Novel Online: Aku untuk Kamu (Bab 3)


“Ya ampun… deg-degan banget,” gumam Nayla sambil berdiri di halaman restoran tempat ia akan menjalani wawancara.

Di hadapannya menjulang bangunan empat lantai bercat krem, dengan motif batik besar menghiasi fasad. Di sisi kanan atas, papan berwarna oranye bertuliskan Swargo Boemi berdiri gagah, menegaskan kemewahan tempat itu. Pilar-pilar putih menopang teras depan, sementara kaca-kaca lebar memperlihatkan sekilas interior hangat di dalamnya.

Nayla menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di dinding kaca. Kemeja putih sederhana yang dikenakannya tampak sedikit longgar, celana panjang hitam polos itu pun jauh dari kesan modis. Rambut hitamnya dikuncir kuda seadanya. Ia tahu penampilannya kalah jauh dibanding para pencari kerja lain yang mungkin tampil lebih rapi. Tak ada blazer, tak ada sepatu hak tinggi, bahkan tasnya hanya tas selempang lusuh yang sudah menemaninya sejak SMA.

“Bismillah,” bisiknya lirih, sebelum akhirnya melangkah melewati pintu kaca menuju dunia yang sama sekali baru baginya.

Setelah melewati resepsionis dan diarahkan ke lantai dua, Nayla tiba di depan sebuah ruangan dengan papan nama Human Resource Department terpasang rapi di dinding. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Di dalam, seorang perempuan berkerudung dengan wajah ramah menyambutnya.

“Selamat pagi, Mbak Nayla. Saya Rina, dari HRD yang kemarin menghubungi Mbak. Silakan duduk dulu.”

Nayla menuruti dengan gugup. Lututnya terasa kaku. Ia menyerahkan map berisi CV dan dokumen yang sudah ia siapkan semalam. Rina membuka lembar demi lembar, sesekali menatap Nayla dengan senyum tipis.

Sambil menunggu berkas diperiksa, pikiran Nayla melayang pada kejadian kemarin sore. Saat itu, ia sedang duduk di lantai rumah, menyetrika pakaian tetangga dengan setrika panas yang sudah berumur belasan tahun.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja kecil berdering. Nayla buru-buru meletakkan setrika, lalu meraih ponsel tanpa sempat melihat nama penelepon.

“Halo, selamat sore. Dengan Nayla Arimbi Bagaskara?” Suara seorang perempuan terdengar ramah di seberang.

Jantung Nayla langsung berdegup cepat. “Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?”

“Perkenalkan, saya Rina dari bagian HRD Swargo Boemi. Kami menerima lamaran kerja yang Anda kirim kemarin dan ingin mengundang Anda untuk wawancara langsung di kantor kami.”

Nayla terlonjak dan hampir menjatuhkan ponsel dari tangannya. “B-benar, Bu? Saya dapat panggilan wawancara?”

“Benar, Mbak Nayla. Wawancaranya dijadwalkan besok pagi pukul sembilan. Detail lokasi akan kami kirimkan via WhatsApp setelah telepon ini.”

Nayla menelan ludah, mencoba meredam gugup yang mendesak.

“Terima kasih banyak, Bu. Saya akan datang besok.”

Begitu telepon ditutup, Nayla langsung berlari menghampiri ibunya di dapur dan memeluk erat dari belakang. Senyum lega bercampur air mata menghiasi wajahnya.

“Bu… aku dipanggil wawancara. Dari restoran besar itu… Swargo Boemi.”

Lastri terdiam. Senyum yang sempat merekah langsung berganti dengan raut terkejut.

“Swargo Boemi?” bisiknya lirih, seolah tak percaya mendengar nama itu.

“Kenapa, Bu?” Nalya tampak bingung melihat perubahan ekspresi ibunya.

“Nggak apa-apa, Nak,” jawab Lastri cepat. Ia memaksakan senyum, meski hatinya masih menyimpan sisa keterkejutan. “Alhamdulillah, semoga ini jalan rezeki kamu. Ibu ikut senang.”

Nayla mengangguk, matanya menyala penuh harapan. Akhirnya ia merasa benar-benar memiliki peluang untuk hidup lebih baik.

Lamunan itu buyar saat Rina, sang HRD, selesai memeriksa berkasnya.

“Dokumennya sudah lengkap. Biasanya wawancara tahap awal dilakukan di sini, tapi…” Rina menutup map itu lalu berdiri. “Bu Ratna ingin bertemu langsung dengan Anda. Jadi, saya akan antar ke ruang beliau di lantai empat.”

Jantung Nayla seketika berdegup lebih kencang. “Bu Ratna itu siapa?”

“Ah iya, saya lupa memberitahu. Bu Ratna adalah Direktur Utama Swargo Boemi.”

“Direktur utama? Saya langsung wawancara dengan beliau?” Nayla menutup mulut dengan tangan, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Rina mengangguk, senyumnya menenangkan. “Iya. Anggap saja ini kesempatan langka. Yuk, ikut saya.”

Dengan langkah hati-hati, Nayla mengikuti Rina menaiki lift menuju lantai empat. Di sepanjang koridor, ia terus meremas telapak tangannya yang mulai dingin.

Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berpelitur dengan papan nama bertuliskan Ratna Paradwita – Direktur Utama.

“Tunggu sebentar ya,” ujar Rina sebelum mengetuk pintu.

“Silakan masuk.”

Rina membuka pintu dan memberi tahu Ratna bahwa Nayla sudah tiba.

“Suruh dia masuk,” perintah Ratna.

Rina memberi isyarat kepada Nayla untuk masuk. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Nayla mendorong pintu lebih lebar dan berjalan perlahan.

Begitu melihat sosok di dalam ruangan, nyali Nayla semakin menciut. Seorang perempuan berpenampilan elegan dengan rambut sebahu tertata rapi duduk di balik meja besar. Setelan jas krem muda membingkai tubuhnya, sorot matanya memancarkan wibawa yang tak terbantah.

Sekilas, mata Ratna membesar melihat sosok Nayla. Ada kilatan haru yang nyaris tak tertahan, seolah gadis itu begitu familiar baginya. Namun segera ia menahan diri, mengembalikan wajah profesional yang anggun.

“Silakan duduk, Nayla,” ucapnya tenang sambil memberi isyarat pada kursi di seberang meja.

“Te… terima kasih, Bu.” 

Nayla menunduk sopan lalu duduk. Gadis itu masih belum bisa mengusir rasa gugup.

Ratna meneliti berkas lamaran di mejanya. Namun matanya lebih sering melirik wajah polos gadis muda itu. Senyum tipis terukir samar di bibirnya.

“Saya sudah membaca lamaran kamu. Latar belakangmu memang tidak sepenuhnya sesuai dengan kualifikasi yang biasanya kami cari, tapi ada alasan lain yang membuat saya ingin bertemu langsung denganmu.”

Setelah itu, Ratna mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Untungnya, Nayla bisa menjawab semuanya dengan cukup percaya diri. Entah dari mana keberanian itu muncul, sebab sejak awal hanya kegugupan yang menguasainya.

Usai jawaban terakhir Nayla, Ratna mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung bolpoin di tangannya. Ekspresinya tenang, namun jelas terlihat ia sedang mempertimbangkan sesuatu.

Nayla menelan ludah. Jantungnya makin berpacu. Ia sudah bersiap jika sebentar lagi akan menerima penolakan halus.

Namun kalimat selanjutnya membuatnya nyaris tak percaya.

“Baik. Wawancara selesai. Mulai hari Senin, kamu akan saya pekerjakan. Bukan di bagian staf administrasi seperti yang mungkin kamu bayangkan, melainkan sebagai asisten pribadi saya.”

Nayla terperanjat. Matanya melebar, mulutnya sempat terbuka tanpa suara. “As… asisten pribadi?”

Ratna menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar. “Ya. Saya butuh seseorang yang cekatan dan bisa dipercaya. Saya melihat potensi itu dalam dirimu.”

Suasana hening beberapa detik. Nayla masih belum bisa memproses kenyataan yang begitu tiba-tiba. Ia bahkan sempat mencubit pelan pahanya di balik meja, memastikan bahwa ini bukan mimpi.

“Terima kasih, Bu. Sa... saya tidak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih banyak.” Suaranya bergetar namun penuh rasa syukur.

Ratna menatapnya lekat-lekat, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Nayla, saya suka ketulusanmu, tapi ada satu hal yang harus kamu perhatikan. Jika kamu menjadi asisten pribadi saya, penampilanmu juga akan mencerminkan saya. Kamu harus lebih rapi, lebih modis, sesuai standar yang saya tetapkan.”

Ucapan itu membuat pipi Nayla terasa panas. Ia refleks melirik kemeja putih sederhana dan celana hitam polos yang dikenakannya. Pasti dirinya tampak kontras di hadapan sosok elegan Ratna.

"Bagaimana bisa aku memenuhi standar itu? Untuk membeli baju baru saja, uangku tak ada," batin Nayla.

Ratna seakan bisa membaca kegelisahan itu dari sorot mata Nayla.

“Tenang saja. Untuk pertama kali, saya yang akan memberikan contohnya. Anggap ini investasi awal. Nanti setelahnya, kamu bisa belajar menyesuaikan.”

“Maksudnya bagaimana, Bu?”

Ratna berdiri, meraih tas tangannya dengan anggun. “Ikut saya. Kita akan keluar sebentar.”

Dengan langkah yang masih gugup, Nayla berjalan di samping Direktur Utama itu, meninggalkan ruang kerja megah dan melewati meja para sekretaris yang otomatis berdiri memberi hormat. Rasanya seperti melangkah ke dunia asing yang sama sekali berbeda dari hidupnya selama ini.

Begitu keluar dari lobi, Darma, sopir pribadi Ratna sudah menunggu untuk membukakan pintu sedan hitam mengilap yang terparkir rapi di depan. Dari sana Nayla baru menyadari bahwa pintu masuk kantor dan restoran ternyata berbeda. Tidak heran tadi ia sempat salah arah.

Ratna masuk mobil lebih dulu, lalu menoleh sekilas. “Ayo, naik. Mulai hari ini, kamu harus belajar mengikuti ritme saya.”

Dengan jantung berdegup kencang, Nayla pun melangkah masuk ke mobil sang calon bos, tanpa tahu ke mana mereka akan pergi. Ia sama sekali tak menyadari bahwa perubahan besar tengah menantinya.


<<< Baca bab sebelumnya

Baca bab selanjutnya >>


***

Catatan penulis:

Halo semua!

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 3 cerita ini.

Aku Untuk Kamu adalah novel online saya yang kedua. Novel ini tayang di KBM App, tapi sayangnya belum tamat, baru sampai Bab 35. Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel ini berbayar, ya. Jadi saya hanya akan mengunggah di blog ini sampai Bab 7 saja. Hehehe...

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Komentar

  1. Pantesan agak kurang nyambung, ternyata ini bagian tiga, saya belum. Baca bagian dua karena kemarin absen. Hihi...

    Nayla tidak akan semudah itu menjalani karir tinggi dan kehidupan yg lebih baik walaupun ditengarai ia keluarga sedarah Ratna
    Pasti akan ada halangan dan konflik ya? Nah itu yg gak sabar pengen diketahui nih
    Nunggu konflik muncul. Bagian berapa itu kira²? Hehe...

    BalasHapus
  2. Mbaa deg-degan mau wawancaranya nembus layar loh hehee. Alurnya bikin saya sebagai pembaca rasanya ada di kantor tempat Nayla wawancara. Saya juga jadi penasaran deh Bu Ratna ini kenapa ya tertarik sama Nayla? apakah ternyata dia sebenernya anak Bu Ratna? wkwkwk ngarang saya. Ditunggu bab-bab selanjutnya mba. Keren ceritanya.

    BalasHapus
  3. Baca cerita Nayla wawancara kerja auto keinget dulu waktu nyari kerja di ibukota. Dinamikanya luar biasa, sampai sempet ditipu segala :)

    Kenapa ibu Nayla seperti agak kaget mendengar Swargo Boemi? Kenapa ibu direktur sangat begitu yakin dengan Nayla untuk dijadikan personal asisten? Ah, sabar aja dulu kali, ya nunggu chapter 4 nya

    BalasHapus
  4. Keinget pas jaman-jaman sibuk nyari kerja dulu. Deg-deg annya sama pas ada kesempatan wawancara kerja. Mana penampilan kurang lebih kayak Nayla pula. Hehehe...

    Kayaknya, ada sesuatu antara ibunya Nayla dengan pemilik Swargo Boemi dah. Kagetnya ibunya mendengar nama itu jadi bukti.

    BalasHapus
  5. Seruuuuu, aku penasaran dengan bu Ratna ini 😄. Udh kebayang anak yg hilang sepertinya akan kembali kah 🤭😁.. tp itu tebakan aja.

    Kalau di dunia nyata, Nayla ini kayak ketiban durian runtuh yaa. Apply nya utk posisi apa, eh malah dpt posisi asisten pribadi direktur pula 😍😍

    BalasHapus
  6. Wih... langsung penasaran saya, Pasti ada kaiatan besar antara Nayla dengan rumah makan Swargo Boemi ini. Dan Ibunya Nayla tahu, tapi menyembunyikan sesuatu. soalnya sesuai logika, yang biasanya diterima yaitu pelamar sesuai spesifikasi. Ini langsung jadi asisten pribadi Direktur utama. ada sesuatu yang istimewa nih, dari Nayla bagi Bu Ratna.

    BalasHapus
  7. Dari awal udah ikut deg-degan bareng Nayla pas wawancara, huhu apalagi ternyata langsung diterima jadi asisten pribadi Bu Ratna. Tapi yang bikin penasaran justru reaksi Bu Ratna waktu pertama kali lihat Nayla. Kayaknya ada back story besar di balik hubungan mereka nih.. Penasaran banget Nayla bakal dibawa ke mana sama Bu Ratna apa yang bakalan terjadi habis inii. Ditunggu deh mbak part selanjutnya!

    BalasHapus
  8. Jadi penasaran kenapa Ibu Nayla terkejut ketika nama Swargo Boemi disebut. Mungkin ada kaitannya ya dengan perlakuan istimewa yang bakal ibu dirut kasih ke Nayla yang mendadak akan menjadikannya aspri.

    BalasHapus
  9. Ihiiyy, jadi keinget pas wawancara kerja sekian dekade silam!
    Samaaaa, deh degannya ama tokoh di cerita ini.
    Naylaaa, I feel you!
    Ini pasti makin seru nih ke depannyaaaa

    BalasHapus
  10. Waah Bu Ratna mengajarkan Nayla biar lebih modis dan pas nih sebagai aspri-nya. Kek apa ya nanti baju yang akan dicontohkan Bu Ratna?

    Kuy lanjutkan Kak.
    Biar horang-horang pada tahu bahwa aspri bisa loh tampil lebih elegan

    BalasHapus
  11. wih jadi penasaran nih gimana nayla jadi asisten pribadi bu Ratna dan bagaimana dia menyesuaikan diri dengan ritme bosnya itu

    BalasHapus
  12. Wawancara Nayla nih jadi bikin deg degan mbaakkkk...

    Aku kok merasa Bu Ratna ini kayak megang sesuatu dari masa lalu si Nayla ya. Entah apa itu, bikin penisirinn...

    Mikir banget jadinya, di saat yang bersamaan dengan kesulitan Nayla kedatangan Bu Ratna justru jadi bantuan banget... Bab depannya gimana ya... :D

    BalasHapus
  13. Romannya Bu Ratna sedang mempersiapkan Nayla yaaa. Secara kalau menurut kualifikasi nya Nayla nggak mumpuni untuk posisi tersebut. Makin kuat dugaan kalau Bu Ratna ini mama nya Nayla deh. Aku jadi berpikir yang lumayan jauh dari cerita ini. Ditunggu kelanjutannya nya.

    BalasHapus
  14. Bener2 lgsg diterima nih. Emg jalur ordal itu nyata gaes. Meski blm tahu bu Ratna itu siapanya Nayla. Di episode kmrn jg blm jelas nih meski udh di-spill dikit latar belakang bu Ratna ini.

    Tp msh blm ketahuan jelas identitas budaya Ratna. Smg Nayla aman2 ya dan bs kerja dgn baik di Swargo Boemi.

    BalasHapus
  15. Apa boleh saya menebak? Sepertinya Nayla itu anaknya Bu Ratna...tapi gimana ceritanya itu naah saya penasaran...hehe..
    Nayla rejekinya bagus banget..alhamdulillah langsung jadi sekretaris pribadi bu Direktud

    BalasHapus
  16. Waduh Nayla Kenapa masuk ke dalam mobil itu hati-hati walaupun sebagai calon bos Tapi sebaiknya jangan sembarangan entah apa yang akan terjadi di episode selanjutnya Semoga dia baik-baik saja karena hal ini akan merubah hidupnya dengan sangat significant

    BalasHapus
  17. Wah udah bab tiga aja nih
    Hmm kira kira Nayla may dibawa kemana ya. Agak gimana gitu, baru calon bos uda aja bepergian tanpa tahu tujuannya

    BalasHapus
  18. Ibu Ratna baik sekalii..
    Tapi gak ada kebaikan yang tanpa alasan yaa.. jadi penasaran sama alasan kenapa sang Ibu Dirut mempercayai Nayla sejak pertama bertemu. Apakah karena Nayla anaknya baik dan tulus?

    BalasHapus
  19. Weleh jadi makin penasaran nih hubungan dua ibu dan satu anak ini. Apalagi ibu angkatnya kyknya kenal bener sama nama resto/ perusahaan "ibu kandungnya" (eh bener nggak ini emak aslinya? haha).
    Nggak sabar menanti juga perubahan apa yang akan terjadi pada hidup Nayla nanti.
    Ini kyknya Nayla bener2 no clue sama keberadaan Ratna ya?
    Tapi semoga saja endingnya bagus yaa :D

    BalasHapus
  20. Hmmm di bab 3 ini mulai terasa kalau hubungan mereka semakin mencurigakan.. Ternyata Nayla adalaaaahh.. jenggg jenggg...Penasaran banget setelah ini mereka bakal mengambil keputusan seperti apa. Semakin seru buat diikuti nih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer