Novel Online: Aku untuk Kamu (Bab 6)
Nayla mengikuti Dini keluar dari kantor Ratna, Mereka menuju lift untuk turun ke ruang staf di lantai dua.
Begitu memasuki ruang staf, mereka menghampiri seorang pria paruh baya berkemeja krem yang sedang serius di depan komputer.
“Pak Andi,” sapa Dini dengan sopan, “Ini Nayla, asisten baru Bu Ratna.”
Pria itu menoleh. Senyum tulus mengembang di wajahnya.
“Ah… syukurlah Bu Ratna sudah mendapat asisten baru. Posisi itu kosong hampir tiga bulan, sejak yang sebelumnya mengundurkan diri karena hamil.”
Nayla hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan itu. Kemudian Andi bangkit dari kursinya, lalu mengulurkan tangan. “Saya Andi, manajer operasional restoran. Kalau ada kesulitan, jangan sungkan bertanya.”
Dengan sedikit kikuk, Nayla buru-buru menyambut uluran tangannya. “Te-terima kasih, Pak. Senang berkenalan dengan Anda.”
“Sama-sama, Nayla,” jawab Andi, lalu melirik ke arah Dini. “Jadi, seperti biasa? Makan siang gratis setelah tanda tangan kontrak?”
“Betul sekali, Pak.” Dini tersenyum, lalu menoleh pada Nayla. “Kalau begitu, selanjutnya kamu sama Pak Andi, ya. Saya kembali dulu ke meja.”
“Terima kasih, Mbak Dini.”
Dini melambaikan tangan sebelum berlalu. Setelah pintu ruang staf tertutup, Andi kembali fokus pada Nayla.
“Mari, saya antar ke restoran,” ucapnya sambil melangkah lebih dulu menuju lift. Nayla mengikuti di belakang sambil memandingi punggung Andi di depannya.
Menurut perkiraan Nayla, usia Andi sudah menginjak kepala lima. Rambutnya yang memutih tersisir rapi dan kemejanya tampak pas di tubuhnya yang berpostur tegap. Selama ini, orang-orang dengan penampilan seperti itu hanya ia lihat di sinetron atau drama. Nyatanya, di dunia nyata memang ada yang seperti ini.
Begitu melangkah masuk ke dalam restoran, aroma harum masakan langsung menyambut. Area makan indoor ini memadukan sentuhan Jawa dengan gaya modern. Deretan meja kayu mengilap tertata rapi, kursi-kursi yang senada tertata rapi di sekitarnya, tampak kokoh sekaligus elegan. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang dan area parkir, membuat ruangan dipenuhi cahaya alami. Di beberapa bagian dinding, kain batik dan ukiran kayu menghiasi interior, menambah nuansa etnik dalam ruangan.
Para pengunjung, mulai dari keluarga hingga eksekutif, tampak menikmati hidangan mereka. Beberapa pelayan berbaju kebaya dan batik mondar-mandir dengan sigap, membawa nampan berisi hidangan tradisional yang ditata dengan sentuhan modern.
Nayla menelan ludah. Ia belum pernah masuk ke tempat seindah ini. Selama ini, tempat makan baginya identik dengan warung sederhana atau rumah makan Padang. Tidak pernah terbayangkan dirinya bisa berdiri di restoran semewah ini.
Andi tersenyum, menepuk ringan pundak Nayla. “Silakan pilih tempat yang nyaman. Kita makan dulu.”
Nayla memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Dari sana, Nayla bisa melihat pepohonan kecil yang ditata rapi, gazebo beratap ijuk, hingga sebuah pendopo di tengah halaman rumput luas yang digunakan sebagai area makan semi outdoor. Suasana asri itu menyatu dengan elegan, membuatnya seperti berada di dua dunia sekaligus.
Tak lama, seorang pelayan datang, meletakkan dua buku menu di atas meja. Sampulnya tebal berwarna cokelat tua dengan motif batik sederhana.
Nayla menatap takjub buku menu di depannya. Halamannya berwarna-warni, dengan tipografi elegan dan deretan nama makanan yang sebagian besar ia kenal, namun terasa asing karena dipresentasikan secara mewah.
“Silakan pilih apa saja, Nayla,” ucap Andi. “Saya bisa menjamin semua makanan di sini enak.”
Nayla mengangguk, lalu kembali menatap menu. Matanya membesar melihat harga di samping setiap hidangan. Angka-angka itu membuat perutnya justru menciut. Satu porsi saja lebih mahal dari uang belanja seminggu ibunya.
“Pak, kalau saya pesan yang sederhana saja, boleh kan?” tanyanya lirih. Ia takut memilih sesuatu yang terlalu mahal.
Andi kembali tersenyum “Nayla, kamu tidak sedang makan di warung. Anggap saja ini bagian dari pengalaman barumu. Pesanlah yang kamu suka. Lagipula, semua ini sudah ditanggung perusahaan.”
Pelayan kembali dengan catatan di tangan. Dengan ragu, Nayla akhirnya memesan paket nasi liwet, sate ayam, dan es teler.
Setelah pelayan berlalu, Nayla meremas ujung gaunnya. “Saya benar-benar tidak menyangka bisa duduk di tempat seperti ini.”
Andi tertawa. “Kalau kamu bekerja dekat dengan Bu Ratna, akan ada lebih banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Jadi, semua ini baru permulaan."
Sambil menunggu makanan datang, Andi dan Nayla terlibat percakapan ringan. Andi menanyakan latar belakang gadis itu, sementara Nayla banyak bertanya tentang restoran dan juga Ratna, bos barunya. Obrolan itu membuat suasana menjadi lebih hangat. Rasa canggung Nayla perlahan mencair.
Tak lama, hidangan yang mereka pesan tiba. Seorang pelayan datang dengan gerakan anggun, meletakkan piring demi piring di atas meja. Paket nasi liwet tersaji dalam wadah keramik putih beralaskan daun pisang tipis, lengkap dengan ayam goreng, tahu, tempe, ikan asin, sambal, dan sayuran segar yang ditata laksana karya seni.
Sate ayam pun tak kalah menawan. Tusukannya tersusun rapi di atas piring panjang, kuah kacangnya dituangkan dari mangkuk kecil, lalu dihiasi irisan acar dan taburan bawang goreng. Es teler hadir dalam gelas kristal tinggi, dengan potongan alpukat, kelapa muda, dan nangka berkilau di antara es serut dan susu kental manis.
Nayla menatap semua hidangan itu nyaris tak percaya. "Biasanya aku hanya bisa melihat makanan cantik begini dari media sosial. Nggak pernah terbayang bisa mencicipinya langsung," batinnya.
Dengan perlahan, Nayla mengambil sendok dan garpu. Satu suap pertama membuat matanya sedikit membesar. Nasi gurih berpadu dengan ayam goreng hangat dan sambal pedas yang menggigit, rasanya begitu sempurna.
“Enak?” tanya Pak Andi sambil tersenyum melihat ekspresinya.
Nayla cepat-cepat mengangguk, pipinya memerah. “Enak sekali, Pak. Saya belum pernah makan nasi liwet seenak ini.”
Pak Andi tertawa lagi, "Lain kali kamu harus mencoba menu-menu lainnya."
Setelah itu kedua kembali sibuk dengan makanan masing-masing.
Usai makan, Andi melihat jam tangannya dan menyadari jam istirahatnya sudah hampir berakhir. “Baiklah, Nayla. Saya harus kembali ke ruangan. Kamu tunggu saja di lounge depan restoran, nanti Pak Darma akan menjemputmu.”
Nayla buru-buru berdiri, lalu membungkuk kecil. “Terima kasih banyak, Pak.”
Andi tersenyum, lalu melangkah menjauh. Begitu Andi tidak terlihat lagi, Nayla memutuskan untuk ke toilet sebentar. Ia menghampiri salah satu pelayan dan menanyakan letaknya.
Toilet restoran itu bersih dan terawat. Dindingnya dilapisi keramik berwarna krem dengan aksen ukiran kayu di beberapa sudut, menghadirkan kesan sederhana namun elegan.
Saat Nayla keluar dari bilik toilet, ia mendengar suara pelan seperti keluhan. Seorang nenek tampak berdiri di dekat wastafel, tubuhnya ringkih dan tangannya bergetar saat berusaha meraih keran. Tas belanja kecil yang dibawanya terjatuh ke lantai.
Nayla pun segera menghampiri.
“Nenek, tidak apa-apa?” tanyanya cemas sambil menopang tubuh si nenek agar tidak jatuh. Ia kemudian membungkuk mengambil tas itu, sekaligus menutup keran air yang masih menyala.
Nenek itu menatapnya dengan mata teduh. Senyum lemah mengembang di wajah keriputnya.
“Terima kasih, Nak. Tangan nenek sudah tak sekuat dulu. Kadang suka tiba-tiba gemetar dan sulit digerakkan.”
“Tidak apa-apa, Nek. Saya senang bisa membantu,” jawab Nayla tulus. Ia pun menuntun nenek itu keluar dari toilet.
Ternyata nenek sudah memesan taksi. Sambil menunggu, Nayla menemaninya duduk di bangku kayu dekat pintu masuk. Angin sore berhembus lembut, menghadirkan ketenangan.
Sebelum naik ke dalam taksi, sang nenek merogoh sesuatu dari dalam tas belanjaannya. Ia mengeluarkan sebuket bunga lili putih yang masih segar. Buket itu dihiasi pita putih sederhana namun cantik. Wanita itu menyerahkannya pada Nayla.
“Ambillah, Nak. Nenek tadi membelinya, tapi rasanya lebih cocok untukmu. Gadis cantik dan berhati baik sepertimu pantas menerima bunga ini.”
Nayla tertegun. Jemarinya sedikit bergetar saat menerima buket itu.
“Tapi, Nek… saya tidak enak. Bukankah ini milik Nenek?”
Nenek itu tersenyum sambil menepuk lembut tangan Nayla.
“Tidak apa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Senyum dan bantuanmu lebih berharga daripada bunga ini.”
Nayla pun menerimanya dengan senang hati. Hari ini sungguh banyak hal baik yang sudah terjadi padanya.
Tak lama, taksi tiba. Dengan hati-hati Nayla membantu nenek itu masuk ke kursi belakang. Sebelum pintu tertutup, wanita yang sudah renta itu kembali melambaikan tangan sambil tersenyum hangat.
Nayla berdiri terpaku, memeluk erat buket bunga lili putih di dadanya. Ada kehangatan yang menjalari hatinya.
Setelah taksi berlalu, Nayla melangkah kembali masuk ke lounge di dalam restoran untuk menunggu Pak Darma. Kursi-kursi kayu panjang dengan bantalan empuk berwarna krem disusun berhadapan, dengan meja kecil berisi majalah bisnis dan vas bunga segar. Ia duduk sambil menunduk, masih tak percaya dengan semua kejadian hari ini. Buket bunga lili putih kini tergeletak di pangkuannya.
Saat itulah, seorang pria tinggi berbalut setelan hitam rapi memasuki lounge. Sorot matanya tajam, namun ada sedikit kelegaan yang terpancar ketika pandangannya jatuh pada Nayla. Dengan percaya diri, ia menghampiri dan berdiri tegak di hadapannya.
“Kamu Alina, kan?” suaranya dalam dan mantap. “Akhirnya kita bertemu.”
Baca bab selanjutnya >>>
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 6 cerita ini.
Aku Untuk Kamu adalah novel online saya yang kedua. Novel ini tayang di KBM App, tapi sayangnya belum tamat, baru sampai Bab 35. Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel ini berbayar, ya. Jadi saya hanya akan mengunggah di blog ini sampai Bab 7 saja. Hehehe...
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Naaaah bener kan ketuker Ama Alina 😄😄. Apalagi Nayla bawa bunga juga sih 🤭 . Trus tadinya aku tuh agak negative thinking Ama pak Andi. Kirain dia mau berbuat ga baik ke naya, tapi kayaknya ga yaaa 😅😅.
BalasHapusMakin seruuuuuu mbaaaa. Beneran ih ga sabar mau baca lanjutannya. ❤️❤️👍
Aw Nayla si anak baik..Kalau zaman sekarang perempuan seperti Nayla ini jarang ya. Ada tapi jarang ketemu aku. Yang peduli sama Nenek yang sedang kesulitan dan menolong dengan tulus. Btw siapakah lelaki bersorot mata tajam itu.. penasaran jadinya next ceritanya
BalasHapusTuh bener kata saya kemarin. Ka TF ena bajunya bakalan ketuker sama Alina
BalasHapusPada bawa bunga juga
Asyik nih mulai ada bocorannya jalan cerita
salah satu kutipan cerpen ini yang menarik adalah sikap empati dari nayla terhadap nenek. memberikan bantuan secara sukarela dan dihadiahi bunga adalah gambaran bahwa setiap kebaikan meskipun kecil akan dibalas dengan kebaikan pula. salut dengan kebaikan nayla
BalasHapusTakdir lagi mempermainkan mereka bertiga. Alina yang naksir. Alina yang punya rencana jadi pacar sewaan. Eh lha kok dia kecelakaan.
BalasHapusNayla yang nggak punya niat apa-apa, malah ketemu nenek dan dikasih bunga lili.
Apakah nanti Nayla akan kejatuhan cinta? hehehe...
Salah satu nikmat dari Allah itu adalah bisa makan makanan yang sebelumnya cuma bisa dilihat dalam foto atau saat orang lain makan. Rupanya, bisa menikmati makanan tersebut dalam bentuk yang sebenarnya. Jadi, hidup ini memang banyak keajaiban. Asal tetap berprasangka baik kepada Allah saja, itu intinya. Nah, sampai di sini, siapa yang mau traktir saya nasi liwet juga, ya?
BalasHapusLhoo ketuker kan, lalu siapa ya lelaki berotot itu? Hmm makin bikin penasaran.
BalasHapusKeren mbak aci, ceritanya makin seru.
Jadi nggak sabar baca cerita selanjutnya
wah makin menarik nih si Nayla malah dikira Alina. Jadinya nanti Nayla dong yang jadi pacar sewaan trus gimana ya nanti reaksi Alina pas tahu dirinya sudah digantikan?
BalasHapussuka sama karakter Nayla. Walaupun masuk ke lingkungan baru dan restoran mewah, dia tetap rendah hati dan bersikap sopan. Momen pas dia bantuin nenek-nenek di toilet juga manis banget, bikin tersentuh waktu dapet bunga lili putih. Penggambaran suasana restorannya dapet banget, berasa ikut nemenin Nayla makan nasi liwet dan es teler. Tapi bagian ending-nya bikin penasaran setengah mati! Siapa pria berjas hitam itu? Kenapa dia manggil Nayla dengan nama Alina?
BalasHapusHuaah, aku sempet nebak pasti bunga itu penting, ahaha. Bener ya jadi bikin salah sangka. Penggambaran suasana restorannya jadi bikin aku inget tempat makan di Depok sini deh, walaupun mungkin gak semewah itu juga ya. Tapi nuansa Jawa nya kental banget kalau ke sana.
BalasHapusNayla, nama yang indah, dan akhlaknya juga indah. Sudah rajin bekerja, good attitude, diajak makan gratis pun gak aji mumpung.
BalasHapusAlhamdulillah yaa kalau bossnya baik dan lingkungan kerja juga green flag.
ssaya banyak belajar narasi dari chapter ini.
Lah itu Nayla, Om... bukan Alina.
BalasHapusAlina lagi absen, soalnya dia masak dulu di dapur buat persiapan malam tasyakuran 17 Agustusan.
Eh ga disangka itu Om yang manggil ternyata malah yang mau anter makanan dan dus minuman... Gitu kali ya kelanjutannya hehe
Nah kan. Bener tebakan ku sebelumnya. Alina ketuker sama Nayla. Yaampun sweet banget ini bakalan sih hehehehe. Jadi makin penasaran sama kelanjutannya deh mbak.
BalasHapusRapi dan enak banget dibacanya pun ini cerita. Dan ikut takjub sama kehidupan Nayla yang mulai terangkat sekali. Alhamdulillah dia juga emang gadis yang baik ya.
Jadi Nayla ketuker sama Alina ternyata jadinya manis banget ya dan lumayan bisa membuat penasaran semoga bakal terus ada lanjutannya supaya bisa memenuhi Rasa kepo-an Ini
BalasHapusNayla ini karakternya lembut dan penyayang ya, kalau misalnya hidup di dunia nyata pasti anggun sekali he...he....duh malah ketukar sama Alina lagi, jadi semakin penasaran dengan kelanjutannya.
BalasHapusNah kan? Endingnya plot twist banget. Pasti bnyk yang menyangka kalo Nayla itu Alina. Kyknya persis prediksi kita semua pekan kemarin nih.
BalasHapusGa sabar nunggu kelanjutan episode selanjutnya. Apakah Alina bakal membayangi langkah Nayla? Atau Nayla akan berpura2 menjadi Alina selamanya?
kalau biasanya yang tertukar itu bayi di rumah sakit, eh ini ebih seru yang tertukar adalah gadis canrik. Nayla,,,,,apa yang akan kamu hadapi selanjutnya,,,,apakah akan bertukar menjadi Alina??? makin seru nih ceritanya
BalasHapusLha, malah keliru orang. Emang sebelumnya pas kenalan tu nggak ada tukeran sosmed minimal tahu gitu wajahnya haha.
BalasHapusHmmm, tapi kyknya jodoh nggak sih endingnya? Pokoknya nasib Nayla baik aja ke depannya? *nebak.
Nay...
BalasHapusKayaknya aku bener-bener terharuu dengan nasibnya yang semoga terus berjalan dengan baik yaa..
Ada banyak takdir yang gak Nay duga, namun satu per-satu masuk ke dalam kehidupannya.
Semoga Nayla setelah ini menjadi lebih berbahagia...