Novel Online: Aku untuk Kamu (Bab 1)


Pagi itu, matahari baru saja naik, menyinari perkampungan yang mulai ramai. Dari dapur sebuah rumah tua bergaya sederhana, aroma nasi kuning yang baru matang tercium.

Di teras kecil rumah itu, Lastri menata dagangannya di atas meja kayu yang sudah usang. Tangannya sedikit bergetar, bukan hanya karena lelah, tetapi juga karena keresahan yang terus menghantui.

Belum sempat ia membuka lapak, suara mesin mobil berhenti tepat di depan pagar. Dua pria turun dari dalamnya. Salah satunya bertubuh tambun, mengenakan kemeja lusuh yang terbuka di bagian dada. Satunya lagi berperawakan lebih kurus, bertato di lengan dengan sorot mata tajam yang menelisik. Tanpa permisi, keduanya melangkah masuk melewati pagar rumah.

“Bu Lastri!” suara pria tambun itu menggelegar, membuat beberapa tetangga yang lewat melirik ketakutan. “Hari ini jatuh tempo. Mana uangnya?”

Lastri terlonjak kaget, wajahnya seketika pucat. “S-sebentar, Pak. Saya ambil dulu uangnya,” ucapnya tergagap sebelum tubuh kecilnya bergegas menghilang di balik pintu depan.

Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah amplop lusuh di tangan. Dengan ragu, Lastri mengulurkannya. Amplop itu langsung disambar kasar oleh pria tambun tersebut.

“Cuma segini?” bentaknya, setelah melirik isi amplop.

“Pak… saya mohon, beri saya waktu. Saya benar-benar belum bisa melunasi semuanya. Uang kami hanya ada segini.”

“Waktu, waktu! Selalu itu alasanmu!” bentak pria bertato sambil menendang kursi plastik di dekat meja jualan hingga terpelanting. “Suamimu memang mati, tapi hutangnya tidak! Kalian yang harus segera melunasi hutang-hutangnya!”

Lastri mundur selangkah, tubuhnya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

Saat itulah Nayla keluar dari dalam rumah. Ia baru saja selesai mandi dan buru-buru ke depan karena mendengar keributan. Rambut panjangnya masih basah, wajahnya tegang, tapi tatapannya mantap. Ia segera meraih lengan ibunya yang gemetar, lalu berdiri tegak di depannya.

“Ibu, tenang saja. Biar aku yang bicara.”

Pria tambun itu mendengus. “Hah? Anak ingusan mau sok jagoan?”

“Jangan kasar sama Ibu saya. Kami memang berhutang, tapi bukan berarti kalian bisa memperlakukan kami seperti ini.”

Pria bertato menyeringai dan melangkah mendekat. “Kalau nggak bisa melunasi bulan depan, rumah ini akan kami ambil. Atau…” Ia berhenti, menatap Nayla dari ujung rambut sampai kaki. Senyum miringnya membuat bulu kuduk berdiri. “…ada cara lain.”

Lastri terisak. Tubuhnya mendadak lemas, tapi Nayla memeganginya erat.

“Kami akan bayar! Saya akan cari uang,” teriak Nayla kepada para penagih hutang itu.

Tawa keras pria tambun meledak.

“Kita lihat, gadis kecil. Satu bulan. Ingat itu! Kalau tidak, kalian berdua siap tidur di jalanan!”

Dengan tatapan penuh ancaman, mereka kembali menaiki mobil lalu pergi meninggalkan kediaman Lastri. Namun, sisa debu dan ketakutan masih menggantung di udara.

Begitu suara mobil benar-benar menghilang, Lastri jatuh terduduk sambil menutupi wajahnya dengan celemek. “Ya Allah, Nayla… apa yang harus kita lakukan?”

Nayla berjongkok di sampingnya, memeluk erat sang ibu. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, tapi suaran tetap tegar.

“Jangan takut, Bu. Aku akan cari jalan. Aku janji, kita tidak akan kalah.”

***

Sejak para penagih hutang itu datang, hari-hari Nayla terasa semakin gelap. Malam itu ia tak bisa tidur. Kata-kata ancaman tentang satu bulan waktu yang tersisa terus terngiang di kepalanya. Sesekali ia menoleh pada ibunya yang terlelap dengan wajah letih. Saat itulah Nayla berjanji dalam hati, ia tidak akan membiarkan rumah warisan milik ibunya jatuh ke tangan rentenir.

