Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 6)


"Nah, syarat itulah yang ternyata menjadi sumber segala masalah ini. Stevani menikah denganku satu bulan setelah wisuda, dengan syarat aku harus mengizinkannya melanjutkan S2 jika berhasil mendapatkan beasiswa. Aku setuju, tanpa benar-benar memahami seberapa tinggi mimpinya.”

Mas Bayu menghentikan ceritanya sejenak. Tangannya meraih remot dan mematikan televisi yang sejak tadi menyala tanpa ditonton.

“Waktu itu dia sempat mengajakku mendaftar beasiswa bersama. Kupikir dia hanya mengincar universitas dalam negeri, tapi ternyata tujuannya Eropa. Aku merasa itu terlalu jauh, terlalu lama—jadi aku tak menyetujuinya. Tapi diam-diam, dia tetap mendaftar. Dan ketika akhirnya diterima, dia merasa aku telah mengingkari janji kami.”

Aku yang semakin penasaran bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah sofa tempat Mas Bayu berbaring. Kutarik bantal duduk yang menyelip di punggungnya, lalu merebahkan tubuh di karpet di bawah sofa. Kutatap wajah Mas Bayu lekat-lekat. Wajah itu tampak bingung, penuh tanya, namun tak lagi sekelam sebelumnya.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada Anjani. Gadis cantik yang meninggalkanku begitu saja di Stasiun Tawang, sepuluh tahun yang lalu.

Andai aku bisa menemuinya, mendengar langsung alasan kepergiannya, apakah rasa sakitku akan sembuh? Atau justru semakin meradang?

Pikiranku kembali dari lamunan mendengar suara Mas Bayu.

“Tadi siang dia menangis saat kami berbincang,” ucap Mas Bayu pelan. “Betapa kecewanya dia padaku karena aku tak mendukung mimpinya. Padahal, dia sudah mendukungku sepenuh jiwa dan raga untuk mewujudkan impianku membangun event organizer.”

Mas Bayu mengubah posisinya, dari berbaring menjadi duduk tegak di sofa. Ia sekali lagi menatap kosong ke arah layar gelap televisi.

“Dia ingin kami berdua sama-sama meng-upgrade ilmu. Supaya bisa mengembangkan bisnis ini bersama.”

Mas Bayu menunduk sejenak, lalu melirikku.

“Menurutnya, menimba ilmu di negara yang lebih maju daripada Indonesia akan jauh lebih bermanfaat. Dia percaya, EO kami tetap bisa berjalan, bahkan jika kami harus memantau dari luar negeri, selama struktur dan sistemnya sudah solid seperti saat dia tinggalkan.”

Matanya mulai berkaca-kaca. Nada suaranya merendah, nyaris bergetar.

“Bagi dia, EO itu hanyalah awal—bukan tujuan akhir. Bahkan tadi dia sempat menjabarkan rencana-rencananya untuk mengembangkan bisnis kami menjadi sesuatu yang lebih besar. Dia sangat terkejut dan menangis sesenggukan saat tahu EO itu sekarang sudah bubar. Seperti ibu yang ditinggal selama-lamanya oleh anaknya.”

“Tapi... dia membawa sebagian besar uang usaha, kan? Bagaimana mungkin EO kita bisa bertahan?” tanyaku, masih berusaha memahami seluruh cerita ini. Apa sebenarnya yang membuat Mas Bayu begitu diliputi rasa bersalah malam ini?

“Danu, sejujurnya, situasi keuangan saat itu tidak seburuk yang kupikirkan. Stevani hanya membawa sebagian dari keuntungan usaha. Kami membangun semuanya dari nol, jadi dia merasa berhak atas bagian itu,” jelas Mas Bayu dengan suara berat. “Dia bahkan sudah menghitung semuanya dengan matang, agar EO kita tetap bisa bertahan.”

Ia menghela napas panjang, lalu mengusap sudut matanya yang mulai basah.

“Tapi mentalku hancur saat dia menghilang tanpa kabar. Aku tak bisa berpikir jernih. Keputusan-keputusan buruk menyusul satu per satu. Hingga akhirnya... semuanya runtuh.”

Suara Mas Bayu makin lirih.

“Waktu itu kupikir dia kabur bersama laki-laki lain. Hatiku benar-benar remuk, Danu. Andai aku tahu kebenarannya sejak awal, aku pasti akan langsung menyusulnya ke Inggris. Aku akan minta maaf saat itu juga.”

Mas Bayu tak lagi bisa menahan air matanya. Penyesalan itu kini lebih besar daripada harga dirinya.

Kutinggalkan Mas Bayu yang mulai menangis agar ia tak merasa malu. Aku berjalan menuju pantry dan menyiapkan dua cangkir kopi panas untuk kami berdua. Semoga minuman hangat ini bisa sedikit menenangkannya.

Dari arah pantry, masih terdengar isak tangisnya yang tertahan—beradu dengan suara petir dan guntur yang menggelegar di luar sana.

Komunikasi memang sangat penting dalam sebuah hubungan. Tak jarang, sebuah hubungan hancur hanya karena kurangnya komunikasi yang baik di antara dua orang. Bukan hanya pada pasangan, bahkan antara orang tua dan anak pun kerap terjadi hal serupa.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada Abah dan Umi di rumah. Apa kabar mereka sekarang, ya? Sudah hampir satu tahun aku tak pulang ke Semarang.

"Danu, kamu bikin kopi?" Suara Mas Bayu mengejutkanku. Sepertinya tangisnya sudah reda.

"Iya, Mas. Ini aku udah bikin dua, satu buat Mas Bayu."

Aku berjalan menghampirinya dan meletakkan secangkir kopi panas di meja kecil di samping sofa.

"Makasih ya udah nemenin malam ini," ucap Mas Bayu sebelum menyeruput kopi dari cangkirnya. "Masih ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tanyanya kemudian.

Sebenarnya, masih ada yang mengganjal dalam pikiranku—tentang mengapa Stevani ikut membawa motor dan laptopku. Tapi rasanya tak bijak jika harus mengungkit-ungkit soal Stevani lagi malam ini. Aku harus mengalihkan pembicaraan.

"Sudah biasa kan kita saling menemani. Dulu waktu aku ditinggal Anjani, Mas juga yang nemenin aku main PlayStation semalam suntuk di kos."

Lagi-lagi, ingatan tentang Anjani melintas di benakku. Sepuluh tahun berlalu, tapi bayangannya tak pernah benar-benar pergi. Tak ada gadis lain yang mampu menarik perhatianku selama ini. Sejak kepergiannya, aku hanya fokus kuliah dan bekerja, sambil terus mencari informasi tentangnya.

"Ah iya, Anjani. Apa kabar dia sekarang, ya? Masih belum berhasil dapat kabar tentang dia?" tanya Mas Bayu.

"Belum, Mas. Sejak perpisahan kami di stasiun itu, dia seperti hilang ditelan bumi," jawabku sambil terkekeh.

Mas Bayu menyunggingkan senyum kecil. Sepertinya kafeina mulai membuatnya lebih tenang.

Aku ikut menyeruput kopi di tanganku, membiarkan hangatnya perlahan merambat ke seluruh tubuh. Di luar, hujan masih turun deras, seolah belum ingin berhenti. Dalam keheningan itu, pikiranku melayang, akankah aku bisa bertemu Anjani lagi? Atau dia memang ditakdirkan hanya menjadi sebuah teka-teki yang tak pernah selesai?


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>>


***


Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 6 ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Komentar

  1. Kadang-kadang kita memang perlu menurunkan ego dan tidak fokus pada diri sendiri, supaya bisa menyelami apa yang diinginkan oleh pasangan. Kuncinya memang ada di komunikasi, jika itu lancar insyaallah semua masalah yang terjadi akan dapat solusi tanpa saling melukai.

    BalasHapus
  2. Bener kata orang. Lelaki kalo udh ditinggalin wanita tuh jadi limbung. Ambil keputusan jadi lama. Jadi ragu atas keputusan hidupnya.

    Makanya Bayu jadi seakan ga punya semangat menjalani hidup ditinggalin Stefani. Moga keputusan bersama itu tak disesali ya.

    Jd pengingat buat kita semua kalo masalah keluarga tuh hrs diobrolin ampe rinci. Jd biar ga ganggu sampe ke anak.

    Cerita yg relate bgt ama kondisi skrh nih.

    BalasHapus
  3. Dua sosok lelaki yang ditinggal kekasih hati..yang satu sudah menemukan jawabnnya sedangkan yang satu masih mencari keberadaannya...memang yaa cowok kalo sudah cinta itu sptnya susah untuk membuka pintu buat yg lain meski sudah terbuka namun rasa dan kenangan yang lalu masih tersimpan indah ;)

    BalasHapus
  4. saya sering mengamati, saat pria ditinggal wanita, maka kadang kehilangan arah. namun sebaliknya saat wanita ditinggal pria , dia bisa segera move on. tapi memang semua tergantung masalahnya. dan kasus bayu dan Danu jelas berbeda. namun perpisahan itu pasti karena adanya masalah. jadi sebelum perpisahan terjadi semua dibicarakan dengan baik agar tidak ada penyesalan.

    BalasHapus
  5. Kalau soal hubungan, komunikasi memang selalu harus diutamakan. Apapun masalahnya, kalau sudah dikomunikasikan akan selalu punya jalan keluar. Tapi, sekecil apapun masalahnya. Kalau nggak ada komunikasi yang terjalin, maka selesai sudah. Done. Nggak ada kelanjutannya.

    BalasHapus
  6. sedih sih melihat hubungan mas bayu dan stevani berantakan karena kurang komunikasi begini. nah habis ini kayaknya bakal ada kisah danu sama anjani nih yang bakal dikulik lebih dalam

    BalasHapus
  7. Gemes sama Mas Bayu haha, kan udah dibilang di awal maunya Stevani mau sekolah lagi. Tapi Si Step juga nggak ngomong kalau rencananya juga meliputi Eropa. Di satu sisi ya logis sih Mas Bayu kan berbisnis di sini, kalau ditinggal kerjaannya gimana?
    Eh trus mereka dah ada anak belum siihh?
    Yang belum kejawab kok iso Stevani bawa duit usaha juga?
    Kalau soal Anjani hmmmm, menurut aku karakter utama ini move on aja deh. Kelamaan soalnya. Mending sama siapa tuuu yang temen kantornya di cerita sebelumnya haha *maksa.

    BalasHapus
  8. melihat dua tokoh mas bayu dan stevani dalam cuplikan novel ini mengajarkan kita untuk lebih dewasa dalam memberikan keputusan. apalagi menyangkut dengan keputusan jangka panjang. antara kebutuhan karir dan sebuah sakralitas sebuah hubungan adalah pilihan sulit dan cukup menantang

    BalasHapus
  9. Sama dalam kehidupan nyata, komunikasi dalam sebuah hubungan itu memang diperlukan. Seberapa jauh perbedaannya, kalau dikomunikasikan pasti masing-masing akan memberikan solusi-solusi
    Tapi kebanyakan justru meninggikan ego dan wataknya masing-masing. Banyak yg tidak mau mengalah hingga perbedaan itu jadi awal keretakan lalu jadi perpecahan

    BalasHapus
  10. Brner banget komunikasi tuh hal penting di semua hubungan. Urusan uang pun kalau nggak dikomunikasikan juga bakal bikin runyam hubungan yang udah baik...

    Apalagi nih pasangan yang mau buat usaha bareng gitu. Gono gininya sebaiknya juga dibicarakan dengan detail. Biar nggak kayak stefani ma bayu nih. Gegara di berhak atas keuntungan eh nggondol uang usaha. 🥹

    BalasHapus
  11. Move on itu sulit yaaa bahkan malah sakit...semoga Mas Bayu balikan lagi sama Stevani....dan Danu menemukan Anjani

    BalasHapus
  12. Antara Stevani dan Bayu seharusnya punya perjanjian pra nikah yang tertulis dan detail sehingga tidak ada kasus seperti ini. Kesalahpahaman yang berujung pada kesedihan.

    BalasHapus
  13. Konflik antara Mas Bayu dan Stevani terasa riil, semacam bukan soal benci, tapi murni karena komunikasi yang buntu dan ego yang telat diredam. Penyesalan Mas Bayu yang baru tahu alasan sebenarnya pas EO-nya sudah bubar itu bikin ikutan nyesek.
    Ditambah lagi POV Danu yang malah ikutan flashback soal Anjani di Stasiun Tawang. Jadi penasaran, apakah takdir bakal mempertemukan Danu sama Anjani lagi, atau malah plotnya makin plot twist?
    Ditunggu kelanjutan Bab 7 Senin depan ya, Kak!

    BalasHapus
  14. Kan Mas Bayu sih ga mau tabayyun dulu, main ngambek gitu aja. Nyesel kan tuh..
    Padahal daku udah ngasih kode loh ke Mas Bayu biar dia tuh nyusul ke Inggris kan bisa sekalian juga nonton Liga Inggris di situ wkwkwk, lain cerita ini sih hihi

    BalasHapus
  15. Waahh komunikasi memang kunci dari sebuah hubungan. Banyak yang bubar karena salah paham, saling diam, merasa sudah mengerti, padahal komunikasinya nggak efektif. Ckck.. Stevani kayaknya model cewek Alpha yang visioner, gigih dan berintegritas nih.

    BalasHapus
  16. Penasaran sama lanjutannya, karena hal seperti ini sekarang banyak terjadi dalam kehidupan kita dimana perempuan berhenti bermimpi ketika menikah, tinggal keridhoan pasangannya mau mendukung utk melanjutkan mimpi istri atau tidak

    BalasHapus
  17. Ngg, jadi bisa memahami mengapa Stevani pergi, karena mengejar mimpinya yang tinggi di Eropa ya tapi kenapa laptop dan motor temannya ikut dibawa ya..

    BalasHapus
  18. Kebayang sih rasanya ditinggal
    Sakit yang tak berdarah
    Bakalan gimana ya merasakan sakit ditinggal demi mengejar mimpi?
    Siapa tahu ada tips supaya cepat sembuh, hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer