Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 10)
"Papi datang!" teriak Azka sembari berlari ke arah pintu.
Sesaat kemudian, kulihat Mas Bayu masuk ke ruang keluarga dengan Azka sudah berada dalam gendongannya. Pantas saja suaranya begitu familiar. Ternyata dia.
"Hai, Danu. Sudah lama datang?" sapanya ramah.
"Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu, Mas," jawabku singkat sambil tersenyum.
"Jadi kita sudah bisa makan kuenya, kan, Mami?" Azka ikut bersuara. Nampaknya ia sudah tidak sabar mencicipi kue yang sejak tadi memikatnya.
"Hahaha. Baiklah. Mari kita potong kuenya sekarang, ya," kata Stevani sambil melangkah ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali ke meja makan dengan sebuah pisau roti di tangan. "Sini, Azka yang potong kuenya," ujarnya sambil menyodorkan pisau kecil ke putranya.
"Foto dulu dong, Azka dan kuenya," sela Ana sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Azka pun berpose di depan kue dengan senyum lebar. Ana mengambil beberapa foto, lalu kembali memberi instruksi, "Sekarang foto bareng Mami dan Papi."
Stevani dan Mas Bayu berdiri di kanan dan kiri Azka, dan Ana dengan cekatan mengabadikan momen itu.
"Oke, selesai! Sekarang waktunya potong kue," kata Ana sambil tertawa kecil.
Azka memotong bagian pertama kue dengan semangat. Potongan-potongan berikutnya dilanjutkan oleh Stevani. Dia membaginya menjadi beberapa bagian, lalu menyajikannya kepada kami dalam piring-piring kecil, lengkap dengan sendok. Setelah menerima kue masing-masing, kami pun duduk di kursi makan.
Setelah kue habis, kulihat Ana mengambil semangkuk es buah dari atas meja. Es berwarna cerah itu terlihat segar dan menggoda. Aku pun mengikutinya.
"Makan besarnya mau sekarang atau nanti setelah salat Magrib?" tanya Stevani kepada kami.
"Nanti saja, Kak. Sekarang mau ngemil dulu," jawab Ana sambil menyendok es buah lagi.
"Iya. Sosis solo ini masih menggodaku," jawabku sambil mencomot sebuah sosis solo dari atas meja.
"Baiklah. Kalau begitu kita ngemil dulu sambil membahas acara minggu depan, ya. Biar nanti makannya lebih tenang," sahut Mas Bayu yang duduk di sebelah Stevani.
"Acara minggu depan? Ada apa memangnya?" tanyaku bingung.
"Proyek kita, Bang. Proyek wedding pertama kita," jawab Ana dengan nada bersemangat.
"Jadi… siapa yang menikah?" tanyaku lagi, masih belum sepenuhnya menangkap maksud pembicaraan mereka.
Namun tiba-tiba kesadaran perlahan menyusup ke pikiranku. Bukankah tadi aku berniat menelepon Mas Bayu untuk memberitahunya bahwa Stevani—klien kami—akan menikah? Tapi sekarang, Mas Bayu justru ada di sini. Jadi…
"Kami, Danu," sahut Stevani sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah Mas Bayu. "Aku dan Mas Bayu."
Aku terdiam sejenak. Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat itu.
Oke. Sekarang semuanya jelas. Stevani dan Mas Bayu akan menikah lagi. Bukan klien, bukan proyek orang lain, tapi mereka sendiri.
"Acaranya minggu depan. Tepatnya hari Sabtu," ujar Ana, menimpali dengan antusias. "Lokasinya di salah satu vila milik teman Kak Stevi, di Canggu. Acaranya sederhana saja, cuma akad nikah dan syukuran kecil. Paling banyak lima puluh tamu.”
Aku mengangguk pelan, masih mencoba menyelaraskan informasi ini dengan kenyataan yang baru saja terbentang di depanku.
"Enggak perlu ribet ngurus surat-surat atau undang petugas KUA," lanjut Ana, suaranya kini sedikit lebih pelan. "Karena secara hukum, mereka masih suami istri. Cuma ya… karena sudah lama pisah tanpa kabar, mereka merasa perlu meresmikan lagi secara agama.”
Aku menoleh ke arah Stevani dan Mas Bayu, yang kini duduk berdampingan. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan di antara mereka. Mungkin ini cara mereka memperbaiki sesuatu yang dulu sempat patah.
"Wah, selamat, ya," ucapku dengan tulus. "Semoga semuanya lancar. Tapi kenapa kamu nggak cerita sama aku dulu, Mas?" Aku melirik tajam ke arah Mas Bayu, setengah bercanda, setengah protes.
"Kejutan dong," jawab Mas Bayu sambil terkekeh santai.
"Tega banget!" seruku, antara kesal dan senang, sambil menggeleng pelan.
"Yuk, salat dulu," kata Ana cepat-cepat, mencoba mengalihkan suasana dan menutup percakapan yang mulai memanas.
Kami pun beranjak menunaikan salat Magrib berjamaah. Usai salat, suasana kembali cair dan hangat seperti sebelumnya.
"Kita makan malam, yuk!" ajak Stevani tak lama setelah kami selesai salat. Dia dan Ana segera menuju dapur. Kudengar bunyi kompor dinyalakan, diikuti semerbak wangi masakan yang langsung memenuhi ruangan.
Beberapa menit kemudian, aneka makanan ringan yang tadi tersaji di atas meja telah berganti menjadi hidangan utama dan penutup yang menggugah selera. Ada ikan asam manis, cumi goreng tepung, ayam goreng serai, capcay, mi goreng, aneka puding, dan potongan buah segar. Kelenjar air liurku langsung bereaksi.
Kami menyantap hidangan itu dengan khidmat. Tak ada yang berbicara, semua larut dalam kelezatan makanan masing-masing. Bahkan Azka yang biasanya ramai, tampak asyik menyantap cumi goreng tepung dan capcay favoritnya.
Keheningan baru pecah saat Stevani angkat suara.
“Nanti sepupuku akan datang di acara pernikahanku. Mungkin dia akan tinggal di Bali beberapa hari sambil mengurus persiapan pernikahannya juga. Kita bisa mulai bahas proyek wedding kedua dengannya sehari setelah acaraku.”
Ucapannya ditujukan kepada kami semua, tapi tampaknya Mas Bayu belum pernah mendengar kabar ini sebelumnya.
"Sepupumu? Siapa? Dia akan menikah di Bali?" tanya Mas Bayu, keningnya sedikit berkerut.
"Iya. Si Bima mau menikah. Anak Tante Sari yang tinggal di Jakarta. Kita pernah menginap di rumahnya waktu ke Jakarta enam tahun lalu, ingat?" jelas Stevani. "Calon istrinya ingin acaranya diadakan di Bali," lanjutnya.
"Oh, Bima," sahut Mas Bayu. "Nikah sama orang mana?"
"Sama orang Jakarta juga," jawab Stevani. "Tapi kalau nggak salah, dia aslinya dari Semarang. Sama kayak kalian berdua."
"Wah, kebetulan banget, satu kampung halaman sama kita, Dan," celetuk Mas Bayu. "Kalau nggak salah, Bima itu usianya nggak jauh beda sama Danu. Siapa nama calonnya? Siapa tahu Danu kenal. Kan dia anak gaul Kota Semarang," tambahnya sambil mengerling jahil ke arahku.
Stevani dan Ana tertawa mendengar celetukan itu. Aku hanya manyun, pura-pura tak tertarik.
"Siapa, ya?" Stevani tampak berpikir sejenak, mencoba mengingat. "Ah! Anjani. Namanya Anjani," katanya dengan mantap.
Seketika, suasana di meja makan berubah hening. Aku dan Mas Bayu refleks saling berpandangan. Tatapan kami saling bertaut, seolah ingin memastikan apa kami benar mendengar nama yang sama.
“Anjani?” suaraku nyaris tak terdengar, tapi cukup jelas untuk membuat Stevani menoleh.
"Iya. Kenapa?" tanyanya heran, melihat ekspresi kami berdua yang mendadak berubah.
Ana pun terlihat bingung dengan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi dingin, sementara Azka sudah menghilang dari meja makan dan asyik menonton televisi.
Aku menelan ludah. Di kepalaku, serangkaian kenangan berkelebat cepat, senyumnya, matanya, suaranya, bahkan caranya menyebut namaku.
Hari ini sudah dua kali nama Anjani muncul. Pertanda apakah ini?
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini dari Prolog sampai BAB 10.
Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Bagi kalian ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya


Jangan jangan benar calon Bima itu Anjani nya Danu yg menghilang sekian lama...
BalasHapusWah makin penasaran nih jalan ceritanya
Sing sabar ya Nu, kalau memang bukan jodohmu mau bagaimana lagi...
Hehe...
Tapi siapa tahu author mau ganti kisah nyata malah jadiannya sama kamu lagi. Semangat pokoknya Danu ya...
Aku dh baca cerita tentang anjani di tulisan sebelumnya hehehe dunia memang sesempit itu yaaaa..gak sabar baca novel ini secara utuh auto meluncur ke link biar bisa baca sampe puas ini..btw makasih mbaa sudah menuliskan novel yang cantik ini :)
BalasHapusYa iyalah suasananya jjadi dingin. Lha Anjani 'kan yang selama ini dicari-cari sama Mas Danu. Tapi bisa juga Anjani yang lain, Dan. Denial dulu. Hahaha...
BalasHapusJedheerrrr!! Ini kalo di sinetron Indosiar dah ada sound effect menggelegarrr, trus adegan tatap tatapan sambil melotot ceunah.
BalasHapusMemang hidup sebercanda ituu ya, terwakili banget dengan aneka twist di novel online ini.
Mantab jiwaa, mbaa
Surpriseee... ternyata ini jawabannya, wah makin seru aja nih
BalasHapusnah adegan yang pasti dinantikan adalah pertemuan antara anjani dan mereka semua, akan seperti apa nih kelanjutan ceritanya.
Bagaiman ya rasanya menghendle acara weddingnya mantan?
Tuh.. kan . benar yang datang adalah Bayu, Papa Azka. Terus kayaknya calon istri si Bima itu adalah mantannya Danu. Apalagi sama-sama dari SemarangPensaran endingnya. Apa cinta Danu akan bersemi lagi di Bali?
BalasHapusplot twist di akhir bab ini bikin merinding sekaligus penasaran setengah mati! Pas momen Mas Bayu sama Stevani mau rujuk nikah lagi rasanya udah hangat dan adem banget, eh mendadak nama Anjani keluar.
BalasHapusReaksi Danu yang langsung membatu itu dapet banget feel-nya, kebayang betapa kagetnya dia. Penulisan alurnya rapi dan transisi suasananya pas, dari yang hangat makan-makan langsung berubah tegang. Penasaran banget kelanjutannya
wah satset banget nih mas Bayu dan Stevani kayaknya baru kemarin ketemu lagi tiba-tiba sudah mau nikah ulang. Berarti mereka masih saling cinta ya jadi nggak perlu waktu lama buat memutuskan bersama lagi. Trus kaget dong ternyata Anjani mau nikah gimana ya nanti kelanjutannya?
BalasHapusYhaaa, aku langsung nelangsa pas denger nama anjani keluar lagi. Biasanya sih kalo begini, memang nantinya bakal nikah sama orang lain ya mbak'e.
BalasHapusTapi entah ini endingnya bakal dibawa kemana, penasaraaaaaan. Berarti kalo di posisi ada 2 kemungkinan ya :
1. Anjani beneran nikah sama orang lain, Karakter utamanya jadi sama Ana.
2. Anjani batal nikah, balik lagi sama karakter utama.
Lho lho lho, kok aku malah berspekulasi, hahahahaha
Iiiihh gemes sama Bayu Bayu ituuuu, bisa2nya ngerjain orang huwaaaa.
BalasHapusHmmm proses Bayu bisa berbaikan lagi sama Stevani juga bikin penasaran. Kok smooth2 aja niih? hehe
Owh, Anjani akhirnya bisa menerka dikit hei hei siapa dia. Khawatir banget kalau Danu ngiri pengen CLBK-an lagi ma mantan haha.
Aku malah ngejodohin karakter Ana aja sama Danu. Helloooo nggak semua-mua kudu CLBK yaa Danuuu. Kamu yang profesional aja *lha ngatur =))
Eh tapi tetep kepoh kenapa tu dulu putusnya?
Aduh Danu... baru aja tenang dengar Mas Bayu sama Kak Stevi mau rujuk, eh malah dikejutkan sama nama Anjani. Dunia fiksi emang sempit banget ya. Sing sabar ya Danu, semoga nanti pas wedding project kedua semuanya tetap lancar tanpa drama berlebihan.
BalasHapusAnjani?
BalasHapusAnjani, Kak Asri beneran nih?
Wah...wah pantesan Anjani diomongin terus, kan dia yang kemarin beli pecel di warungnya Bu Nana kan yak? Soalnya memang disebut terus namanya lewat toa masjid gegara mobilnya ga dipindahin juga dari lapangan, padahal kan itu lapangan mau dipakai buat lomba 17-an hehe
Tuh kan? Anjani lagi deh. Plot twist bgt ini. Jangan2 Anjani yg dulu ama mas Danu. Kenangan lama balik kembali deh tuh. Sabar ya mas Danu. Smg bukan Anjani-mu. Kalo pun iya, nunggu kejelasan episodenya minggu depan.
BalasHapusBakalan dibikin ending kyk gmn nih kak? Happy atau sad? Curiga nih bakal menitikkan air mata. Aku kalo jadi mas Danu jg bakalan bingung, harus sedih atau bahagia. Hiks.
Jujur membaca cerita ioni nseperti ikut masuk ke dalam ceritanya, ikut deg degan, ikut gemes. Dan akhirnya agak sedikit plong karena Emak dan Bapak Azka akhirnya rujuk, paling tidak mereka bisa menulis ulang dan memperbaiki "waktu kebersamaan yang sempat hilang". Meskipun akhirnya harus senam jantung lagi gara-gara Anjani, malah tambah penasaran kan jadinya?
BalasHapushmm apakah ini Anjani yang menghilang itu atau ada Anjani lain yang kebetulan namanya sama, wah Danu ga bisa tidur nih sampai dia ketemu Anjani yang dimaksud Stevani. Lanjutkan mbak
BalasHapusbeneran napasnyan panjang ya nulis novel itu
Aku tuh awalnya ikut lega pas tahu Stevani dan Mas Bayu ternyata mau menikah lagi. Kirain bab ini bakal berakhir hangat-hangat aja, eh tiba-tiba nama Anjani muncul dong 😂
BalasHapusLangsung kebayang gimana perasaan Danu saat dengar nama itu, apalagi kenangannya langsung bermunculan lagi. Aku tuh jadi curiga, jangan-jangan memang Anjani yang selama ini dicari Danu. Kalau benar dia calon istrinya Bima, wah proyek wedding kedua ini bakal menguji profesionalitas Danu banget sih. Makin penasaran sama pertemuan mereka nanti.
Satu sisi lega karena dua sejoli yang lama terpisah akan melangsungkan pernikahan secara agama supaya lebih afdhol. Sisi lain kasian sama Danu yaampun, kok ini Anjani kek nama mantannya itu.
BalasHapusGa sabar mau baca kelanjutannya nya. Ada yang bahagia dan ada yang terluka alias patah hati? Dududu Danu, kasian sekali.
Hmm apakah ini Anjani yang sama ya? Kalau iya, pasti Danu patah hati banget ya. Ditinggal mantan menikah, hmm tapi gimana lagi kalau bukan jodoh
BalasHapusMakin complicated niih..
BalasHapusHihihi.. penulis membawa pembaca ke konflik yang tak berujung niih.. biasanya, semakin ruwet permasalahan, semakin pembaca ketagihan dan sibuk menebak-nebak ending yang akan dicapai. Semoga ga sad end... jebaall~