdirinya travel agent ini adalah hasil dari mimpiku dan uangnya. Tanpa bantuan modal dari Ana, semuanya mungkin hanya akan menjadi mimpiku. Selamanya.

“Loh, Mbak Ana ada di sini ternyata? Kapan sampainya? Kok saya ndak lihat,” ujar Salim yang baru saja memasuki kantor, tampak terkejut melihat Ana sudah duduk manis di sudut ruangan.

“Sudah dari tadi, Mas Salim. Saya masuk waktu Mas sedang asyik bertelepon di luar,” jawab Ana, sambil mengangkat matanya sejenak dari novel yang sedang ia baca, lalu kembali menunduk, tenggelam dalam dunianya.

Salim yang merasa tak akan ada lanjutan obrolan di antara mereka, akhirnya berjalan ke meja kerjanya.

Salim adalah salah satu dari dua orang karyawan yang bekerja di kantor ini. Ia memegang posisi administrasi merangkap keuangan. Salim dulunya adalah adik tingkatku di kampus. Kami cukup dekat karena sering naik gunung bersama dan memiliki mimpi yang sama: mendirikan travel agent. Aku mengajaknya bergabung setahun yang lalu, saat usaha ini mulai membutuhkan tambahan personel.

Usia Salim terpaut dua tahun lebih tua dibanding Ana, namun demi menjaga rasa hormat, ia selalu memanggil Ana dengan sebutan "Mbak Ana."

"Oh iya, aku ada janji bertemu Bu Heni pukul dua belas. Sekarang jam berapa?" Tiba-tiba Ana bertanya, entah pada siapa, sambil tetap menunduk membaca novel di tangannya.

Aku refleks melirik jam di layar laptop. 11.25 WITA.

Sedikit tersentak, aku langsung berseru, "Sudah pukul 11.25, Ana! Cepat berangkat!”

Bu Heni adalah langganan katering Ana yang terkenal galak dan sangat disiplin. Telat sedetik saja, ia tak segan-segan membatalkan janji.

Ana pun tak kalah panik. Ia meletakkan novelnya begitu saja di atas meja, meraih tas, lalu berlari keluar sambil berteriak,

"Nanti aku ke sini lagi ambil bukunya!"

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu ditutup dengan keras, menyisakan debum yang membuatku menghela napas panjang.

"Dasar ceroboh," gumamku, setengah kesal, setengah geli.

Selain nongkrong seharian di sini untuk membaca novel, kesibukan Ana lainnya adalah mengelola usaha katering peninggalan mendiang ibunya. Katering itu bukan usaha sembarangan. Mereka sudah sering menerima proyek-proyek besar dari hotel-hotel berbintang. Kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Karena itu pula, travel agent kami menjalin kerja sama dengan katering tersebut untuk urusan konsumsi para wisatawan selama tur berlangsung.

Novel-novel yang tadi ditinggalkan Ana kini berserakan di atas meja. Aku, yang tak suka melihat segala sesuatu dalam keadaan berantakan, akhirnya bangkit dari kursi. Kutinggalkan mejaku sejenak dan berjalan ke sudut baca yang sedari tadi menjadi “wilayah kekuasaan” Ana.

Saat hendak merapikan novel The Cuckoo’s Calling—yang terakhir ia baca—mataku menangkap sesuatu yang terselip di antara halamannya. Sebuah kartu nama.

STEVANI ADISTY.

Nama itu seketika membuat jantungku berdegup lebih cepat. Nama yang selama ini kucari, akhirnya muncul kembali.

Tanpa berpikir panjang, aku kembali ke meja kerja. Kutikkan nama Stevani Adisty beserta nama perusahaannya di mesin pencari. Dan benar—itu memang dia.

Tanganku meraih ponsel dengan gemetar, memencet nomor lalu melakukan panggilan.

Tuuut... Tuuut... Tuuut…

Suara nada sambung terasa begitu lama. Jantungku seperti berpacu dengan waktu, menunggu seseorang di seberang sana menjawab panggilanku.


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>>


***


Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 1 ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.


Komentar

Postingan Populer