Flash Fiction: Lagu Terakhir
Aku menatap lekat-lekat gadis yang menangis tersedu di hadapanku. Matanya sembap, hidungnya memerah. Tangannya tak henti menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya. Sudah tiga puluh menit kami duduk saling berhadapan seperti ini, tapi isaknya belum juga reda. Aku menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam. Asapnya kutiupkan ke udara yang sejak tadi terasa begitu hampa. Dia menatapku, dengan tatapan tak sukanya yang biasa. Anehnya, asap rokok itu justru membuat tangisnya sedikit mereda. "Sudah mulai tenang?" tanyaku, di sela isaknya yang kini tinggal sesekali. "Maaf," ucapnya lirih. Hanya itu. "Tak apa. Tapi jangan diulangi lagi, ya." Suaraku tetap tegas, meski tak lagi bernada tinggi. "Kamu tahu, aku tidak suka saat kamu berkata seperti itu. Seolah-olah meragukan ketulusanku." Air matanya kembali menggenang. Cepat-cepat kuraih jemarinya, menggenggamnya erat. "Sudah, jangan menangis lagi. Maafkan aku... mungkin aku terlalu terba...







