Novel Online: Tak Ada Lagi Kita (Prolog)

Siang itu begitu terik, namun aku terus mengayuh sepedaku sekuat tenaga. Jalanan berdebu dan panas membakar kulit, tapi aku tak peduli. Yang ada di kepalaku hanya satu—aku harus menemuinya sebelum terlambat.

Begitu sampai, kulempar begitu saja sepeda bututku ke area parkir yang sepi. Nafasku memburu. Mataku langsung tertuju pada jam besar di depan stasiun.

"Masih ada dua puluh menit," gumamku lega.

Tanpa pikir panjang, aku bergegas ke loket dan membeli tiket masuk ke peron. Dari pengeras suara, terdengar panggilan bagi penumpang yang akan menaiki kereta tujuan Jakarta.

"Semoga belum berangkat," doaku dalam hati, seiring langkahku yang berubah menjadi lari kecil.

Aku berlari menyusuri peron, mataku menyapu gerbong demi gerbong. Akhirnya kutemukan kereta itu—siap berangkat, namun pintu-pintunya masih terbuka. Kereta belum sepenuhnya penuh. Bergegas aku naik, berlomba dengan para penumpang lain. Langkahku tergesa menapaki lorong hingga terhenti di depan satu kursi. Dia ada di sana.

Untung masih sempat,” batinku dengan dada berdebar.

“Danu!”

Wajah cantiknya tampak terkejut, mata bulatnya membelalak saat melihatku.

“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar.

Aku menatapnya dalam, lalu kata-kata itu lolos begitu saja.

"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau pergi?" Suaraku pecah. Tak bisa lagi kutahan semua yang mengendap—marah, sedih, kecewa, dan rindu. Semua bercampur menjadi satu.

Peluit panjang terdengar di luar. Tanda kereta akan bergerak.

Seorang wanita paruh baya di sebelahnya menyentuh lenganku pelan. “Nak Danu, kereta sudah mau berangkat.”

"Maafkan aku." Gadis itu berkata lirih. "Tapi aku harus pergi. Turunlah."

Aku menahan napas. “Lalu bagaimana dengan kita?” tanyaku, hampir putus asa.

Perlahan, ia bangkit. Tangannya menggenggam tanganku, dingin dan gemetar. Kami berjalan menuju pintu. Kereta mulai bergerak pelan.

“Tak ada lagi kita,” bisiknya sebelum mendorongku lembut keluar dari pintu.

Aku melompat turun dan berjalan menjauhi rel kereta. Kakiku sempat terkilir saat mendarat, tapi aku tak peduli. Aku hanya berdiri mematung, menatap kereta yang membawa gadis yang kucintai pergi.

Saat gerbongnya semakin menjauh, kulihat ia melongokkan kepala dari pintu kereta yang terbuka sambil berteriak.

“AKU SAYANG KAMU, DANU!”

Suara itu terdengar jelas, mengalahkan gemuruh roda kereta yang beradu dengan rel. Kata-kata yang seharusnya membuatku bahagia justru terasa seperti sebilah pisau yang menusuk perlahan di dadaku.

Kereta terus melaju, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di ujung rel. Menyisakan peron yang mendadak terasa lengang dan asing.

Aku masih berdiri di sana saat sayup-sayup sebuah lagu mengalun dari toko di sudut stasiun.


"Dan aku tahu, aku pasti merindukan

Semua hal bodoh yang pernah kita lakukan

Tersenyumlah, legakan aku

Yang merasa bersalah kepadamu..."


Suara penyanyinya terdengar lirih, seolah ikut merasakan perpisahan yang baru saja terjadi.


"Ini saatnya kita harus mengerti

Kereta ini kan membawamu pergi

Dan bila kau sampai di sana

Tak pernah ada lagi kita…"


Aku terdiam, mendengarkan hingga bait terakhirnya selesai. Entah kebetulan atau tidak, setiap liriknya terasa seperti menceritakan kisah kami.

Tiba-tiba aku ingin tertawa.

Aneh rasanya. Di saat seperti ini, justru lagu tentang perpisahan diputar begitu saja, seolah sengaja mengejekku. Seolah semesta ingin memastikan aku benar-benar mengerti bahwa dia telah pergi.

Akhirnya aku mengalami sendiri sebuah perpisahan yang tidak bisa dicegah, meski dua orang masih saling mencintai. 

Hari ini aku memang kehilangan dia, tapi jauh di dalam hati masih ada satu pertanyaan yang terus menggantung—apakah ini benar-benar perpisahan, atau hanya jeda sebelum kami bertemu lagi?


Baca bab berikutnya >>>


***


Catatan penulis:

Halo! Salam kenal semua.

Perkenalkan, saya Asri M. Lestari. Blog ini saya buat khusus sebagai rumah bagi karya-karya fiksi saya, sementara blog utama saya bisa dikunjungi di www.asrilestari.com

Tak Ada Lagi Kita adalah novel online yang pertama saya selesaikan. Saat ini, novel ini tayang di KBM App dan sudah tamat. Rencananya, novel ini akan saya unggah di blog ini secara bertahap, satu bab setiap minggu pada hari senin. Bagi kalian yang tidak sabar ingin membaca sampai selesai, kalian bisa langsung membacanya di link ini. Tenang saja, novel ini tidak berbayar kok.

Terima kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca bagian PROLOG ini sampai akhir.

Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, kritik, atau saran. Dukungan dari kalian akan sangat berarti dan membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkarya.

Komentar

  1. wah ini mah harus lanjut baca ke bab - bab berikutnya nih, bikin penasaran tapi ga mau spoiler ah, baca pelan - pelan aja biar menghayati
    Btw emang ya kalo semesta mendukung kalo lagi sedihpun tiba - tiba lagunya jadi ikut sedih, in real life suka gitu juga jadi kayak relate

    BalasHapus
  2. Dalam hidup ini ada pertemuan, ada perpisahan. Dan kalau sudah takdirnya berpisah, kiat tak mungkin menghindarinya. Namun ada berpisah untuk bertemu lagi atau berpisah selamanya. Siapa sebenarnya nama asli Danu ya? Jaramg ada cewek panggilannga Danu hehehe.

    BalasHapus
  3. Judulnya Tak Ada lagi Kita. Apakah ini sebuah pertanda bahwa akhir kisah novel ini adalah sebuah perpisahan. Pasti Danu yang bikin ceweknya sedih dan memutuskan untuk pergi.

    BalasHapus
  4. Wha, baru prolog udah dikasih adegan perpisahan. Langsung nebak-nebak nih saya, kira-kira plotnya mau dibawa kemana ya? hihihi. Apakah si karakter utama bakal move on? Atau justru sebaliknya, gagal move on dan terus rindu menahun?
    Anyway, aku terinspirasi darimu lho mbak. Kayaknya once aku pun pengen bikin area untuk karya sastraku di wadah seperti ini. kebetulan memang, menulis novel adalah salah satu impianku sampai saat ini. Moga saja nanti bisa tercapai ya, amiiiin

    Beli seblak di warung mpok tata
    deket pasaraya, bayarnya pake qris
    Semoga kelak impian jadi nyata
    Novel mahakarya, ada di rak terlaris

    BalasHapus
  5. wah, pembukaannya saja sudah bikin penasaran karena dimulai dari adegan perpisahan. Ada apa di antara mereka berdua yang berujung terjadinya perpisahan tersebut? Mengapa tidak diikuti saja hingga ke Jakarta? Mengapa menyerah ketika ceweknya memutuskan pergi? Kudu nih diikuti ceritanya biar bisa tahu penyebabnya.

    BalasHapus
  6. pembukaan atau prolognya bagus, diawali dengan perpisahan, tapi bikin aku penasaran sama awal mula si danu memilih untuk menjauh.
    mereka saling sayang, saling cinta, tapi arghh kenapa harus berpisah.
    semoga lanjutannya ada manis-manisnya :D

    BalasHapus
  7. Saya suka sekali dengan pembukaan atau prolognya karena beneran menguras perasaan apalagi membuat kita semakin penasaran dengan kisah Danu Apakah kisahnya akan terus atau selesai walaupun saling cinta kadang tidak bisa diteruskan karena situasi dan kondisi

    BalasHapus
  8. Ahaaaaiiii membacanya langsung terbawa suasana... jadi sangat emosional, apalagi waktu ngebaca kalimat "Tak ada lagi kita" yang dibisikkan tepat sebelum kereta berangkat. Rasanya campur aduk antara sedih dan geregetan.
    Ditambah lagi ada selipan lirik lagu yang pas banget dengan suasananya, sukses bikin saya ikut merasa "hampa" di peron stasiun.
    Apa harus ngebaca di peron juga biar makin medalami semakin dalam? ditunggu BAB selanjutnya ya kak

    BalasHapus
  9. Kalau rejekinya telah usai, maka ya itu perpisahan dengan Danu.
    Namun kalau masih ada rejekinya, bisa jadi itu hanya jeda untuk mendewasakan masing-masing, agar saat berjumpa lagi sudah dalam keadaan sama-sama siap. Ciee, melankolis banget ya, Kak, si Fenni Bungsu ini hehe

    BalasHapus
  10. wah keren mbak Asri, selamat atas kelahiran novel onlinenya. Salut bisa menyelesaikan novel yang menurutku sebuah perjalanan panjang ibarat lari maraton ini

    BalasHapus
  11. wih mantap, mbak. bagiku bisa menyelesaikan novel adalah salah satu resolusi yang sampai sekarang belum terwujud. ini ceritanya masih prolog ya jadi belum ada bayangan nih nanti bakal seperti apa ceritanya

    BalasHapus
  12. Baca prolog-nya saya sudah penasaran mau baca BAB I
    Auh auh gimana nih Danu
    Makin penasaran banget kira kira nanti ending-nya nih novel
    Bakalan seru nungguin tiap Selasa atau Jumat

    BalasHapus
  13. jadi ingat KBM lagi setelah sekian lama gk mampir kesana. ternyata masih aktif banget ya dulu juga suka mampir waktu era kuliah sekarang sampai lupa kalalu gk diingatin dari mbak.

    BalasHapus
  14. Ga ada prolog, langsung to the point ini mah. Hehe. Syg kok lgsg sedih sih lihat ceritanya. Mana lirik lagunya jg mendukung lagi. Jadi inget kisahku dulu saat pertama kali merantau ke Jakarta. Dan denger lagu Sang Dewi. Rasanya pengen nangis. Eh cerita di sini jg pgn nangis ketika berpisah dgn kekasih. Huhuhu.

    BalasHapus
  15. Perpisahan begini bikin penyesalan yang berkepanjangan yaah..
    Terlalu banyak "andaikan" yang dirajut di otak sehingga ingin rasanya memutar waktu kembali.
    ...tapi di kisah ini, aku salut karena cewenya ga gengsian buat menyatakan perasaannya terlebih dahulu.

    BalasHapus
  16. Prolog nya aja udah keren banget ini sih. Ikut teraduk-aduk emosi ku. Keren sekali penggambaran dua orang yang saling mencintai meski harus berpisah.

    Aku kira mereka akan berpisah sementara alias semacam jeda. Mungkin nanti di lain waktu akan ketemu lagi dan bersama?
    Itu tebakan ku saja sih. Mana tau benar ya.

    BalasHapus
  17. Wah jarang lho novel diunggah di blog.. nggak teasernya saja biar pada ngintip ke platform nya? ceritanya bikin penasaran nih... keep up the great work ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini novelnya di platform jg free kok. Tapi kayanya nggak sampai ending jg diuploadnya...

      Kl yang berbayar nggak boleh. Cuma boleh sampai Bab 7 hehehe...

      Hapus
  18. Yeay, bisa baca karya fiksi mbak Aci di sini. Asyik. Siapa tahu, kalau serin
    g baca tulisan fiksi, bisa mengasah kepekaanku dalam menulis fiksi. Hal yang selalu aku hindari, haha

    Nggak sabar baca kelanjutannya

    BalasHapus
  19. Wah wah keren mbak ternyata menulis di KBM juga, udah tamat pula ya. Nggak berminat menulis sambungannya lagi mbak? hehe :D
    Baru tahu ternyata KBM juga ada yang nggak berbayar, kirain semua berbayar gitu. Penasaran kenapa kok dibikin nggak berbayar? :D
    Btw sial perpisahan ini akan jadi endingnya atau gimana mbak? Eh tapi miga nggak yaa haha. Soalnya suka seru aja kalau baca kisah2 perpisahan, endingnya kalau jodoh ya pasti ketemu juga :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer