Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Bab 5)
Malam ini, kamar kosku yang berukuran 4x6 meter terasa begitu sendu. Lagu "Bila Rasa Ini Rasamu" yang dinyanyikan oleh Kerispatih terus-menerus mengalun dari komputer di atas meja kerja di sudut ruangan, bergantian dengan "Separuh Jiwaku Pergi" yang dibawakan oleh Anang Hermansyah. Derasnya hujan di luar jendela semakin menambah kesan dramatis dalam ruangan ini.
Di sofa yang berada di depan televisi, Mas Bayu duduk diam menatap layar yang gelap. Kakinya terlipat di depan dada, dagunya bersandar di atas lutut. Ia sudah berada dalam posisi itu selama kurang lebih satu jam, usai menyalakan musik di komputerku sesaat setelah dia tiba.
Aku hanya bisa memandangi pucuk kepalanya sesekali dari tempat tidurku yang berada di belakang sofa. Dia belum banyak bicara, padahal aku sudah sangat penasaran. Satu-satunya jawaban yang kudapat saat menyambutnya tadi hanyalah, “Nanti dulu, ya.”
Akhirnya, aku memilih untuk bermain gim di ponsel, mencoba mengisi waktu sambil menunggu Mas Bayu merasa siap untuk bercerita.
"Bila rasaku ini rasamu...
Sanggupkah engkau menahan sakitnya, terkhianati cinta yang kau jaga...
Coba bayangkan kembali
Betapa hancurnya hati ini, kasih...
Semua telah terjadi."
Lirik lagu Kerispatih itu kembali melintas di telingaku. Entah untuk yang keberapa belas kalinya. Hanya dua lagu itu dan suara gim dari ponselku yang memecah keheningan malam yang dingin ini.
"Aku rindu Azka."
Tiba-tiba terdengar suara Mas Bayu di sela bunyi-bunyian yang bergema di dalam kamar. Aku pun bangun dari posisi berbaring dan duduk di atas kasur. Menunggu kalimat berikutnya. Namun sepuluh menit telah berlalu, dan tak ada satu kata pun yang menyusul dari bibirnya.
Azka adalah putra semata wayang Mas Bayu yang dibawa pergi oleh Stevani lima tahun lalu. Saat itu usianya baru tiga tahun. Entah di mana dia sekarang. Semoga saja dia juga berada di Bali bersama Stevani, agar Mas Bayu bisa segera bertemu dengannya. Walaupun kami tidak tahu apakah Azka masih akan mengingatnya, setidaknya sebuah pertemuan bisa mengobati sedikit saja rasa rindunya.
"Malam ini aku boleh tidur di sini?"
Akhirnya Mas Bayu bersuara kembali.
"Sejak kapan kamu tanya dulu kalau mau menginap?" Aku mencoba mengajaknya bercanda, namun dia tidak menanggapiku.
Dia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah komputer, dan mematikan lagu yang sedari tadi terus diputar berulang-ulang. Setelah itu, ia kembali ke sofa, menyalakan televisi, lalu merebahkan diri di sana dengan posisi selonjoran. Cukup mengejutkan dia tidak kram setelah duduk hampir tanpa bergerak selama lebih dari satu jam.
Aku pun kembali membaringkan tubuhku di tempat tidur, tetap sibuk dengan gim di ponsel.
"Aku merasa bodoh, selama bertahun-tahun terus mendengarkan dua lagu itu setiap kali teringat Stevani."
Mas Bayu akhirnya membuka pembicaraan. Tampaknya kondisinya sudah sedikit membaik. Aku segera duduk tegak di atas tempat tidur dan mematikan gimku. Inilah momen yang sedari tadi kutunggu-tunggu.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Selama ini aku berpikir, mungkin dia kabur bersama laki-laki lain dan meninggalkanku sendirian. Intinya, aku merasa dikhianati. Jadi dua lagu itu seperti menggambarkan isi hatiku."
Mas Bayu mencoba menjelaskan isi pikirannya.
"Jadi... dia tidak kabur dengan laki-laki lain? Lalu, ke mana dia?" tanyaku antusias. Jujur saja, aku pun sempat berpikir bahwa kemungkinan terbesar Stevani pergi adalah karena laki-laki lain.
"Inggris," jawab Mas Bayu singkat.
"Hah?" Aku cukup terkejut mendengar jawaban itu, tapi mendadak teringat cerita Ana tentang pertemuannya dengan Stevani di Eropa.
"Apa yang dia lakukan di sana?" lanjutku kemudian.
"Kuliah dan bekerja. Dia mendapatkan beasiswa S2 di London," jelas Mas Bayu dengan nada sedih.
"Kenapa harus pergi tanpa pamit seperti itu? Lalu Azka bagaimana?" tanyaku lagi. Semakin banyak pertanyaan berputar di kepalaku malam ini.
"Azka ikut dengannya ke Inggris. Katanya, kalau dia tak bisa mengajakku, setidaknya dia harus membawa Azka karena dia merasa tak akan sanggup hidup sendirian. Tapi nyatanya, hidup tanpa aku juga terasa sangat berat baginya, meskipun ada Azka di sisinya. Dia bercerita betapa setiap hari merindukanku."
Mas Bayu menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Kalau dipikir-pikir... sebenarnya semua ini salahku."
"Kenapa jadi salahmu?" tanyaku makin penasaran. Jawabannya terasa menggantung, tidak langsung menembak inti cerita.
Dari sudut pandangku, Stevani yang pergi membawa Azka, uang usaha, laptopku, juga motorku—dengan alasan apa pun—tetaplah salah. Logika praktisku berkata seperti itu.
"Stevani itu gadis yang cerdas. Lulus kuliah jurusan Manajemen Bisnis di usia 20 tahun dengan IPK sempurna. Selama SMA pun selalu jadi juara kelas," ujar Mas Bayu, bercerita dengan nada penuh kekaguman. Mungkin dia sedang mengingat kembali masa-masa saat jatuh cinta kepada gadis itu.
"Lalu?" tanyaku tak sabar.
"Aku seniornya di SMA dan di kampus. Sudah lama aku menaruh hati padanya, namun tak punya nyali untuk mendekatinya. Dia cantik dan pintar. Rasanya semua laki-laki mengincarnya. Walaupun ternyata sampai dia lulus kuliah tidak seorang pun berhasil mendapatkan hatinya."
Dia menghela nafas sekali lagi, lalu melanjutkan ceritanya, "Tapi jodoh tidak kemana. Orang tua kami yang masih kolot ternyata berteman, lalu mereka menjodohkan kami berdua. Dari sini kamu sudah tahu ceritanya kan?" Mas Bayu bertanya kepadaku.
Aku mengingat kembali cerita yang pernah disampaikan Mas Bayu maupun Stevani tentang bagaimana mereka bisa menikah—tentang perjodohan, persiapan pernikahan yang hanya berjalan selama satu bulan, dan cinta yang bersemi setelah pesta pernikahan.
Dulu, ketika awal mengenal Stevani, aku sering melihat sorot matanya yang penuh cinta tiap kali menatap Mas Bayu. Apalagi Mas Bayu sendiri, seperti mendapat durian runtuh bisa menikah dengan pujaan hatinya. Dua tahun aku bekerja bersama mereka, hari-hari terasa seperti drama bergenre romansa—manis, penuh kejutan, canda, dan tawa.
Tidak ada seorang pun yang menyangka Stevani akan kabur membawa uang usaha sekaligus Azka.
"Ya, aku ingat cerita itu. Dia menerimamu dengan 'syarat' karena tak ingin mengecewakan orang tuanya. Betul, kan?" ucapku, tiba-tiba teringat pada bagian dari kisah mereka yang selalu membuatku penasaran.
"Tapi kamu tidak pernah bilang apa sebenarnya syarat itu."
Dan malam ini, aku merasa akhirnya Mas Bayu akan menceritakannya.
***
Catatan penulis:
Halo! Salam kenal semua.
Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com
Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.
Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca BAB 5 ini sampai akhir.
Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.



Tuh kan Ceritanya membuat satu pertanyaan lagi sehingga kita jadi makin penasaran Mas Bayu mau cerita apa nih ayo lanjutkan lagi ceritanya dong. Kira-kira Mas Bayu bakalan membeberkan apa nih yang bikin hati jadi gonjang-ganjing di episode berikutnya
BalasHapusPotek banget baca bab ini Kak.. Mas Bayu pasti hancur banget ya ditinggal Stevani dan Azka. Apalagi dari awal udah kecintaan sama Stevani..Be strong Mas, aman aja, bisa tobat kok dia. Kalau gak pun perempuan di luar sana masih banyak.
BalasHapusJiahhhh, gantung lagi endingnya. Penasaraaaaaaaan, tapi ntr aja lah. Nunggu mbak Asri submit di bw jilid berikutnya, hahahahaha.
BalasHapusSeru juga ngikutin ceritanya nih mbak. Pelan-pelan pertanyaan pembaca mulai dijawab satu per satu, walaupun nggak secara langsung mbredel, tapi semuanya berjalan dinamis.
Aku malah mulai mikir si karakter Stevani ini nggak sejahat yang ditanam di awal cerita. Persiapan buat plot twist kah? ihihihi
Jujur agak emosi nih pas tahu Stevani ternyata ke Inggris utk sekolah lagi. Maksudnya, kenapa ga bilang aja sih 😅😅. Tp Krn masih ada yg belum jelas, ttg syarat yg dimaksud, jadi aku mau menyabar2kan diri dulu, utk tahu syaratnya apa. Sampai dia memilih kabur begitu aja. Padahal kalau alasannya lanjut sekolah, masa sih suami ga ngasih 😅.
BalasHapusEh tapi di kehidupan nyata pun, memang ada juga suami yg ga izinin istrinya sekolah lagi. Dengan alasan, untuk apa, toh sudah menikah... Sayangnya memang masih banyak laki2 yg kolot begitu
cukup menarik ceritanya, apalagi ketika mencermati tokoh bernama stevani dengan berbagai sudut pandang penokohan
BalasHapusLagu krispatih dulu pas SMA juga pernah kubuat jadi latar salah satu cerita di Mading sekolahku mbak. Emang ya lagu itu bikin galau polll.. hehee...
BalasHapusAki baca ini sama baca kisah yang kemarin mendadak kuesel pol, tuh alasan stevani apaan ya sampe begitunya ama si Bayu. Mana sampe bawa² anaknya juga lagi. Ahh, syarat apa yang kira² di ajukan ya... Penisirin lha jadinya.. 🥹🥹
puzzle nya sudah mulai tersusun, walau masih belum lengkap di episode ini, tapi setidaknya kita tahu kalau Stefani tidak selingkuh, tetapi melanjutkan studi nya ke luar negeri
BalasHapusNext bersabar dulu deh nungguin 'syarat, yang belum terkuak
Kamar kos, hujan deras, ditambah backsound lagu Kerispatih dan Anang—bener-bener kombinasi maut buat ngegalau. Bab ini sukses bikin penasaran setengah mati. Plot twist-nya dapet banget, ternyata Stevani ke Inggris buat kuliah S2, bukan kabur sama cowok lain. Tapi tetep aja, pergi bawa kabur uang, laptop, sampai motor itu bikin gemas!
BalasHapuskereeeen penulis nya bisa banget bangun ketegangan lewat obrolan santai yang mengalir gini yah
pengen tau kisah lanjutannya ni
BalasHapuspas baca ini, aku merasa kayak familiar, mungkin kisah ini juga pernah di alami oleh mereka diluaran sana, yang memilih mengambil beasiswa ke luar negeri, tapi kayaknya jarang aku tau kalau di masyarakat umum, ada yang membawa anaknya dan memilih menjauh dari suaminya.
kalaupun ada pasangan suami istri yang mana salah satunya harus kuiah di luar negeri, pasti ada omongan dulu sebelumnya. Relate nih sama kisah-kisah LDM
Oalah, saya tertinggal ya. Harus balik dulu ke bab pertama nih supaya tahu keseluruhan kisahnya antara Bayu dan keluarganya juga tokoh aku
BalasHapusBtw kenapa setelah diupload di KBM (berbayar) lalu dishare disini secara gratis?
Di KBM juga gratis kok , Teh.
HapusStev, kenapa kamu bawa uang orang lain? Coba deh, itu duitnya kita bagi-bagi, kan daku baca kisahmu berarti kecipratan dong hehe.
BalasHapusTapi itu beneran kan Mas Bayu mau cerita, ga bikin daku tambah penasaran kan? Soalnya pakai kata "akan" sih, jadinya bikin deg-degan
wah jadi makin penasaran nih apa ya syarat stevani mau biar mau dinikahi mas bayu. berarti ini mereka statusnya masih pasutri ya soalnya stevani pergi menghilang meninggalkan mas bayu
BalasHapusYa ampun. Ceritanya mirip kayak drachin yg baru aku tonton. Anak cerdas vs anak kalem. Eh dijodohin ortu. Tp msh blm jls nih alasan Stevani bawa kabur Azka. Beneran kuliah S2? Atau emg kecantol laki2 lain? Hehe.
BalasHapusTp ini mirip ama temanku yg meninggal sebulan lalu sih. Bininya kabur dgn laki2 lain. Bedanya, sang anak yg msh berumur 3 tahun tinggal ama bapaknya. Eh bapaknya kecelakaan, meninggal. Pas meninggal, bininya pun ga dtg. Ga dikabarin jg. Ga tahu posisinya jg sih. Skrg anaknya dirawat ama nenek dr keluarga bapaknya itu.
Smg Azka baik2 aja ya. Sabar ya mas Bayu. Aku tahu penderitaanmu yg kangen ama anak semata wayang itu. Umur segitu emg lagi lucu2nya.
Ya ampooonn, bila rasaku ini rasamuuuu, lagu jadul bangeeett hihihi :D Curiga nih nyetelnya pakai Winamp haha, masih inget gaak?
BalasHapusStevani nih napa deeehh, pergi meninggalkan suami, bawa anak, trus gongnya nilep uang usaha.
Apakah kalau dia sekolah ke LN Si Bayu-nya akan melarang atau gimana?
Jadi ini kenapa nih? Aku malah curiga kalau ada plot twist kalau Bayu tu redflag. Soalnya biasanyaaaa, biasanya nih ya, cewek nggak akan mengambil keputusan gitu kalau nggak karena muak banget haha. Tapi mbuh yaaa. jadi ini bakalan dijabarin nggak sih alesannya nanti? Atau dah the end? :D
Stevaniii, mau pamitan aja susah, gimana sih? Tapii sepertinya ada lagu lain yang cocok untuk Mas Bayu:
BalasHapusNdang balio Sriii (eh Stevani) - sorry random keingat lagu campursari ini.
Aku kok curiga Mas Bayu melarang Stevani buat kuliah lagi.
Wah, klo dari cerita ini, kok sepertinya tega banget ya stefani
BalasHapusMemisahkan anak dengan bapaknya, bawa kabur barang barang berharga pula
Tapi pasti punya alasan yang kuat ya
Penasaran, apa alasannya
Oalah jadi Stevani dan Bayu menikah karena di jodohkan toh. Tapi keduanya saling cinta kan?
BalasHapusOke, belum terungkap jelas kenapa Stevani ini kabur, meski tujuannya udah jelas buat lanjut S2 dan bekerja di Inggris.
Kenapa nggak bicara ke Bayu ya? Heran tapi yasudahlah ditunggu kelanjutannya walau agak janggal sih kelakukan Stevani ini.
Udah bab 5? Ih aku perlu baca dari bab 1nya niiihhhh.. Seru deh ceritanyaaaaaa.. langsung otw mampir ke bab 1nya deh iniii
BalasHapusAku jadi inget kasus influencer yang suaminya mokondo tea yaa..
BalasHapusTapi memang gak pernah tau mengapa seseorang begitu tega mengkhianati pasangan...
Ada banyak kisah dalam kehidupan yang semoga bisa dipetik pelajaran.
Stevani ooh.. Stevani...