Flash Fiction: Lagu Terakhir
Aku menatap lekat-lekat gadis yang menangis tersedu di hadapanku. Matanya sembap, hidungnya memerah. Tangannya tak henti menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya. Sudah tiga puluh menit kami duduk saling berhadapan seperti ini, tapi isaknya belum juga reda.
Aku menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam. Asapnya kutiupkan ke udara yang sejak tadi terasa begitu hampa. Dia menatapku, dengan tatapan tak sukanya yang biasa. Anehnya, asap rokok itu justru membuat tangisnya sedikit mereda.
"Sudah mulai tenang?" tanyaku, di sela isaknya yang kini tinggal sesekali.
"Maaf," ucapnya lirih. Hanya itu.
"Tak apa. Tapi jangan diulangi lagi, ya." Suaraku tetap tegas, meski tak lagi bernada tinggi. "Kamu tahu, aku tidak suka saat kamu berkata seperti itu. Seolah-olah meragukan ketulusanku."
Air matanya kembali menggenang. Cepat-cepat kuraih jemarinya, menggenggamnya erat.
"Sudah, jangan menangis lagi. Maafkan aku... mungkin aku terlalu terbawa emosi." Aku berusaha menenangkannya, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
"Maaf." Hanya itu lagi yang keluar dari mulutnya. Pelan, nyaris seperti bisikan.
Aku menghela napas, lalu mematikan rokok yang sejak tadi hanya kuhisap sekali. Kugapai ransel hitam di sampingku, membuka resletingnya perlahan. Dari dalamnya, aku mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Ini kado untukmu. Maaf, sepertinya aku belum bisa hadir di acaramu."
Kudorong kotak kecil yang sudah dibungkus rapi ke arahnya. Dia masih diam, menatap benda itu seolah tak yakin harus bagaimana. Jemarinya menyentuh permukaannya perlahan.
"Jangan dibuka di sini. Nanti saja, di rumah," kataku menambahkan.
Kuteguk habis kopi yang sudah sejak tadi dingin, lalu melirik jam dinding di kafe itu. Sudah pukul dua siang.
"Aku harus pergi sekarang. Keretaku berangkat jam empat sore ini."
Aku mulai merapikan barang-barangku, menyimpan kembali ransel dan menyampirkannya ke bahu.
"Jadi pergi ke Jogja?" Suaranya akhirnya terdengar, pelan tapi jelas. Untuk pertama kalinya sejak kami duduk di sini, gadis itu mengucapkan lebih dari satu kata.
"Iya. Aku sudah janji bertemu teman-teman di sana sebelum pulang ke rumah," jawabku sambil duduk memandangnya. Dia membalas tatapanku. Beberapa detik berlalu dalam hening dan kami hanya saling menatap.
Kusimpan baik-baik setiap detail wajahnya dalam ingatan. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatnya.
Cukup.
Aku berdiri dari kursi, menyampirkan ransel hitam ke bahu.
"Aku pergi dulu," pamitku pelan.
Dia ikut berdiri. Aku tak mampu menahan diri. Kupeluk dia sebentar. Singkat saja.
Aku tahu, kalau terlalu lama, mungkin aku tak akan sanggup melepaskannya. Bisa-bisa, aku menculiknya ke Jogja.
Aku melangkah meninggalkan kafe itu dengan langkah berat. Dia mengikutiku sampai ke luar, tanpa sepatah kata.
Tanpa menoleh, aku menghentikan angkot yang lewat dan segera masuk ke dalamnya.
Tak ada lambaian tangan. Tak ada ucapan perpisahan.
Begitu duduk, kuambil ponsel dari saku. Kucari sebuah video di YouTube berjudul Pulanglah Padanya dari Jikustik, lalu kukirimkan kepada gadis yang masih berdiri di depan kafe, menatap kepergianku.
Di bawahnya, kutuliskan sebuah pesan:
"Lagu terakhirku untukmu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu."
***
Aku masih berdiri di depan kafe itu. Angkot yang ditumpanginya kian menjauh, perlahan menghilang di antara lalu lintas siang yang riuh dan terik.
Tak ada pelukan yang tersisa, tak ada kata pamungkas seperti dalam drama-drama. Hanya perih yang menetap.
Kutarik napas dalam-dalam. Sisa aroma rokok yang sempat membuat mataku perih masih menggantung di udara. Aneh, meskipun aku benci kebiasaan itu, kali ini aku tak berkata apa-apa. Tak menegur. Tak merengut. Mungkin karena aku tahu, ini yang terakhir. Mungkin karena aku sadar, tak akan ada lagi momen seperti tadi.
Ponselku bergetar.
Satu pesan masuk.
Satu tautan YouTube.
Judul lagunya membuat dadaku berdesir: Pulanglah Padanya – Jikustik.
Jari-jariku gemetar saat menekan tombol play. Musik mengalun pelan. Suara penyanyi itu menyusup ke sela-sela hatiku yang retak. Dan di bawah video itu, kulihat satu kalimat darinya:
“Lagu terakhirku untukmu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu.”
Air mataku kembali mengalir. Tanpa suara. Tanpa isak. Hanya rasa kehilangan yang membanjiri seluruh tubuhku.
Aku duduk kembali di kursi yang tadi kami tempati. Kursi yang masih hangat oleh kehadirannya. Kupandangi kotak kecil di atas meja. Kotak kado dengan kertas bunga biru, warnanya seperti langit sore hari sebelum senja turun.
Tanganku ingin membuka, tapi kata-katanya menggema di telingaku: “Jangan dibuka di sini. Nanti saja, di rumah.”
Aku tak tahu kenapa aku menangis begitu lama tadi. Mungkin karena aku marah, bukan padanya, tapi pada diriku sendiri. Aku berkata sesuatu yang menyakiti hatinya. Aku mempertanyakan ketulusannya. Padahal jika ada yang paling tulus, maka itu adalah dia.
Dia pernah bilang, cinta yang sejati tak selalu harus memiliki. Aku tertawa waktu itu, mengira dia cuma mengutip film atau buku puisi. Kini, kalimat itu jadi nyata. Sakitnya nyata.
Aku menggenggam ponselku erat. Lagu itu terus mengalun, menyayat perasaan yang belum siap kehilangan. Bukan karena dia tak mencintaiku. Justru karena dia terlalu mencintaiku, hingga melepaskan menjadi bentuk terakhir dari pengorbanannya.
Aku tahu, setelah ini tak ada lagi pertemuan. Kami hanya akan menjadi kenangan yang diam-diam hidup di kepala masing-masing. Menjadi nama dalam daftar kontak yang perlahan tak pernah disentuh lagi.
Tapi aku tahu satu hal. Dia mencintaiku. Dan aku mencintainya.
Terlambat? Mungkin.
Tapi beberapa cinta memang lahir bukan untuk dimiliki. Hanya untuk dikenang.



Lagu bisa menjadi mementingkan dari perasaan, momen, dan semua yang harus dikenang. Bisa senang, apalagi sedih. Susah hilang memorinya kalau mendengar sebuah lagu yang akan terkenang sepanjang masa
BalasHapusAku teringat kenangan beberapa tahun silam. Aku mencintainya. Dia mencintaiku. Tapi, kami terpisah. Nggak bisa memiliki. Lalu, kami menjadi salah satu dari sekian kontak yang tersimpan di ponsel masing-masing.
BalasHapusCerita yang sama dari dua POV yang berbeda, di satu sisi Aku harus ikhlas untuk melepasnya dengan orang lain, di sisi yang lain Aku merasa berat karena sebuah perpisahan.
BalasHapusTapi hanya satu kata pertanyaan dari dua sisi itu: Kenapa?
semoga ada lanjutannya, hehe
Sudut pandang dua arahnya dapet banget, bikin emosi pembaca diaduk-aduk dari kedua sisi. Pilihan lagu Jikustik itu bener-bener pas, langsung auto-puter lagunya pas baca bagian akhir. Karakter cowoknya yang pura-pura tegar dan si cewek yang telanjur menyesal kerasa riil banget di dunia nyata.
BalasHapusPada galau deh semuanya hehehe
Ternyata 2 POV yaaa. Baguuuuuus mbaaa. Dan sedihnya berasa... Cinta ga kesampaian , hanya gara2 merasa kurang dicintai, merasa pasangan biasa aja, lalu akhirnya menerima cinta yg lain. Pada akhirnya nyesel ...banyak terjadi kan.🥲.
BalasHapusJujurnya, akupun pernah ngerasain, tp zaman pacaran pas SMU. So, ga terlalu dipikirin lah, namanya juga cinta monyet hihihi
Jadi kayak lagunya Bunga Terakhir nya Bebi Romeo atau Januari-nya mendiang Glenn Fredly yang sesuatu banget karena perpisahan kepada yang terkasih naik pelaminan huhu.
BalasHapusSebuah lagu tercipta bisa sebagai ungkapan perasaan hati ya.
Wah, ending-nya bikin aku berhenti beberapa detik sebelum lanjut scroll. Flash fiction memang pendek, tapi justru di situlah tantangannya, dan menurutku cerita ini berhasil menyampaikan emosi tanpa perlu banyak kata. Judul "Lagu Terakhir" juga terasa pas karena memberi kesan penutup yang pelan, tetapi tetap membekas. Aku suka ketika sebuah cerita membiarkan pembacanya mengisi ruang kosong dengan tafsir masing-masing. Tipal Open Ended.. :)
BalasHapuswaduh perpisahan yang lumayan menyakitkan ini karena masih sama-sama saling mencintai. Tapi ya namanya jodoh tidak ada yang tahu yaa
BalasHapusPantes agak bingung, weh ternyata ada 2 POV toooh. Keren-keren mbak, kepikiran lhoo dikau bikin begini :D
BalasHapusAku jujur ngerasa cukup relate, dengan cerita ini. malah, jadi keinget flashback pas masih zaman moeda doeloe, hihihi. Dulu pas berpisah dengan salah satu mantanku, ku juga ngasih dia beberapa hal yang pernah dikenang bersama.
Tapi kalo diinget-inget lagi sekarang mah, kok kayak kocak ya hahahahaha
Ketika jalan hidup mempertemukan namun bukan untuk selamanya hingga maut memisahkan. Memang hanya untuk bertemu dan bersama sesaat, tapi pada akhirnya jalan menentukan lain dan perpisahan pun terjadi. Meninggalkan hanya kenangan dalam benak.
BalasHapusciamik ini.💯🤏
BalasHapusyang jelas dengan point of view dua tokoh, menjadikan makin kompleks.
keren bangettt , produktif nge-fiksi ya mba, semangaattt
Saya penasaran dengan lagu Jikustik Pulanglah Padanya. Saya lupa lagu itu yang mana, Makanya saya langsung buka youtube. Benar.. lagu ini ga terlalu familier bagi saya dibandingkan lagu Maaf.
BalasHapusDan lagu ini pas sekali untuk cerita ini. Cinta memang tak selamanya harus memiliki. Jodoh pun sudah diatur. Pacaran lama dengan siapa, nikahnya sama siapa? makanya ada istilah menjaga jodoh heran hehehe. Tapi kadang kalau cinta sejati, pasti bersatu kembali, walau pernah jadi milik orang lain. Kayak Meisya Siregar-Baby Romeo. NIa Zulkarnean-Ari Sihasale atau Rifat Sungkar-Sisi Prissila.
Jadi ingat cinta monyetku dulu mbak. Aku sih tulus mencintai. Tp namanya bertepuk sebelah jidat, ya udh relakanlah. Mungkin seperti penggalan lagu itu, hanya untuk dikenang.
BalasHapusDan benar, aku sepakat dgn kalimat, cinta sejati tdk harus saling memiliki. Tapi bisa merelakan kebahagian dia dgn org lain yang mencintainya. Tsaaaaahhh.
aku baca belum separuhnya, udah mo mewek :D, baguss mbak, suka.
BalasHapusbaca komen temen-temen di atas, yang ternyata dari 2 POV, udah kayak skenario film film gitu.
bener juga sebenernya, cinta nggak harus memiliki, tapi kan sakit dan sedihh jadinya
Kalau jodoh ntar ketemu lagi, kalau nggak jodoh yawees haha.
BalasHapusLagian keknya keduanya kurang cucok, yang satu hobi merokok, satu lagi nggak suka bau asap rokok. Udah bener itu berpisah wkwk :D Soalnya seumur hidup sama orang dengan kebiasaan yang nggak cucok terlalu lama.
Nanti juga bahagia kok sama pasangan masing2 asal setelah nikah nggak saling ngepoin sosmed ajaaa *hueekss wkwk :D
sebuah adegan dengan melodramanya mengajarkan bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. tak semua yang dimiliki harus selalu membersamai
BalasHapusBagus kak penulisannya dari dua sudut pandang ya, yang disatukan sama benang merah lagunya Jikustik. Jadi penasaran kalo saling cinta, kenapa pisaaah? Tapi emang cinta nggak harus memiliki sih ya. Rumit, rumit... :)
BalasHapusEh yaa,,,,sedih banget ini ceritanya,,,,meskipun terasa menggantung karena banyak pertanyaan disana sini yang belum menjawab tuntas rasa penasaran saya akan cerita lengkapnya....kenapa dia nikahnya sama orang lain? emang dia digantung ? kenapa gak memperjuangkan cintanya agar dapat dimiliki? kenapa dan kenapa lainnya . Duuh harus ada kelanjutannya niih mbaak biar gak penasaran.
BalasHapusDefinisi level cinta tertinggi, mengikhlaskan. Karena memncintai memang tidak harus memiliki. Kadang-kadang dengan melepaskan cintra justru bisa tetap hidup dan terawat meskipun hanya dalam kenangan. Tapi jujur saya penasaran, dengan siapa si cewek menikah, jodoh dari keluarga ataukah memang mereka berdua ini sahabat yang saling memendam rasa.
BalasHapusAah, senang sekali bisa membaca kisah memilukan seperti inii..
BalasHapusAku yakin mostly dari kita tidak menikahi cinta pertama.. karena itu sesuatu yang amat jarang terjadi.
Seringkali..
Kita pun pernah mengalami hal serupa dan akhirnya bisa melupakannya.. baik dengan sengaja ataupun dengan usaha.
Tapii..
semoga pilihan-pilihan hidup itu gak salah yaa... Kita tlah memilih orang yang tepat dan memilih meninggalkan orang yang tepat pula.
Mungkin sebelum nikah dulu aku ngerasain juga sedihnya kedua tokoh ini. Tapi setelah nikah dan menjalani kehidupan rumah tangga lebih dari 10 tahun gini, jadi merasa hal seperti ini akan pelan-pelan menghilang dan perasaannya pun akan terlupa (bukan hilang, tapi terlupa). Apalagi kalau kehidupan pernikahan setelahnya bener2 bikin bahagia, jadi perasaan sedih dan campur aduk saat berpisah kayak gini, beberapa tahun kemudian juga akan luntur, hehe. (ih, kok kayak party pooper banget ya aku, padahal mestinya ceritanya mengharukan, karena ini tentang keikhlasan melepaskan yang dicintai, hya)
BalasHapus