Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 2)
"Halo!"
Akhirnya panggilan itu tersambung.
"Mas Bayu, aku menemukannya. Aku menemukan Stevani Adisty!" seruku dengan napas memburu, nyaris tak percaya pada kalimat yang baru saja kulontarkan.
Kudengar napasnya tercekat di ujung sana. Hening sejenak, lalu suara beratnya terdengar bergetar. "Di mana dia, Danu?"
"Aku belum tahu pasti. Nanti kutanyakan ke Ana. Aku menemukan kartu nama ini di novel yang dia baca," jelasku cepat, seolah waktu tak mau menunggu.
"Baiklah... Hubungi aku segera kalau ada informasi selanjutnya," ucapnya lirih, sebelum menutup sambungan telepon. Aku bisa membayangkan betapa campur aduknya perasaannya saat ini.
Mas Bayu adalah kakak sepupuku dari pihak ayah. Dia orang pertama yang mengajakku datang ke Bali setelah lulus kuliah. Kami bekerja bersama dalam event organizer yang telah ia rintis bersama istrinya selama tiga tahun sebelum aku bergabung. Semua berjalan nyaris sempurna—hingga akhirnya musibah itu datang. Aku kehilangan pekerjaan. Dan lebih dari itu, kehilangan arah di pulau orang.
Pulang ke kampung halaman bukanlah pilihan mudah. Rasa malu menjadi penghalang. Aku mencoba bertahan dengan bekerja serabutan. Hingga takdir mempertemukanku dengan Ana. Gadis itu... bisa dibilang adalah dewi penyelamat dalam hidupku.
Aku tak sabar menunggu Ana kembali ke kantor, padahal dia baru saja pergi. Akhirnya, kukirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Sambil menanti balasannya, kuambil novel yang tadi hendak dia pinjam, lalu kumasukkan ke dalam tas.
Tak lama kemudian, pesan balasan dari Ana masuk. Aku segera bersiap.
"Salim, aku pergi dulu, ya," pamitku kepada Salim yang masih fokus di depan laptop.
"Mau ke mana, Mas?" tanyanya, tampak penasaran.
"Mau ketemu Ana," jawabku singkat sambil membuka laci, mencari kunci mobil.
"Loh, bukannya Mbak Ana tadi bilang mau ke sini lagi nanti?" Salim terlihat bingung.
"Batal. Sudah ya, aku pergi dulu."
Aku langsung melangkah keluar menuju tempat parkir, meninggalkan Salim yang kutahu pasti masih menyimpan banyak tanda tanya.
Kupacu mobil menuju lokasi yang baru saja dikirim Ana ke ponselku. Katanya, pertemuannya dengan Bu Heni sudah selesai, dan kini ia sedang bertemu dengan klien lain. Dia memintaku segera datang karena urusannya berkaitan dengan travel agent kami.
Jalanan Kota Denpasar cukup lengang siang ini. Kuatur suhu AC mobil ke tingkat paling rendah—cuaca di luar begitu panas dan menyengat. Entah kenapa, pikiranku justru melayang pada para pelatih surfing yang tubuhnya legam terbakar matahari.
Tak lama kemudian, sampailah aku di tempat yang dimaksud Ana—sebuah kafe kecil di daerah Sanur. Milestone Coffee, begitu nama yang tertulis di bagian depannya. Panas yang menyengat membuatku segera masuk ke dalam, menaiki tangga ke lantai dua, dan menemukan Ana duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu ramai
Di hadapannya, duduk seorang perempuan yang langsung membuat napasku tercekat.
Stevani Adisty.
Dia ada di sini. Di depan mataku.
Jantungku berdebar kencang, dipacu oleh amarah yang belum sepenuhnya padam. Tanpa sadar, kakiku melangkah cepat masuk ke dalam ruangan.
"Hai," sapaku datar begitu tiba di sisi meja mereka. Nada dingin itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Ana sontak berdiri dan menyunggingkan senyuman manis saat melihatku datang. Stevani pun ikut berdiri. Matanya membelalak kaget saat melihatku. Ia tampak salah tingkah, meski cepat-cepat mengatur ekspresinya agar tampak tenang.
Kutatap dia lekat-lekat. Tak banyak yang berubah. Tubuhnya masih tinggi dan ramping seperti lima tahun lalu. Rambut ikalnya yang panjang tetap dibiarkan tergerai membingkai wajah ovalnya. Kulitnya tetap seputih susu. Hanya kacamata putih gading dan riasan tebal di wajahnya yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang kuingat.
"Halo, Bang Danu. Akhirnya datang juga. Kak Stevi, ini Bang Danu yang tadi aku ceritakan. Dia direktur travel agent kami," ujar Ana riang, memperkenalkan kami tanpa sedikit pun menyadari aura ganjil di antara kami berdua.
Aku mengulurkan tangan demi sopan santun. "Danu," ucapku singkat, memperkenalkan diri—sekali lagi, setelah lima tahun.
"Stevi," jawabnya pelan sambil membalas jabat tanganku.
Sentuhan singkat itu seperti membuka kembali peti berisi masa lalu. Amarah yang sempat mereda, kembali naik ke permukaan. Aku harus segera keluar dari ruangan, mengatur napas, dan berbicara dengan Mas Bayu.
"Ana, Stevi, aku permisi ke toilet sebentar," ucapku, menahan gejolak dalam dada.
"Kamu mau pesan minum apa, Bang?" tanya Ana.
"Seperti biasa," jawabku sebelum beranjak pergi.
Begitu pintu toilet tertutup, aku segera merogoh tasku dan mengeluarkan ponsel. Kutekan nomor Mas Bayu. Panggilan langsung tersambung hanya dalam satu dering.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya cepat,
Bisa kubayangkan sedari tadi dia duduk memandangi ponselnya sambil menunggu telepon dariku.
"Dia di sini," ucapku pelan, menatap cermin di depanku, seolah ingin memastikan semuanya benar.
"Baru saja kami bertemu..."
Baca bab selanjutnya >>>
***
Catatan penulis:
Halo! Salam kenal semua.
Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com
Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 2 ini sampai akhir.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.


Komentar
Posting Komentar