Novel Online: Aku untuk Kamu (Bab 7)
Nayla terperanjat. Ia mendongak, menatap pria asing yang kini berdiri di hadapannya. Sosok itu tinggi dengan bahu bidang, setelan hitamnya terpasang rapi, kontras dengan kulitnya yang bersih. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sorot matanya tajam namun menyimpan kehangatan yang anehnya membuat Nayla sulit berpaling. Seolah-olah tokoh utama drama Korea yang selama ini hanya ia saksikan di layar kaca tiba-tiba menyeberang ke dunia nyata dan berdiri di hadapannya.
Mulutnya sempat terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Yang tersisa hanyalah rasa kagum bercampur gugup.
Arsa mengulurkan tangan dengan percaya diri, seperti menyambut seseorang yang sudah lama ia kenal. “Aku Arsa,” ucapnya singkat, sambil meneliti penampilan Nayla dari kepala hingga kaki—gaun biru muda, rambut panjang tergerai, dan bunga lili putih di pangkuannya. Semuanya sesuai ciri yang disebutkan Tomi.
Nayla semakin bingung. “Maaf, sepertinya—”
Namun Arsa tidak memberi kesempatan Nayla untuk menjelaskan. Ia mencondongkan tubuh, lalu berkata, “Waktu kita tidak banyak. Ayo ikut aku.”
“Eh, tapi saya bukan—” Nayla tak sempat melanjutkan. Arsa sudah menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya.
Meskipun tarikan tangan itu lembut, Nayla mau tak mau tetap baranjak dari tempat duduknya. Seketika buket bunga lili yang sedari tadi ada di pangkuannya jatuh ke lantai.
“Bungaku!” seru Nayla. Ia buru-buru merunduk untuk mengambilnya.
Langkah Arsa otomatis tertahan. Karena masih menggenggam tangan Nayla, ia ikut setengah membungkuk dengan ekspresi tak percaya. “Serius? Saat seperti ini kamu masih mikirin bunga?”
Nayla mendongak dengan wajah kesal. “Emang kita mau ke mana sih?”
Arsa hanya mengedikkan bahu, lalu kembali melangkah cepat sambil tetap menarik tangannya. Nayla hampir terseret, namun tetap berusaha menjaga agar bunganya tidak jatuh lagi.
Setelah menaiki lift, mereka berhenti di depan sebuah pintu besi bertuliskan Staff Only. Dengan cepat, Arsa mengeluarkan kartu akses dari sakunya dan menempelkannya pada mesin pemindai. Pintu berbunyi klik, lalu terbuka, menyingkap sebuah ruang lengang dengan tangga menuju lantai atas.
“Buruan,” ajak Arsa.
Nayla ragu sejenak, tapi genggaman tangan Arsa cukup kuat dan membuatnya tak punya pilihan selain ikut menapaki anak tangga. Jantungnya berdebar semakin kencang, masih bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu sampai di atas, Arsa mendorong pintu terakhir. Cahaya matahari langsung menyergap, membuat mata Nayla sempat terpejam karena silau.
“Kita bicara di sini saja. Tempat ini aman.” Arsa membuka percakapan tanpa menyadari raut bingung yang masih terlihat jelas di wajah Nayla. “Kamu sudah paham apa job-mu sore ini?”
Nayla spontan mengerutkan kening. “Job? Job apa?”
Arsa menghela napas. Tatapannya meneliti Nayla dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Jangan bercanda, Alina. Kita sudah sepakat, kan? Kamu cuma perlu pura-pura jadi pacarku hari ini. Setelah acara ulang tahun Kakek selesai, urusan kita beres.”
“Maksudmu, aku jadi pacar sewaan?” Mata Nayla melebar. Suaranya tercekat, antara kaget dan tak percaya.
Melihat ekspresi polos itu, dahi Arsa mengernyit. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka email, lalu mencari foto Alina yang dikirim oleh Tomi.
Arsa menatap layar, lalu menoleh ke Nayla bergantian. “Tidak mungkin salah. Kalian mirip.”
Nayla ikut mengintip layar itu, lalu spontan berseru.
“Itu memang mirip aku, tapi jelas bukan aku!” Ia menunjuk bagian bawah mata kanannya. “Coba lihat baik-baik, aku tidak punya tahi lalat seperti gadis di foto itu!”
Arsa menatap Nayla lebih teliti, lalu menepuk dahinya sendiri. “Astaga… jadi aku salah orang?”
Nayla menyilangkan tangan di dada, menatapnya setengah kesal, setengah geli. “Sudah jelas kan!”
Arsa tampak panik. Ia buru-buru membuka ponsel dan mencoba menghubungi nomor Alina yang diberikan Tomi. Sudah hampir sepuluh menit ia berusaha, tapi panggilannya tak kunjung diangkat.
Bukannya pergi, entah kenapa Nayla malah berdiam diri di tempatnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasa penasarannya lebih besar daripada dorongan untuk meninggalkan pria asing itu.
Nayla diam-diam menikmati pemandangan kota siang itu. Keheningan sejenak melingkupi mereka. Dari tempat mereka berdiri, pemandangan sekitar terlihat indah.
Arsa melirik jam tangannya. Empat puluh lima menit lagi acara akan dimulai. Ia harus segera menuju ruang pertemuan. Tidak boleh terlambat, apalagi datang sendirian. Reynand pasti akan menjadikannya bahan olok-olokan seisi keluarga. Arsa pun berjalan mendekati Nayla.
“Alina tidak bisa dihubungi. Acara sebentar lagi dimulai, dan aku tidak punya cadangan. Maukah kamu membantuku? Kalau kamu tidak mau, habislah aku.”
Nayla membuka mulut dan siap menolak. Namun tatapan Arsa yang memelas membuatnya urung berbicara. Ada sesuatu di sorot mata itu yang menimbulkan rasa kasihan sekaligus rasa ingin tahu.
“Aku akan membayarmu berapa pun,” lanjut Arsa. “Atau kamu boleh meminta apa pun kepadaku selama satu tahun ke depan. Asal kamu mau membantuku sore ini.”
Uang. Kata itu langsung terngiang di kepala Nayla, menggema lebih keras daripada suara jantungnya sendiri. Ia sangat butuh uang untuk melunasi hutang almarhum ayahnya. Tapi benarkah caranya harus seperti ini?
Nayla menunduk, mengetuk-ngetukkan sepatu hak tinggi putih yang masih terasa tidak nyaman itu ke lantai beton. Kalau aku bisa dapat uang sore ini, mungkin sebagian beban itu bisa berkurang.
“Kenapa harus aku?” gumam Nayla.
“Karena kamu kebetulan ada di sini,” jawab Arsa tanpa ragu, lalu ia terlihat menahan senyum kecil. " Dan kamu cukup meyakinkan untuk menjadi pacarku.”
Pipi Nayla merona mendengar kalimat itu. “Masuk akal. Tapi… siapa namamu tadi?”
“Arsa. Arsa Wirasatya.” Arsa mengulurkan tangannya sekali lagi.
“Nayla.” Tangannya terulur, menjabat tangan Arsa dengan malu-malu.
“Jadi, deal? Kamu mau bantu aku?” Arsa menatapnya penuh harap.
Nayla tampak menimbang-nimbang.
“Kamu sungguh akan membayarku?” tanyanya nyaris berbisik.
“Berapa pun,” jawab Arsa cepat. “Dan bukan cuma uang. Kamu boleh meminta apa saja. Aku janji, selama satu tahun penuh aku akan menepatinya.”
Nayla hendak menyetujui tawaran itu. Namun tiba-tiba ia menggeleng frustasi. Pergolakan batin masih berkecamuk dalam dirinya. Di satu sisi ia ingin menerima tawaran itu, tetapi di sisi lain rasa takut terus menghantui. Akhirnya, ia justru mengomel sendiri.
“Ini tidak masuk akal. Aku tidak kenal kamu, tidak tahu keluargamu, tapi mendadak harus berpura-pura jadi pacarmu.”
“Kan tadi kita sudah kenalan,” jawab Arsa polos. “Lagipula aku tidak akan menipumu atau melakukan hal buruk. Kita hanya akan berada di ruangan penuh orang, berbincang, makan, lalu selesai.”
Arsa kembali menambahkan, “Tapi aku memang harus menjelaskan beberapa hal. Acara sore ini adalah pesta ulang tahun kakekku yang ke-85. Akan ada ayahku, mamaku, juga kakak tiriku, Reynand. Selain itu, beberapa om, tante, dan kenalan keluarga juga hadir.”
Arsa membuka ponselnya dan memperlihatkan foto keluarganya. “Ini ayahku, ini mamaku, dan ini Reynand.”
Mata Nayla langsung membesar melihat foto itu. “Kamu anak Bu Ratna? Pemilik restoran ini?”
“Iya. Jadi tenang saja. Aku tidak mungkin menipumu.”
“Ya ampun…” Nayla menepuk kening, wajahnya mendadak panik.
“Ada apa?” Arsa mengernyit reaksi Nayla.
“Aku asisten barunya. Kami baru selesai wawancara beberapa jam yang lalu. Bu Ratna itu bosku!” Nayla mencoba menjelaskan dengan singkat.
Kini giliran wajah Arsa yang memucat. Sebelum ia sempat merespons, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Reynand tertera di layar. Dengan enggan, Arsa mengangkat panggilan itu.
“Kenapa kamu belum datang? Apa pacarmu kabur?” suara Reynand terdengar mengejek di seberang.
Arsa mengatupkan rahangnya. Tanpa pikir panjang ia langsung memutuskan panggilan.
“Persetan dengan apa yang akan terjadi. Kita tetap lakukan sesuai rencana.” Detik itu juga Arsa kembali menggenggam pergelangan tangan Nayla, menarik gadis itu untuk mengikutinya.
Baca bab selanjutnya >>>
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 7 cerita ini. Bab ini adalah bab terakhir yang saya unggah di blog, ya. Untuk membaca lanjutannya silahkan mampir ke link ini. Kalian bisa membaca lanjutannya di aplikasi atau website KBM.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Berarti Nayla dan Arsa ini adik kakak?
BalasHapusSama sama anak Bu Ratna?
Aduh udah mulai sedih duluan nih saya
Walaupun belum tentu antara Nayla dan Arsa bakalan ada rasa, tapi biasanya kisah seperti itu kan. Haha... Bikin ketar ketir pengarang nih
Apakah bakalan pada umumnya atau justru punya kisah yg beda dari yang lain?
Lanjut...
Wah nggak kerasa ini udah sampai di bagian penutup kisah Nayla dan Arsa yang dapat dibaca gratisan di blog ini. Selanjutnya harus baca di apps ya, semoga banyak yang tertarik untuk berlangganan sebab rasa penasaran mereka terkait bagaimana hubungan Nayla dan Arsa ke depan. Aku salut bagi para penulis fiksi terlebih novel. Sebab, buatku, nulis cerpen aja itu rasanya susah dan butuh komitmen yang kuat banget haha.
BalasHapusUwaaaaaahhh ini plot twist. Aku ga nyangka Arsa anaknya Bu ratnaaaaa. Padahal feelingku Nayla juga anaknya bu ratna 😅😅. Kalau tebakan ku bener, mereka adik kakak dooong 🤣🤣🤣. Eh tapiiii itu kan tebakanku doang 😁. Tetap setia menanti kelanjutannya mbaa 😄👍
BalasHapus