Sudah tiga bulan sejak kelulusannya dari SMA, dan selama itu pula hidupnya hanya diisi oleh satu hal: mencari pekerjaan. Bukan untuk mengisi waktu, melainkan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Semua ini salah Ayah,” gumam Nayla sambil terisak. “Seandainya Ayah tidak kecanduan alkohol, hidup kami mungkin tak seberat ini.”

Sejak lama, keadaan keluarga mereka memang tak pernah benar-benar baik. Almarhum ayahnya hanya bekerja serabutan di siang hari, sementara malamnya dihabiskan untuk mabuk-mabukan. Ibunya berjualan nasi kuning setiap pagi, lalu menjadi buruh cuci dari siang hingga sore. Hasilnya hanya cukup untuk makan, apalagi kini ditambah hutang menumpuk.

Karena itu, setelah lulus, Nayla berusaha melakukan apa saja demi meringankan beban ibunya. Ia membantu menjajakan nasi bungkus, serta menerima pekerjaan serabutan dari tetangga. Nayla juga melamar ke minimarket, toko baju, dan rumah makan cepat saji. Namun, tak satu pun panggilan datang. Penolakan demi penolakan membuat dadanya sesak.

“Kalau aku tidak segera dapat uang, bagaimana caranya bayar hutang?” Nayla masih terisak sambil menatap layar ponsel.

Ia membuka peramban, menggulir daftar lowongan, sampai akhirnya matanya berhenti pada iklan staf administrasi sebuah restoran terkenal. Letaknya strategis, selalu ramai, dan kabarnya gajinya lebih tinggi daripada minimarket dan toko baju.

“Ini kesempatan!” batinnya.

Dengan semangat bercampur gugup, ia mengetik surat lamaran melalui email. Meski syaratnya tertulis lulusan sarjana, tekadnya tetap bulat. Tidak ada salahnya mencoba peruntungan.

“Asal diberi kesempatan, aku pasti bisa.”

Setelah yakin tulisannya cukup baik, ia menekan tombol kirim.

Yes! Selesai juga.”

Nayla tersenyum lega. Seolah solusi masalahnya sedikit lebih dekat.

***

Pagi itu, di sebuah kantor bergaya modern dengan dinding kaca bening yang menghadap taman kecil di balkon, Ratna Paradwita duduk di balik meja kayu elegan berlapis finishing hitam mengilap. Asap tipis dari cangkir kopi porselen di samping laptopnya masih mengepul. Meski usianya telah menginjak lima puluh, wibawa sekaligus ketegasan tetap terpancar dari sorot matanya saat menekuri tumpukan berkas.

Seorang staf HRD baru saja keluar setelah melaporkan hasil seleksi kandidat staf administrasi restoran Swargo Boemi, usaha kuliner yang Ratna bangun sejak puluhan tahun lalu. Meski mempercayai timnya, ia tetap punya kebiasaan meneliti langsung lamaran yang masuk dari email perusahaan.

Kursor mouse-nya tiba-tiba berhenti pada sebuah nama yang terasa begitu familiar.

“Nayla Arimbi Bagaskara.” Nama itu menarik kembali potongan masa lalu.

Ia membaca lamaran itu berulang, dadanya berdebar tak menentu. Dengan cepat, ia meraih ponsel dan menghubungi sebuah nomor.

“Halo, Indah? Kamu masih ingat siapa nama lengkap anak yang diasuh Lastri dan Bagas?”

Jawaban singkat dari seberang membuat Ratna terdiam. Ia menarik napas dalam, matanya memantulkan campuran rasa tak percaya dan haru.

Begitu panggilan berakhir, ia segera menghubungi ruang HRD. Kepala HRD masuk dengan wajah bingung.

“Permisi, Bu. Ada yang perlu saya tindak lanjuti?”

Ratna mengangguk. “Untuk posisi staf administrasi, saya belum memutuskan. Tapi tolong panggil pelamar bernama Nayla Arimbi Bagaskara. Minta dia untuk wawancara besok, bukan untuk posisi administrasi, melainkan sebagai asisten pribadi saya.”

Kepala HRD itu sempat terperanjat, namun segera mengangguk dan bergegas keluar.

Sementara itu, Ratna masih duduk di kursinya. Jemarinya saling meremas di pangkuan, seolah berusaha menahan gelombang perasaan yang mungkin akan sulit ia kendalikan ketika akhirnya berhadapan langsung dengan gadis itu.


Baca bab selanjutnya >>


***

Catatan penulis:

Halo semua!

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Bab 1 cerita ini.

Aku Untuk Kamu adalah novel online saya yang kedua. Novel ini tayang di KBM App, tapi sayangnya belum tamat, baru sampai Bab 35. Bagi kalian yang ingin membaca lanjutannya, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Untuk novel ini berbayar, ya. Jadi saya hanya akan mengunggah di blog ini sampai Bab 7 saja. Hehehe...

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya



Komentar

  1. Aku tebak Nayla itu sebenarnya anak Ratna ya?

    Paling sebel pas ada kisah ngutang karena judi atau mabuk lalu piutangnya dibebankan ke istri atau ahli warisnya
    Pas baca cerita ini di tengah langsung merasa kesal saya, pas tahu utang yg harus dibayarkan Lastri ternyata karena ayahnya dulu yg suka mabuk pinjam sana sini
    Benar2 udah menguras emosi nih novel. Haha...

    BalasHapus
  2. Wah, ada apa ini kok ujug-ujug nayla dipanggil buat jadi aspri? Nampaknya banyak intrik dan cerita yang perlu dibongkar perlahan yaaa.

    Duh, jujur tapi ya mbak asri. Saya tuh sebel sama premis ceritanya. Amit-amit deh, semoga saya dijauhkan dari segala hutang piutang dalam hidup ini. Minimal, bisa ngasih legacy yang bagus ke anak, jangan sampe sebaliknya. Sudah meninggal pun masih banyak meninggalkan warisan hutang. Heuehueheu

    BalasHapus
  3. Kayakknya familiar sama potongan adegan begini. Tapi menarik. Anak SMA yang harus menanggung utang ayahnya, seorang pecandu alkohol.

    Utang oh utang.

    Semoga beruntung ya, Nay.

    BalasHapus
  4. Aku penasaran sama hubungan antara Nayla dan pemilik Restonya. Asli. Apa ya kira-kira alasan pemiliknya menjadikan asisten pribadi? apa karena ada kaitan sama masa lalu pemilik restonya ya. Hehehhe.. :D

    Tapi ya, aku tuh kesel banget kalau udah ada lintah darat cem bapak tambun begitu. Bisa nggak sih kalau nagihnya baik-baik gitu. Ke perempuan lho.. :(

    BalasHapus
  5. Aghhhhhhh ada cerita baruuuu 😍😍😍😍. Dan aku sukaaa ih, baru bab 1 aja udh penasaran gini. Nebak2 dulu deh, siapa Nayla bagi ibu Ratna...

    Baca di awal udh berasa nyeseknya, gimana serem kalau didatangi debtcoll. Blm lagi malu diliatin tetangga. Ternyata yg berhutang almarhum ayahnya yaaa. 😔. Udahlah meninggal, bukannya ninggalin warisan, malah ninggalin hutang 😢

    BalasHapus
  6. Kalau udah terjepit keadaan, InsyaAllah ada aja jalan keluarnya. Dan ini mulai untuk Nayla buat berupaya melunasi utang dengan langkah cari kerja.
    Cua entahlah itu tempat kerjanya bisa dipercaya atau nggak nih? Jadi makin penasaran dah

    BalasHapus
  7. Nyesek kalo punya sosok ayah kek gini.
    Tapi banyak terjadi yhaaa di kehidupan nyata.
    Semoga para Ayah sadar lahhh.
    karena kasian loh anak cucu keturunannya yg ketiban sampur.

    BalasHapus
  8. Gregetan banget sama kelakuan rentenirnya, tega-teganya nakut-nakutin Bu Lastri yang lagi usaha jujur. Salut sama karakter Nayla yang berani dan nggak patah semangat demi ibunya, meski bebannya berat banget pasca ditinggal almarhum ayahnya.
    Plot twist di akhir bikin makin penasaran! Kira-kira Bu Ratna punya hubungan masa lalu apa ya sama keluarga Nayla sampai langsung diangkat jadi asisten pribadi?

    BalasHapus
  9. wah menarik nih ceritanya. apakah ada hubungan antara Nayla dengan bu Ratna berkaitan dengan ibunya? Mbak keren banget dirimu punya banyak stok novel nih

    BalasHapus
  10. Waduh, apakah hubungan antara Nayla Arimbi Bagaskara dan Ratna? Pasti pembaca sekalian penasaran seperti saya? Apakah mereka sebenarnya ibu dan anak kandung yang terpisah lama? Ataukah mereka seperti Anjali dan anak Tina dalam film Kuch-kuch Hota Hai? Haduh makin jauh saja spekulasinya, hehe.

    BalasHapus
  11. Apakah Nayla adalah anaknya ibu Ratna? Kalau iya kenapa dititipkan? Ah kesimpulan yang terlalu dini...Hehe...penasaran saya....nama lengkap Arimbi bagus sekali yaaa.

    BalasHapus
  12. Base on cocoklogi, sepertinya Nayla ini anaknya Bu Ratna deh. Maybe dulu ia belum siap menjadi orangtua dan menitipkan Nayla ke ortu nya yang sekarang ini. Bener nggak? Hehehe nebak-nebak amat yaaak.

    Rentenir itu ngeri ya. Bahkan yang ngutang udah meninggal pun masih harus dilunasi. Mana cara nagihnya kasar dan seram.

    BalasHapus
  13. Wah ada hubungan apa nih bu Ratna ama bu Lastri? Sodara kandung? Atau sama mas Bagas? Jangan2.. Hehe

    Asisten pribadi loh ini. Meski lulusan anak SMA, smg bs diterima ya bu. Kasihan tuh bu Lastri kebeli rentenir. Bahaya tuh kalo rumah warisan diambil mereka.

    BalasHapus
  14. kurang panjang mbak, aku penasaran nih, ada apa sebenernya antara Ratna, Nayla, Lastri. Menarik ceritanya mbak
    ini udah kayak cerita drama-drama yang bikin penonton gak sabar buat liat episode berikutnya

    BalasHapus
  15. Jadi kenapa Nayla itu dipanggil untuk menjadi seorang aspri dan Apakah dia adalah anak dari Ratna ? Bakal ada intrik apa lagi nih dalam cerita ini ? ceritanya menarik dan bikin penasaran deh Semoga ada lanjutannya ya

    BalasHapus
  16. Duh, saya jadi menebak-nebak, jangan-jangan Nayla adalah anak orang yang memiliki arti penting dalam hidupnya Bu Ratna ya? Anak saudaranya, suaminya dengan istri yang lain sehingga Bu Ratna tidak bisa menerima kehadirannya? atu justru anaknya sendiri yang disembunyikan? Jujur penasaran dengan lanjutannya.

    BalasHapus
  17. Penasaran hubungan Ratna sama Nayla.
    Aku kadang percaya juga siih.. sama kebaikan orang tanpa sebuah alasan khusus. Just Allah yang menggerakkan hati orang tersebut.

    ((berusaha posthink)) hehehe~

    BalasHapus
  18. Waduh Kkaak, baru Bab 1 saja udah bikin penasaran banget 😆 Dari awal sudah dibuat geregetan sama rentenirnya, terus ditutup dengan kejutan Nayla malah dipanggil jadi asisten pribadi Bu Ratna. Ini pasti ada hubungan masa lalu yang belum dibongkar. Jadi ikut sibuk tebak-tebakan, sebenarnya Nayla ada apa sama Bu Ratna? 😂

    BalasHapus
  19. Namanya Nayla cakep banget.Sayangnya kudu jadi kebab generation nih yang nambal sulam uang ortunya :(
    Untung dia anak yang cukup berbakti sehingga juga mau mengambil alih tanggung jawab yaa.
    Weleh2 ternyata bukan anak kandung yaaa. Eh tapi dia tahu nggak kalau anak angkat?
    Jangan2 Bu Ratna ini masih family-nya? Bahkan emak kandungnya? *nebak.

    BalasHapus
  20. Baca sepenggal novel ini kok auto teringat ebberapa kisah tentang anak yang diasuh oleh orang lain karena alasan tertentu. Apakah Nayla juga mengalami kisah yang sama?
    btw ga tanggung jawab almarhum ayahnya meninggalkan luka dan utang yang jadi beban anak dan istrinya. semoga hepi ending ceritanya

    BalasHapus
  21. sepertinya dengan membaca kutipan novel ini menjadi pengingat akan pentingnya kemampuan finansial, agar tidak terjerat beban hutang yang tak berujung. jadi ironi tersendiri bagi sosok nayla yang diwarisi hutang oleh ayahnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer