Novel Online: Aku untuk Kamu (Bab 4)
Sedan hitam itu melaju mulus di jalanan kota. Nayla hanya menatap keluar jendela, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak stabil. Sesekali ia melirik Ratna yang duduk anggun di sampingnya. Perempuan itu begitu tenang, seakan setiap langkah hidupnya sudah terencana rapi. Sementara Nayla merasa seperti anak kecil yang tersesat di dunia asing.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah butik ternama dengan kaca etalase besar yang menampilkan deretan manekin berpakaian elegan. Lampu sorot dengan cahaya hangat membuat gaun-gaun dan setelan modern di dalamnya tampak mewah.
“Ayo, turun,” ucap Ratna.
Nayla menelan ludah, tangannya refleks menggenggam erat tali tas selempangnya yang lusuh. Begitu pintu butik terbuka, aroma lembut parfum ruangan langsung menyambut. Ia melangkah ragu, merasa setiap mata di butik itu tertuju padanya, meski sebenarnya hanya perasaan canggungnya sendiri.
Seorang pramuniaga segera menghampiri.
“Selamat pagi, Bu Ratna. Ada yang bisa kami bantu?”
Nampak jelas Ratna adalah pelanggan tetap di butik ini.
“Saya butuh beberapa setelan kerja untuk asisten pribadi saya,” jawab Ratna sambil menoleh ke arah Nayla. “Tolong siapkan beberapa pilihan sesuai ukuran tubuhnya. Sekalian sepatunya.”
Pramuniaga itu mengangguk, lalu bergegas mengambil beberapa potong pakaian dan sepatu. Sementara itu, Nayla berdiri kaku di belakang Ratna.
“Bu, ini rasanya terlalu mewah untuk saya,” ucapnya nyaris berbisik.
Ratna hanya tersenyum. “Kamu harus terbiasa. Mulai sekarang, penampilanmu bukan hanya tentang dirimu, tapi juga tentang saya.”
Tak lama, lima setelan formal, mulai dari blazer, blus, celana kain, hingga rok span, dibawa ke ruang ganti. Nayla mencoba satu per satu dengan kikuk. Di balik tirai, ia hampir tak percaya melihat pantulan dirinya di cermin. Rambut kuncir kudanya ia lepas, jatuh menutupi bahu. Blazer abu-abu yang membingkai tubuhnya memberi kesan dewasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Saat ia keluar dari ruang ganti, Ratna memperhatikannya lekat-lekat. Senyum tipis terbit di wajahnya. “Nah, ini baru calon asisten pribadi saya.”
Pipi Nayla memanas, setengah malu setengah bangga. Untuk pertama kalinya, ia melihat secuil bayangan dirinya yang berbeda. Lebih menarik, lebih dewasa, dan lebih percaya diri.
Setelah semua setelan kerja dicoba, Ratna mengangguk puas lalu berbalik lagi pada pramuniaga. “Siapkan semua yang sudah dia coba tadi, kecuali yang warna kuning. Tolong carikan juga beberapa gaun malam dan semi formal. Pastikan juga ada sepatu yang sesuai.”
Nayla nyaris protes, tapi tertahan oleh wibawa Ratna. Dalam hati ia hanya bisa berbisik, "Ya Allah… apa benar semua yang terjadi ini?"
Sambil menunggu Nayla mencoba gaun terakhir, pandangan Ratna menyapu ruangan hingga tertumbuk pada sebuah gaun biru muda sederhana di sisi etalase. Gaun itu memiliki potongan rapi dengan panjang selutut dan terbuat dari bahan lembut yang jatuh. Bukan gaun pesta mewah, tapi cukup memberi kesan bersih dan manis.
Ratna melangkah mendekat, jemarinya menyentuh gaun itu sejenak. Ada sesuatu dalam gaun itu yang entah mengapa terasa pas sekali untuk Nayla.
“Tolong ambilkan ukuran yang sesuai untuk gadis ini,” pintanya pada pramuniaga.
Tak lama, Nayla masuk kembali ke ruang ganti dengan gaun biru muda di tangan. Saat ia mengenakannya dan menatap cermin, pandangan matanya seketika berubah. Gaun itu tidak membuatnya tampak berlebihan, justru menonjolkan kesederhanaan yang indah. Ada sisi manis yang muncul, yang bahkan tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Perlahan, ia keluar dari balik tirai. Nayla berjalan sambil menunduk karena masih merasa gugup.
Ratna yang menunggu di kursi langsung menegakkan tubuh. Ada sesuatu yang terasa begitu familiar saat melihat gadis itu dalam balutan gaun sederhana. Sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya berbisik pelan, “Cantik sekali…”
Nayla mendongak, wajahnya memerah.
Ratna segera menyamarkan ekspresinya dengan senyum samar. “Pakai baju itu. Kita menuju tempat berikutnya.”
Nayla tertegun. “Bu… apa harus langsung dipakai sekarang?” tanyanya ragu, jemarinya menggenggam kain gaun itu erat.
Ratna tersenyum samar. “Ya. Saya ingin melihat hasil akhirnya. Anggap saja ini bagian dari orientasi kerja.”
Dengan hati-hati, Nayla kembali ke ruang ganti, memasukkan kemeja putih dan celana hitam ke dalam tas lusuhnya. Melihat itu, Ratna seperti teringat sesuatu. Ia pun berjalan ke bagian tas, menunjuk beberapa model yang sesuai dengan baju-baju tadi, lalu meminta pramuniaga membungkus semua pilihannya. Satu di antaranya langsung ia serahkan ke Nayla.
“Pakai ini. Simpan tas lamamu di dalam mobil saja.”
***
Sekitar dua puluh menit kemudian mobil Ratna berhenti di depan sebuah salon kecantikan bergengsi. Dinding kacanya menampilkan interior mewah, kursi-kursi dengan lampu sorot terang, serta para stylist berpenampilan trendi yang sibuk bekerja.
“Yuk,” ujar Ratna sambil melangkah terlebih dulu.
Nayla menelan ludah. Baginya, salon mewah hanyalah tempat yang kadang dilihatnya sepintas di jalan. Ia belum pernah sekalipun masuk ke salon semacam ini.
Begitu mereka masuk, seorang stylist menyambut dengan ramah. “Selamat siang, Bu Ratna. Apa kabar?”
“Baik,” jawab Ratna. “Saya ingin makeover untuk asisten pribadi saya.”
Nayla sontak menoleh kaget. “Bu…”
Ratna hanya memberi tatapan menenangkan. “Tenanglah. Saya sudah bilang penampilanmu harus sesuai standar saya.”
Tak lama, Nayla pun didudukkan di kursi besar dengan cermin tinggi di depannya. Rambut hitam panjangnya yang tadinya selalu dikuncir kuda kini dibiarkan terurai. Seorang stylist mulai menyisir rambutnya dan menilai potongan rambut yang sesuai.
“Rambutmu indah sekali,” komentar stylist itu sambil merapikan helaian rambut Nayla. “Kalau diberi sedikit layer dan di-blow, hasilnya akan segar. Tidak perlu berlebihan.”
Ratna mengangguk setuju. “Ya, jangan terlalu banyak diubah. Biarkan tetap terurai seperti ini, hanya dibuat lebih hidup agar ia terlihat anggun dan percaya diri.”
Nayla menggenggam ujung gaunnya. Setiap helai rambut yang jatuh ke lantai membuatnya sadar, ia benar-benar sedang berubah.
Setelah rambutnya selesai ditata, seorang make-up artist menghampiri Nayla dengan senyum hangat. "Halo, Sayang. Kita buat tampilan fresh saja ya, tidak perlu menor.”
Nayla hanya mengangguk. Selanjutnya, kuas demi kuas mulai menyapu wajahnya, memberi sentuhan ringan di pipi dan bibir. Perlahan, pantulan di cermin berubah. Wajah polos yang biasa ia lihat setiap pagi kini tampak berbeda. Lebih segar, lebih hidup, tapi tetap sederhana.
Meskipun sebelumnya orang-orang pernah mengatakan Nayla cantik, ia tak pernah percaya. Namun kali ini, Nayla sendiri merasakannya.
Ratna menatap dari kursinya dengan mata yang berkilat. Hatinya menghangat, seperti melihat bayangan masa lalu kembali hidup di hadapannya. Lebih nyata dari sebelumnya.
Begitu Nayla berdiri dari kursinya, Ratna tak bisa menahan diri untuk merengkuhnya dalam pelukan.
“Kamu sudah besar, Nak. Cantik sekali.” Ratna bergumam lirih sambil mengelus punggung Nayla.
Nayla terdiam. Bingung antara bahagia, malu, dan tidak percaya. Rasanya aneh sekaligus hangat. Seperti ia sedang diperlakukan bukan hanya sebagai calon karyawan, tapi sebagai seseorang yang berarti.
Baca bab selanjutnya >>
***
Catatan penulis:
Halo semua!
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 4 cerita ini.
Aku Untuk Kamu adalah novel online saya yang kedua. Novel ini tayang di KBM App, tapi sayangnya belum tamat, baru sampai Bab 35. Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel ini berbayar, ya. Jadi saya hanya akan mengunggah di blog ini sampai Bab 7 saja. Hehehe...
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Jadi penasaran dengan kecantikan Nayla. Memang benar ya kalau mau lebih kece kudu modal duit dulu wkwkw. Bossnya Nayla baik betul, jarang ada manusia yang peduli seperti ini.
BalasHapusNah benar kan kalau Nayla itu anaknya Ratna. Yg bikin penasaran sekali sekarang bagaimana kisah mereka antara ibu dan anak sampai terpisah. Apakah Nayla bakal terima kalau tahu Ratna yg baru dikenalnya itu sebenarnya adalah ibu kandungnya?
BalasHapusSaya kelewat lagi satu bab
Kemarin gak ikutan karena milih fokus ke anak yg pulang dari pondok
Tapi gak begitu loncat karena masih suasana Nayla yg dibawa Ratna dalam masa orientasi kerja ya
In the real life kayanya beruntung sekali punya bos yang baiknya luar biasa seperti Bu Ratna. Kayanya bakal betah mendedikasikan diri bekerja dengan tipe orang seperti itu.
BalasHapusTapi di sini Bu Ratna punya rahasia besar, ya, sepertinya. Ada udang di balik batu, ada alasan kenapa ia baik sekali dengan Nayla sebagai asisten barunya.
Ditunggu deh episode selanjutnya untuk mengungkap ada apa sebenarnya antara relasi Bu Ratna dan Nayla. Apakah sekedar bos dan asisten, atau ada yang lebih besar dari sekedar hubungan profesional pekerjaan?
Jangan-jangan Naila anaknya Bu Ratna, malah jadi penasaran dengan masa lalu Bu Ratna. Kalau misalnya Naila memang anankya, bagaimana ya responnya Naila pas tahu fakta yang sebenarnya? jadi tidak sabar menunggu kelanjutannya.
BalasHapusAku kok kepikiran. Apa jangan-jangan Nayla ini adalah anaknya Bu Ratna. Atau minimal ponakannya lah. Efek sering nonton drachin nih aku kayaknya.
BalasHapusAku langsung ngebayangin gambar2nya. Nayla sebelum dan sesudah makeover 😍😍. Ini mah kayak ketiban durian runtuh yaaaa. Udh lah jadi Aspri, trus disediakan semua baju, tas dan sepatu jugaaa 😄👍👍.
BalasHapusGa sabar baca kelanjutan cerita ini. Dan kenapa sampai terpisah antara Nayla dan bu Ratna
Akhirnya Nayla di make over dengan luar biasa, waaahh.
BalasHapusKeren nih Bu Ratna, paham apa yang dibutuhkan dan bisa untuk mendukung asisten pribadinya.
Jangan² Nayla ini adalah anak kandungnya Bu Ratna yang terpisah karena runah sakitnya kena banjir bandang, eh hihi
Wah, bab ini mulai bikin penasaran banget Dari awalnya Nayla yang minder dan merasa berada di dunia asing, perlahan mulai terlihat sisi dirinya yang berbeda setelah dibantu Ratna. Tapi yang paling bikin saya curiga justru reaksi Ratna saat melihat Nayla memakai gaun biru muda dan saat memeluknya sambil bilang, “Kamu sudah besar, Nak. Kayaknya ada sesuatu dari masa lalu yang menghubungkan mereka berdua. Jangan jangan Nayla bukan sekadar calon asisten pribadi ? Jadi makin penasaran sama bab berikutnya
BalasHapusOoowww.. perubahan karakter Nayla dari yang canggung sampai kelihatan makin berkarisma kerasa halus niiihhh.
BalasHapusSentuhan Bu Ratna ke Nayla di bab ini juga terasa emosional. Reaksi Nayla yang canggung tapi terharu juga dapet banget rasanya. Penasaran gimana nantinya kalau rahasia/hubungan sebenarnya di antara mereka berdua akhirnya terungkap :)
Nah kan. Bu Ratna ini emang ibu nya Nayla. Secara pantulan wajah dan tampilan Nayla setelah di makeover apalagi pas pakai gaun biru beneran dia banget.
BalasHapusKebayang sih, betapa kebingungan nya Nayla saat tiba-tiba di ajakin ke butik, borong baju bagus. Ekh lanjut ke salon juga. Bakalan glowing sekali nih Nayla.
akhirnya aku tau lanjutan dari part sebelumnya
BalasHapusaku ngebayangin kalau cerita ini dijadiin versi visual, sedih seneng campur aduk pastinya waktu melihat
aku membacanya aja kayak kebius sama perlakuan Ratna ke Nayla
Hmm apakah nayla ini sebenarnya anak bu Ratna? Penasaran nih gimana nanti kelanjutan ceritanya apalagi kemarin itu juga ada cerita versi Cowoknya
BalasHapusAndaikan gw jd Nayla, pasti bingung bgt tuh. Udh diterima kerja, jd asisten pribadi, dibeliin baju dan sepatu baru, makeover rambut, pokoknya jd seseorang yg baru (dr segi penampilan ya).
BalasHapusJd penasaran jg nih kalo divisualisasikan tuh spt apa. Dan sbnrnya Nayla itu siapanya bu Ratna. Kok sampe bu Ratna segitunya ama Nayla. Jgn2 dia anaknya lagi. Hehe. Tunggu episode selanjutnya deh.
Penasaran kisah ini nanti mau dibawa kemana. Pengen nyimak lanjutannya. Pengen deh sesekali jadi kaya nayla gitu yg dalam sekejap di dress up dan di make over hehehe
BalasHapusDari cerita ini, makin yakin kan, kalau cantik itu dari dana nya haha
BalasHapusNayla mungkin cantik, tapi kalau ditambah make-up dan dress well, kecantikannya makin paripurna ya
Hari ini judulnya adalah Nayla mendapatkan pengalaman menyenangkan luar biasa didandani abis abisan sama bu Ratna. Jadi sebenernya siapa sih bu Ratna ini? hehehe masiiih aja kepo,,,,hayuu ah lanjutkan cepet ceritanya hehehe. nayla jadi bikin pangling banyak orang deh pasti kalau didandani begini.
BalasHapusBu Ratna agak2 berlebihan dan kelihatan sekali excitednya yaaa. Penasaran nih conves-nya cepet apa kagak mengakui Nayla sebagai anaknya. Eh bener kan ya alurnya begini?
BalasHapusSementara Nayla juga dengan lugunya merasa dirinya beruntung :D
Nah aku menunggu2 kira2 nanti apakah kalau terungkap kebenarannya akan ada canggung2nya antara kedua tokoh ini? :D
Mba Achiiiii, daku makin penasaran sama kelanjutan ceritanya dehhhh jadinya setelah baca yang bab 4 ini. Alurnya ternyaya makin bikin penasaran wkwkwk, apalagi hubungan antar tokohnya mulai terasa lebih menarik. Suka cerita yang bikin penasaran sampai kepikiran setelah selesai baca. Semangat terus ya Mba Achi, terus lanjut nulis fiksi yang ciamik
BalasHapusKalau lihat judulnya serasa pengen nyanyi
BalasHapusAku untuk Kamu
Kamu untuk Aku
Namun semua apa Mungkin
Iman kita yang berbeda...
Hahaha... tapi ceritanya kali ini gak sama kayak lagu
ah jadi kepancing nulis juga rasanya
Kenapa aku menangis...
BalasHapusPertemuan yang indah.
Semoga Ratna dan Nayla ga terpisahkan lagii..
Penasaran dari POV Nayla..apakah ia langsung bisa menerima sang Ibu?
Wah, penasaran dengan masa lalu Ratna. Kok bisa Nayla jadi anaknya? Apakah kesalahan di masa lalu? Atau mungkin dulunya anak yang tak diinginkan? Lanjutkan Mbak. Ceritanya menarik.
BalasHapus