Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 3)


"Di sini? Di Bali maksudmu?" tanya Mas Bayu dengan nada tak percaya.

"Iya. Ana membuat janji dengannya untuk membicarakan urusan bisnis. Nanti kukirimkan lokasinya. Berangkatlah sekitar tiga puluh menit lagi dari sana. Kami harus menyelesaikan urusan pekerjaan terlebih dahulu," jelasku, berusaha tenang dan tegas.

Aku tahu betul, tanpa penjelasan itu, Mas Bayu pasti langsung meluncur ke lokasi begitu menerima alamat yang kukirimkan. Tapi tidak mungkin aku mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan di hadapan Ana—bisa-bisa dia marah.

Setelah panggilan ditutup, aku kembali ke meja dan duduk di kursi kosong di samping Ana. Hatiku lebih lega sekarang. Aku sudah siap membicarakan proyek ini dengan tenang. Ujian sebenarnya bagi profesionalitasku baru saja dimulai.

Ana sedang sibuk mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya ke mana pun pergi. Stevani pun tampak melakukan hal yang sama, fokus pada tablet yang ada di depannya.

Melihat keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing, aku bertanya perlahan, "Ini minumanku, kan?"

Ana mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya.

Sepertinya aku harus menunggu sampai mereka selesai sebelum mendapat penjelasan lengkap tentang proyek ini. Sementara itu, kunikmati saja segelas jus alpukat tanpa susu yang sudah dipesankan Ana. Sambil menyeruput pelan, aku membalas pesan-pesan Mas Bayu yang rupanya masih diliputi rasa penasaran.

"Jadi begini, Bang."

Suara Ana yang tiba-tiba terdengar membuatku sedikit terlonjak. Spontan, ponsel yang sedari tadi kugenggam langsung kumasukkan ke saku celana. Rasanya seperti murid yang tertangkap basah sedang main gim saat guru menjelaskan pelajaran. Padahal aku tidak sedang berbuat salah. Kenapa malah panik?

"Maaf, ya. Pasti aku ngagetin kamu," kata Ana sambil menahan tawa—yang kulihat hampir meledak dari mulutnya.

Stevani hanya tersenyum tipis, memperhatikan kami dengan tenang.

"Jadi begini, Bang," ulang Ana, kali ini dengan nada lebih serius. "Kak Stevi di sini mewakili perusahaannya untuk menjajaki kerja sama dengan kita, terkait rencana perjalanan ke Eropa."

"Benar," sambung Stevani, mengambil alih penjelasan. "Perusahaan kami sedang mengadakan undian berhadiah dalam rangka ulang tahun perusahaan. Lima karyawan yang beruntung akan diberangkatkan ke Eropa selama empat hari tiga malam—semua biaya ditanggung, termasuk akomodasi dan uang saku."

"Eropa? Aku tidak salah dengar, kan?"

Pertanyaan itu muncul dalam kepalaku begitu saja. 

Aku hampir tidak percaya. Jika kerja sama ini benar-benar terwujud, maka inilah proyek pertama kami ke benua biru. Selama ini, travel agent kami hanya melayani perjalanan domestik dan negara-negara di Asia Tenggara.

Pertemuan ini—yang semula diliputi amarah—tiba-tiba berubah menjadi harapan besar. Mungkin takdir mempertemukanku kembali dengan Stevani, bukan untuk menyakiti, tapi untuk membuka peluang. Untukku, untuk Ana, untuk perusahaan kami, dan juga untuk Mas Bayu.

Pembahasan proyek perjalanan ke Eropa terus berlanjut. Tanpa terasa, hampir satu jam telah berlalu. Tepat saat Ana menutup pembicaraan bisnis siang itu, ponsel di saku celanaku bergetar.

"Aku permisi mengangkat telepon sebentar, ya," kataku sambil berdiri. Aku berjalan menjauh beberapa langkah sebelum mengangkat panggilan yang masuk.

“Halo, kami di lantai dua. Naik saja sekarang. Rapatnya sudah selesai,” kataku singkat, lalu kembali ke tempat duduk.

Aku membuka obrolan ringan dengan Ana dan Stevani, sekadar mengulur waktu. Tak berapa lama, sosok Mas Bayu muncul di tangga, lalu melangkah mendekati meja kami.

“Hai, semua!” sapa Mas Bayu dengan senyum yang tampak dipaksakan.

“Loh, Mas Bayu kok ada di sini?” tanya Ana, terlihat bingung.

“Ada urusan dengan Stevani,” jawab Mas Bayu singkat namun tegas.

Sekilas, kulihat wajah Stevani memucat. Matanya membesar. Tak ada lagi usaha untuk menyembunyikan keterkejutannya.

“Kalau begitu, aku permisi dulu,” ucapku kepada Stevani, tanpa sempat menatap wajahnya. “Ana, ayo kita kembali ke kantor.”

Ana masih terlihat kebingungan, namun ia menurut. Kami berjalan beriringan meninggalkan meja itu. Begitu sampai di tangga, Ana langsung bersuara

“Jadi... apa sebenarnya urusan Mas Bayu dengan Kak Stevi? Aku lihat tadi Kak Stevi jelas-jelas terkejut waktu Mas Bayu datang.”

Aku menarik napas pelan. “Aku jelaskan di luar saja,” jawabku, melanjutkan langkah menuju teras kafe. Ana mengikutiku tanpa banyak tanya.

Begitu kami tiba di luar, aku berhenti dan berdiri bersisian dengan Ana.

“Jadi gimana?” tanyanya tak sabar, matanya menatapku lekat-lekat.

“Kamu masih ingat cerita di awal kita kenal dulu? Tentang kenapa aku bisa terdampar di Bali dan akhirnya kerja serabutan?” tanyaku, mencoba memancing ingatannya.

Ana mengerutkan kening, berpikir sejenak. “Yang usaha Mas Bayu mendadak bangkrut karena uangnya dibawa kabur istrinya itu?”

Aku mengangguk.

Ekspresi di wajah Ana berubah. Awalnya bingung, lalu perlahan matanya membesar, seolah potongan-potongan cerita di kepalanya mulai menyatu.

“Jangan-jangan...” ucapnya pelan sambil menutup mulutnya. Kalimat itu menggantung di udara, tertelan oleh angin panas Kota Denpasar.


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>>


***


Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 3 ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Komentar

  1. Jadi gimana?
    Jangan jangan?
    Bikin penasaran buat lanjut ke bab berikutnya, udah ada imajinasi yang bermain main nih yang bikin pengen lanjut klik ke babak berikutnya, tapi mending nanti deh biar nikmat bacanya

    BalasHapus
  2. Pastinya bakal penasaran banget untuk mengetahui kelanjutan cerita ini.
    Konfliknya mulai berasa ya.
    Karakternya juga kerasa

    BalasHapus
  3. Dan aku langsung baca bab selanjutnya donkkk meski belum seluruhnya hanya bagian atas untuk mencari validasi bener gak yaaa dengan apa yang aku pikirkan hehe....cakeppp niee mbaaa endingnya dipilih yang bikin penasaran pembacanya jadi mau gak mau harus baca bab selanjutnya hihi

    BalasHapus
  4. Apakah Stevani ini yang membawa kabur uang di usaha sebelumnya? Mantan istrinya Bayu dong dia? Wadidaw. Ini sih tebakan versi aku aja ya. Kayaknya kalau baca dari awal sih bener hehehe.

    Semakin menarik, ditunggu kelanjutan ceritanya. Plotnya dan alurnya oke nih.

    BalasHapus
  5. Jangan-jangan Stevani ini mantan istrinya?
    Apa jangan-jangan, selama ini Stevani adalah ketua geng kapak yang menyimpan rekeningnya di bank Switzerland? *lho kok ngawur.

    Wah, makin seru aja nih mbak ceritanya. Gaskeunnnnnn

    BalasHapus
  6. Mantap lhooo Kak Asri, asli ini penulisannya rapi dan sukses bikin penasaran. Bagian pas tokoh utamanya grogi di dekat Ana sampai refleks mengantongi ponsel itu terasa humanis dan relatable banget, seperti dunia nyata.
    Salut juga dengan dinamika emosinya. Dari yang tegang karena urusan bisnis, berubah jadi harapan besar proyek ke Eropa, lalu ditutup dengan plot twist masa lalu Mas Bayu yang bikin geregetan. Potongan teka-tekinya pas banget berhenti di akhir bab ini.

    BalasHapus
  7. Jadi... dia terdampar di Bali?
    Dan seketika semua kenangan berdatangan seperti kepingan puzzle yang menyatu.
    Tapi keknya perlu dikulik lebih dalam nih dengan cerita selanjutnya

    BalasHapus
  8. Aku nebaknya antara Stevani ini dulu mantan istri Si Mas Bayu atau Stevani ini mantan rekan bisnis yang nilep duitnya atau malah keduanya, sehingga Mas bayu bangkrut haha nebak2.
    Sering terjadi di kota2 besar :P
    Emang agak nyesek yaaa ada bisnis dibangun berdua suami istri lalu pas keduanya misah ada aja konfliknya.
    Aaah tak sabar mau tahu kelanjutannya :D

    BalasHapus
  9. Wah mulai seru nih
    Uda kelihatan konfliknya
    Ini jangan jangan apa hayoo
    Oke mari ke bab selanjutnya
    Keren mbak aci, terus semangat nulis novelnya yaa

    BalasHapus
  10. Saya paling suka saat Mas Bayu datang, dan Stevani terkejut melihatnya. pastilah ada sesuatu diantara mereka. Mungki Stevani ini mantan istrinya yang membawa kabur uang perusahaan. Mbak Asri ciamik banget menulis ceritanya. membuat pembaca penasaran dengan membiarkan tokoh utamanya menjauh dari masalah sehingga hadir tanda besar di kepala pembaca hehehe.

    BalasHapus
  11. Kayaknya udah mulai terbentuk puzzle nya yaaaa 😄👍👍. Dan aku tetep penasaran Krn stop nya di saat yg bikin pengen tahuuu ❤️.

    Sukaaa kalau dibuat singkat begini, JD bacanya juga bisa ttp fokus mba. Kalau terlalu panjang, yg ada malah lupa duluan cerita sebelumnya

    BalasHapus
  12. Apakah Stevi istri Bayu yang membawa kabur hartanya hmm, sepertinya akan rumit. Siapakah 'Kita'? Apakah Bayu dan Stevi? Kusabar menanti deh

    BalasHapus
  13. Wah apakah stevani ini mantan istri bayu? Makin menarik nih ceritanya

    BalasHapus
  14. Kirain itu selingkuhannya, eh malah lebih parah lagi. Bakal lebih seru lagi nih kalo udh masalah duit. Biasanya sih kalo udh masalah duit, apalagi kalo sampe bangkrut, bs merembet ke lainnya.

    Bs ke urusan rumah tangga, kayak selingkuh, cekcok, ribut dengan mertua, marah dgn anak, debt collector, beuuuh ke mana2 deh. Blm lagi kalo ada urusan ama tetangga atau ama teman.

    Nggak sabar nih nunggu kelanjutannya.

    BalasHapus
  15. Bener-bener deh bikin penasaran sama kelanjutan ceritanya,,,,baca novel sepotong-sepotong gini seperti makan cake yang enak tapi gak bisa makan banyak cuma bisa sesuap sesuap hehe. Jadi ada apa anatara Stevi dan Bayu??

    BalasHapus
  16. Jangan-jangan Stefani istrinya? Duh ya. Usaha bangkrut gegara duit dibawa kabur istri. Nggak kebayang tiba-tiba istrinya muncul. Kaget sudah pasti lah woi. Kagak langsung didamprat sudah untung

    BalasHapus
  17. Tegaaanyaa..
    Diakhiri dengan "Jangan jangaaan..."
    Katanya sii.. gak boleh berprasangka yaa.. aku masih berpikir ini gak ada apa-apa niih.. hahaha... sungguh sangat positif sekalii...

    BalasHapus
  18. Duh ada kisah dibawa kabur...
    Semoga segera membaik kondisinya
    Aku tuh penasaran langkah selanjutnya di Denpasar mereka ngapain, haha

    BalasHapus
  19. Jangan-jangan apa ? aduh cepetan terusin ceritanya karena bikin penasaran apalagi kisah suami yang uangnya dibawa kabur sama istri ini bisa jadi plot twist baru yang seru untuk dijadikan kisah selanjutnya Ayo cepat lanjutkan

    BalasHapus
  20. Ah bisa aja bikin ending menggantungnya, kan jadinya pinisirin nunggu part selanjutnya.

    Yo wis, ta sabar nungguin aja nasib Mas Bayu, Stevi, Ana dan yang lainnya..

    BalasHapus
  21. Malah penasaran seganteng apa MAs Bayu (uhuk-uhuk). Bagus ceritanya, kep on writing, Mbak Astri. Hebat euy, bisa nulis fiksi dan non fiksi juga.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer